Dona Hanggarti. Wanita cantik, pintar, cerdas, seksi dan modis. Sempurna paripurna. Rambut panjang badai selalu memukau para pejantan yang melihatnya.
"Don lo tau? Pak Reza kan mengundurkan diri" ucap Lodi. Pria yang sedang jalan dengan Dona.
"Kata siapa lo?" Dona melebarkan matanya. Junjungannya mengundurkan diri. Bagaimana dia tak tahu. Dona mengambil ponselnya lalu mendial nomor sumber terpercaya.
"Ti, bener pak Reza mengundurkan diri?" Anti hanya menjawab dengan deheman.
"Anjir ngapa lu gak ngasih tahu gue! Kampret, belum dikasih sun perpisahan eug"
"Sudah siap Ente dihabek baginda ratu rupanya?" Dona tertawa terpingkal. Jelas Pak Reza Budiawan adalah Bapaknya Anti, Jayanti Budiawan, sahabatnya.
"Diganti siapa? Lau? Terus butik lo, gimana?"
"Bukan gue bege, adik bontot ane, si Abang" Dona hanya mengangguk, wajahnya menjadi kecut, saat Anti menyebutkan adik bungsunya itu.
*****
"Eh Don entar malem party kita, weekend ini, Twone kuy" ajak Tari yang random.
"Oke" Dona mengiyakan memang ia tak ada acara. Daripada bengong di apartnya. Tari adalah asistennya. Dona sangat suka kerja Tari. Ia sangat cekatan. Walau kadang seperti ini tak sopan-sopannya sama atasan.
*****
Dona berada di tengah kumpulan orang yang asik menari. Musik menggelegar, suasana riuh. Dona mengangkat gelasnya. Ia agak mabuk sepertinya. Dona meliukkan tubuhnya.
"Sendiri" seorang pria mendekati nya. Sangat dekat hingga menempel padanya. Dona tidak suka. Ia menyibak rambutnya lalu berjalan ke arah bar.
Ternyata pria itu mengikuti Dona. "Hai cantik boleh kenalan?" ucap pria tadi, sama seperti nya yang juga mabuk. Dona cuek. Ia terus minum. Pria itu ikut duduk di dekat Dona.
"Ayo dong, jangan jual mahal lah" kata pria itu sambil tangannya meraba paha Dona yang terbuka.
Benar. Pria itu mendapat semua perhatian Dona. Tak ada penolakan dari Dona, pria itu semakin berani.
Dona menengak habis minumannya. Dan bersiap ingin mematahkan tangan pria yang berani menyentuhnya itu.
"AARK" Pekiknya. Tangan pria itu sudah dipelintir. Oleh orang lain. Mata tajam hitam bertemu dengan mata Dona. Wajah keras juga dingin itu menatapnya nyalang. Sudut bibir Dona terangkat.
"Abang Jago udah pulang?" Dona menubruk kan tubuhnya pada pria yang sedang membanting pria yang melecehkannya ke lantai.
Pria yang meraba Dona mengerang keras, kesakitan. Ia bangun dan belum sempat menyerang, pria itu sudah di seret keluar dari klub oleh dua algojo penjaga pintu klub.
"Bang Jagonya Dona" Dona yang mabuk mengeratkan tangannya pada punggung pria itu. Si pria hanya menatapnya datar. Dona melepaskan pelukannya.
Ia menangkup wajah pria itu. Dona terkekeh. Memainkan pipi pria itu dengan tertawa kesenangan. Lalu memandangnya lama. Brondongnya ini makin dewasa saja.
Dona menghela nafas, ia menyandarkan kepalanya pada dada pria yang sedari tadi hanya diam itu.
Kepala Dona menjauh. Tersenyum, tangannya terjulur, meraba wajah pria itu.
Menyentuh mata tertutup pria itu. Meraba pipinya dan menusuk-nusuk pipi pria itu. Dan tertawa kencang. Lalu menunduk. Dona sedikit terhuyung.
"Ayo pulang!" Suara tegas juga berat terdengar. Dona hanya menggeleng.
"Nggak" tolaknya.
"Aku mau disini" Dona merengek. Karena si pria menyeretnya. Tapi keadaan Dona yang mabuk, agak susah berjalan, akhirnya Dona digendong ala karung beras.
"Ih turunin! Aku masih mau disini." Rontanya pada gendongan pria itu. Hingga mereka sampai di parkiran.
Pria itu memencet kunci mobilnya. Dan memasukkan Dona pada mobilnya. Lalu ia bergegas duduk di kursi kemudinya.
"Dimana alamat mu?" Sudah berkali pria itu bertanya namun sia-sia. Harusnya ia tak terlibat dengan wanita mabuk ini, harusnya ia ikut temannya saja yang mengadakan pesta penyambutan untuknya.
"Di hatimuu" Dona duduk miring menghadapnya.
"Duduk yang bener!" Perintahnya. Yang Diperintah malah cengengesan tak jelas. Dona masih duduk miring ia ingin mendekati pria itu. Tapi sabuk pengaman menghalanginya.
Ia mencari pembukaannya. Pria itu meliriknya.
"Jangan dilepas!" pekiknya Keras. Kedua tangan Dona terangkat. Seperti penjahat yang ketahuan, untuk sesaat suasana sunyi.
Dona melirik dengan wajah jenaka. Pria itu menatap jalanan di depannya.
"Jangan coba-coba beran—"
Klik!
"Ugh…" Dona menubruknya lagi dengan pelukan, mobilnya sempat oleng, untung jalanan kosong. Dona yang tak sadar hanya tertawa kencang. Tak Lama mereka sampai di sebuah parkiran.
