Melihatmu tak jemu kusapa walau dari kejauhan, menandakan tersirat kehilangan di pelipis wajahmu. Sudah sekian bulan kau pendamkan tanpa berniat mengumbar kesedihan di depan wajahku. Motif yang indah membalut darah dan nanah.
Aku masih teringat embun pagi di kala itu, kau tumbang di ujung jalan beralaskan lelah. Menungguku di sana, tak kunjung datang. Hati menyesal bukan main, maaf.
Hari itu ku disampingmu dengan membawa gumpalan buah dan segenggam rasa penyesalan. Maaf, maaf, dan maaf yang hanya bisa kupikirkan untuk sekarang. Tak terpikir untuk kedepannya entah bagaimana.
Hari-hari yang membosankan tanpamu tahu! Seperti ada sesuatu yang kurang... Seperti kekurangan garam atau... Entahlah. Bahkan bubur ayam lezat yang biasa kumakan saja terasa biasa.
Hambar rasa tubuhku menggerogoti isi kepala hanya bisa berharap kau di hadapanku saat ini. Menikmati sepiring penekuk sambil tertawa ria tanpa adanya beban di benak. Kumerasakan seperti hangat, euforia sesaat, harapan dan tujuanku di senyuman itu. Ini membuatku gila, mencemari logikaku.
Hari selanjutnya mungkin akan tetap sama, atau bahkan rasa rindu ini kian parah kian harinya. Kuinginkan kata "Halo, apa kabar?" dari mu. Hati ini menyesal mengakuinya, mengapa selama ini kutidak mengetahui gelap anganmu. Andai kudapat menjadi batu sandaranmu waktu itu, mungkin hal ini tak akan pernah terjadi.
Hingga tepat pukul tiga siang di musim panas kala itu. Kau bergetar hebat di mataku. Tolong, tolong jangan pergi. Ku... Masih membutuhkanmu... Tidak bisa kupaksakan lagi beban hatiku ini, pertama kali dari sekian tahun aku menangis kembali. Beruntungnya, tuhan mengabulkan doaku, kau masih selamat. Syukurlah.
Hingga waktu dimana kita bermain bersama lagi, menatap langit yang sama dengan bintang yang bersinar. Kuharap ini akan selamanya. Senyummu tergambar jelas membuat hatiku senang mengembang. Kami berjalan tenang di pinggir kolam ikan di taman tempat kami biasa bermain.
Tunggu... Ada apa dengan... Mu?!
Lagi-lagi kau membuatku kesepian, hari ini kau di antar oleh ambulans kembali. Kupikir ini akan lama....
Tanpa bertegur sapa kembali, bahkan ku tak boleh menjenguk mu lagi. Kondisimu makin menghawatirkan setiap detiknya. Hatiku pun mulai runtuh tiap mili detiknya. Akankah, akankah kita dapat kembali seperti dulu menatap dan berlari di Padang rumput? Kembali seperti dulu saling makan bersama di atas sinar redup mentari?
Musim dingin datang membawa sekarung rindu untuk diberikan. Tanpa pikir kembali ku akan pergi menjenguk mu tanpa sepengatahuan pihak rumah sakit di sana.
Bagaimana, ya? Apakah dia baik-baik saja? Aku tersenyum.
Di depan rumah sakit ku menatap dengan harapan yang telah pupus. Para dokter di ruang itu tampak panik, terlihat dari pergerakannya.
Aku... Akhirnya dapat melihat wajahmu yang pucat di balik kaca. Walau, walau ini adalah tatapan terakhir kami. Ia pergi untuk selamanya dari dunia ini.