Kring...kring...kring...
Suara alarm pada ponsel yang begitu memekakkan telinga membuat Sally terpaksa harus mengakhiri mimpi indahnya.
"Russelllll!!!" teriaknya dengan peluh keringat yang membasahi tubuhnya.
Sally tersadar kalau itu hanyalah mimipi semata. Dia segera meraih segelas air putih di atas meja lalu meminumnya hingga tandas.
Sally melihat jam pada ponselnya sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Dia teringat kalau jam 9 nanti ada jadwal kuliah.
Sejenak Sally mencoba melupakan nama seseorang yang akhir-akhir ini selalu muncul dalam mimpinya. Dia segera meraih handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.
Karena tidak ingin terlambat datang ke kampus, Sally menyelesaikan mandinya dengan cepat.
Arghhhhh
Pekik Sally saat tiba-tiba dia merasa ada yang menyentuh kulit pinggangnya. Buru-buru perempuan berusia 19 tahun itu menyambar handuk lalu keluar kamar mandi.
Beberapa saat kemudian Sally sudah sampai kampus. Perempuan itu berjalan sambil membawa tas punggung dengan satu tangan membawa beberapa tumpukan buku, tangan yang satu memegang sandwich.
Saat berjalan melewati beberapa kelas kosong, langkah Sally terhenti saat matanya tak sengaja sosok laki-laki yang akhir-akhir ini selalu datang dalam mimpinya.
Sally menganguk tersenyum. Begitu juga dengan laki-laki yang diketahui bernama Russel itu membalas senyuman Sally.
Russel adalah senior Sally saat dulu dia menjalani ospek. Saat pertemuan pertama itu Sally sudah kagum dengan sosok Russel. Laki-laki itu sangat ramah dan hangat.
"Hai Sal, ngapain kamu senyum-senyum sendiri disini? Ayo buruan masuk. Prof Michael sudah datang." Esme menyadarkan lamunan Sally.
Untung saja Prof Michael masih mentolerir keterlambatannya masuk kelas. Setelah itu kuliah dimulai.
Hari ini Sally ada jadwal kuliah sampai malam. Tepatnya pukul 8 malam. Sally di kelasnya terkenal mahasiswa introvert. Namun dia tidak peduli dengan berbagai desas desus yang tertuju padanya.
Sally berjalan seorang dirj untuk menuju asramanya. Sudah hal biasa ia melakukan apa saja sendirian. Seperti saat ini, dia sedang berjalan melewati lorong kampus. Meski lampu di sepanjang lorong begitu terang, tetap saja keadaan sekeliling terlihat sepi.
"Sally!!" suara seorang laki-laki menyala lembut nama Sally.
Sally menoleh ke sumber suara. Ternyata dia tidak salah dengar bahwa yang memanggilnya adalah Russel.
"Russel? Ada apa?" tanyanya pura-pura santai padahal detak jantungnya tak beraturan.
"Aku menunggumu sejak tadi." jawab laki-laki itu sambil tersenyum tipis.
Russel meraih lembut tangan Sally, lalu mengajaknya duduk di sebuah bangku yang ada di sisi lorong.
Sally tidak ingin bertanya banyak dengan maksud Russel mengajaknya duduk di tempat sepi seperti ini. Bahkan laki-laki itu terlihag sangat akrab dengannya. Padahal dulu hanya bertemu beberapa kali.
"Sally, maukah kamu menjadi kekasihku?" tanya Russel to the poin.
Sumpah demi apapun lidah Sally terasa kelu. Dia mencoba menepuk pipinya berulang kali. Mungkin saja ini hanya mimpi seperti yang sebelum-sebelumnya.
"Hai kenapa kamu menepuk pipi kamu seperti itu?" tanya Russel.
"Ah tidak. Apa yang kamu katakan barusan?" Sally berusaha tenang.
"Apa kamu mau menjadi kekasihku? Aku sudah lama mencintaimu, Sally. Sejak pertama kita bertemu dulu." ungkapnya jujur.
Sally terkejut sekaligus senang dengan ungkapan perasaan Russel. Ternyata perasaannya selama ini sama. Tanpa ragu Sally menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih, Sally!" ucap Russel sambil memegang kedua tangan Sally.
Perlahan Russel mendekatkan wajahnya dengan wajah Sally. Seketika Sally dilanda kegugupan saat bibir Russel mulai mendekati bibirnya. Lalu bibir kenyal Russel berhasil menempel pada bibir Sally.
Russel melu-mat lembut bibir Sally yang masih tertutup rapat. Karena penasaran bagaimana rasanya berciuman, Sally perlahan membuka mulutnya agar lidah Russel bisa menerobos masuk ke dalam mulutnya.
Mereka berdua bersilat lidah saling mencecap kenikmatan pada bibir masing-masing. Keduanya sama-sama terbuai dengan ciuman panas itu. Hingga lama-lama Sally merasakan asin pada mulutnya.
"Russellll!!" teriak Sally lalu membuka matanya lebar-lebar.
Bibirnya terasa perih karena kena gigitannya sendiri sampai berdarah.
"Kenapa seperti nyata? Padahal hanya mimpi." gumamnya sambil memegangi bibirnya.
"Aku juga mencintaimu, Russel." Sally membalas ungkapan perasaannya pada Russel saat dalam mimpi tadi.
Lalu Sally bangun dan berkumur untuk membersihkan darah dalam mulutnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Sally melihat banyak sekali chat di grup kelasnya. Karena penasaran, Sally membaca pesan yang sudah menumpuk hingga ratusan itu.
"Jasad Russel ditemukan di semak-semak setelah tiga hari menghilang"
Mata Sally membola saat membaca pesan chat paling atas. Dadanya bergemuruh hebat. Bayangannya kembali teringat saat tadi pagi tak sengaja bertemu Russel lalu malam tadi usai kelas, laki-laki itu mengajaknya duduk di bangku lorong dan Russel menyatakan cinta padanya.
"Dan ciuman itu..."
"Russel!!!"
Badan Sally terhempas ke atas ranjang, dia merasa ada sebuah beban yang sangat berat menimpa tubuhnya. Bahkan Sally merasa ada yang sedang mencumbui leher jenjangnya.
"Aku mencintaimu, Sally!!!!"