Pria itu membawanya ke apartemennya. Ia membanting tubuh Dona yang sudah lelap ke kasurnya. Pria itu juga membantingkan dirinya ke sebelah Dona. Melelahkan.
Dona terduduk. Pria di sebelah nya itu mengerang.
"Apa lagi?" Tanya nya frustasi, Saat Dona sudah terkekeh duduk di atas tubuhnya.
"Kau… dilarang minum lagi!" Pria itu terduduk, posisinya sekarang Dona ada di pangkuan pria itu. Dona menatap pria itu lalu menangkup wajah pria pasrah di depannya. Tangan besar pria itu ada di pinggang Dona, memeganginya agar tak terjatuh.
"Kamu jahat…" lirih Dona tepat didepan wajah pria yang juga terkejut oleh aksi Dona itu.
"Kamu pergi gitu aja!" Isakan mulai terdengar
"Setelah kamu nolak aku, kenapa kamu yang pergi, harusnya aku yang menghilang"
"Maaf gara-gara aku nembak kamu, kamu jadi jauhin keluargamu" Air matanya jatuh.
"Kamu tahu mama Tara selalu curhatin kamu ke aku, kenapa kamu yang gak mau pulang, apa kamu tahu seberapa bersalahnya aku sama mama mu"
Dona memukul-mukul dada pria itu. Kemudian berhenti. Ia menunduk menempelkan kepalanya pada dagu si pria yang sedari tadi diam.
Tatapan si pria meredup. Ada penyesalan juga kesedihan disana.
"Maaf seharusnya aku tak menyatakan perasaan menjijikan ini" Dona berucap, lelaki itu menatap Dona lurus pada wajahnya yang bukan seperti Donanya.
Ia melihat Dona yang rendah diri. Kemana Dona yang mengejarnya dengan tak tahu malu dulu? Apa penolakannya membuat Donanya seperti ini?
"Semua salahku! karna aku tua? karena aku teman kakakmu? aku bentar lagi keriput, tak tahu diri, kamu jijikkan wanita tua menyukaimu?" Pria itu mengepalkan tangannya. Kencang. Menahan rasa nya.
"Ah… bukan hanya suka tapi aku cinta mati sama kamu, kamu tahu itu" lirih Dona.
"Aku bucinin kamu" Dona menunduk, kembali air matanya menetes, Dona berusaha berdiri dari pangkuan pria itu.
"Aku cinta ka—" Pria itu menarik wajah Dona dan melumat bibir yang sedari tadi meracau tak karuan itu. Mencurahkan perasaannya.
Dona membuka aibnya, rasa rendah diri adalah aib yang selama ini ia tutupi dengan baik di depan orang-orang. Dan kini, semua meledak, saat orang yang selama ini mengikat hatinya muncul di depannya.
Lumatan panjang berakhir dengan dahi keduanya menyatu. Dona menatapnya sayu, lalu ia mendorong pria itu menjauh. Ia melompat dari pangkuan pria itu lalu berlari ke toilet. Memuntahkan semua cairan yang ia tenggak di klub tadi.
"Pusiiing palanyaaaa…" Manjanya pengaruh mabuknya Dona menangis lagi.
Dengan sabar pria itu mengurus Dona yang muntah-muntah. Lemas dan tertidur. Pria itu menatap lembut Dona. Ia menarik Dona dalam pelukannya ikut tertidur.
*****
Dona bangun lalu mendudukan diri. Matanya masih terpejam. Rambutnya awut-awutan. Juga wajah yang bisa dikatakan tidak enak dipandang. Maskara nya walaupun waterproof tetap saja bekas air matanya membuat berantakan.
Ia mengeliat, merenggangkan ototnya. "Ssshh…" pusing menderannya.
"Ini minum" Dona menyipit mengambil aspirin lalu meminum.
"Masih Pusing?" Tangan besar membelai rambutnya yang seperti singa. Dona mengangguk, lalu menyemburkan sisa airnya ketika sadar dengan keadaan. Matanya melebar. Melihat pria didepannya.
"Jago"
Yes. Kenalkan, Adiknya sahabat Dona, Anti. Biasa dipanggil dengan si Abang ini juga anak dari pak bos Reza Budiawan sekaligus junjungan Dona.
Dia, cinta matinya Dona, Jago Budiawan. Abang Jago. Brondong cap super yang membuat Dona menjadi ketua umum PERGI, persatuan Gamon indonesia.
"Ngapain lo di kamar gue" alisnya menaut bingung juga tak suka. Jago menyilangkan tangannya didada. "Liat baik-baik kamu dimana?"
"Ya di kamar gue lah dim…" Ruangannya sama, cuma kok catnya bukan warna krem, ini warna abu kehijauan, pikir Dona memindai sekitarnya. Fix bukan kamar eug, terus kamar saposka? Batin Dona.
"Kamarku" Masih ditempat yang sama, Jago melemparkan kaos dan celana training panjang pada Dona.
"Sana mandi kamu bau, aku siapin sarapan dulu" seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, Dona mengambil baju itu lalu berlari ke arah kamar mandi. Dona mendudukan dirinya di kloset.
"Bodoh! Bodoh kau Dona!" Dona meruntuki dirinya. Memukul pelan kepalanya. Ingatannya mulai bermunculan. Membuat nya merutuki dirinya. "Apa yang kau perbuat!"
Berjalan ke arah wastafel dengan kaca besar disana. Dona menatap cermin melihat dirinya sekarang dan,
"AAAAAAAAA…"
*****