Aku Kia, dari kecil aku tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah, ibu dan ayahku bercerai saat usiaku menginjak 4tahun.
Ayahku adalah tipe pencemburu, bahkan ia cemburu kepada pamanku, bukankah itu gila? dan lebih parahnya lagi, ayah bahkan mengurung ibu dan juga diriku yang masih merangkak di sebuah kamar kontrakan yang sempit.
Beruntung, paman menolong kami, dan membawa kami pulang ke kampung, ke rumah Nenek.
Ayah yang mengetahui ibu dan aku sudah di bawa pulang oleh paman, ia pun menyusul kami ke kampung.
Waktu pun berlalu, tapi ayah tidak berubah juga, masih dengan sifat pencemburu gilanya, bahkan semakin gila.
Ibu pun sudah tidak tahan dan muak dengan sikap pencemburu ayah yang berlebihan. Hingga ibu pun memutuskan untuk berpisah dengan ayah.
Semenjak kedua orang tuaku berpisah, aku di asuh oleh Nenek, karna ibuku harus bekerja ke kota.
Ibu pulang satu bulan sekali untuk menjengukku.
Dua tahun berlalu, ibuku memutuskan untuk menikah lagi, aku pun mempunyai ayah tiri. Usianya lebih muda dari ibuku, dia adalah seorang supir angkot.
Hubunganku dan ayah tiriku tidak terlalu dekat, karna aku yang tak terbiasa dengan orang baru, dan ayah tiriku juga tidak mendekatkan dirinya denganku. Tentu saja aku yang masih kecil merasa asing dengan ayah tiriku.
Kami tidak pernah menegur apa lagi mengobrol. Jangankan denganku, dengan nenekku saja, dia seperti enggan. Entah malas atau dia memang pemalu.
Satu tahun berlalu, aku pun memiliki seorang adik laki-laki, aku sangat senang dengan kehadiran adik laki-laki ku, aku jadi punya teman dan tidak kesepian lagi. Maksudnya teman di rumah yang bisa di ajak bercanda.
Setelah jehadiran adikku, hari-hariku semakin menyenangkan, apalagi saat Nenek memandikan adikku, aku suka ikut membantunya, sampai bajuku basah semua.. hihi.
Waktu pun berlalu begitu cepat, adikku sudah mulai masuk sekolah di sekolah yang sama denganku. Aku duduk di bangku kelas 6SD, dan adikku duduk di bangku kelas 1SD.
Kami selalu berangkat bersama-sama, dan kebiasaan yang selalu kami lakukan, yaitu berjemur di depan gang di samping sekolah, karna setiap pagi, matahari selalu menyinari area itu. Dan itu kami anggap sebagai penghangat alami disaat kami kedinginan di pagi hari. Karna memang cuaca pagi di kampungku sangat dingin, sehingga berjemur di bawah sinar matahari pagi itu sangat menyenangkan.
Saat kami sudah sampai di sekolah, aku selalu mengantarkan adikku terlebih dahulu masuk ke kelasnya, memastikan dia sudah duduk di tempat duduknya.
" Adek jangan nakal ya, belajar yang bener." Itulah pesanku pada adikku setiap kali aku mengantarnya masuk ke kelasnya.
Sisa waktuku satu sekolah dengan adikku hanya 1 tahun, dan selama 1 tahun itu, di sekolah, aku lebih banyak menghabiskan waktuku bersama adikku daripada bersama teman-temanku. Namun, aku juga selalu mengajarkan padanya, agar nanti saat aku sudah lulus dan tidak satu sekolah lagi dengannya, ia harus terbiasa tanpa ada aku bersamanya.
Tapi sepertinya, hanya aku saja terlalu hawatir berlebihan, adikku sangat mudah beradaptasi dengan teman sebayanya begitupun dengan para guru, apalagi, mereka tau kalau lukman adalah adikku, dan aku cukup berprestasi di sekolah, jadi para guru yang walaupun yang bukan guru yang mengajar adikku, mudah dekat dengan adikku.
Tak terasa hari kelulusan pun tiba, Sekolahku mengadakan acara pelepasan murid kelas 6 dengan acara adat, tari-tarian dan juga perlombaan. Acara berlangsung dengan sangat meriah.
Aku pun mengakhiri tingkat sekolah dasar ku. Dan aku pun melanjutkan ke tingkat SMP, disana aku mendapatkan banyak teman baru, ehm, maksudku beberapa, itu di karnakan, Anak-anak satu kelasku kebanyakan adalah orang yang cukup kaya. Dan aku selalu minder jika berdekatan dengan orang kaya, karna aku tidak bisa mengimbangi gaya mereka.
Aku hanya benar-benar berteman dengan orang yang memang sederajat denganku, karna dalam segi obrolanpun kami sejalan.
Namun, walau begitu, ada beberapa dari mereka yang memang ingin berteman denganku dan tidak memperdulikan kasta.
Hari demi hari ku lalui, temanku semakin bertambah, dan aku semakin menikmati masa-masa sekolahku. aku juga lumayan aktif dalam pelajaran tambahan. Dan aku juga menjadi anggota paskibra, setiap pulang sekolah, di wajibkan untuk para anggota paskibra berlatih.
Dengan penuh semangat, kami berlatih untuk bisa tampil sempurna di hari senin. Setelah selesai berlatih kami pun pulang.
Ada pemandangan yang menyayat hati setiap kali aku berada di rumah. Aku selalu melihat ke harmonisan ibu, adik dan ayah tiriku. Mereka bercanda dan tertawa bersama.
Sedangkan diriku hanya menangis sendiri di dalam kamar, aku sungguh cemburu melihat mereka tertawa bahagia. Setiap kali aku cemburu, aku selalu mengingat ayahku.
"Ayah, kenapa ayah tidak pernah menjengukku, aku juga ingin punya ayah seperti adik, aku ingin tau bagaimana rasanya punya ayah, aku ingin tau bagaimana rasanya di peluk ayah.. hik hik"
Tidak ada yang tau bagaimana rasa sakitku, termasuk ibu dan Nenek, aku hanya menyimpannya sendiri saja tanpa ingin bercerita kepada siapapun.
Beruntungnya, di masa itu, aku benar-benar di sibukkan dengan kegiatanku di sekolah dan juga di pondok.
Ya, pagi sampai siang aku sekolah, dan siang aku mengajar anak-anak TK di madrasah, dan sore sampai malamnya aku mengaji, dan kadang mondok juga bersama Santri lain, jadi tidak pulang ke rumah, karna kalau pulang, terkadang ngaji subuhnya suka datang terlambat. Jadi mondok lebih baik, hitung-hitung mengurangi rasa cemburuku pada adikku.