Hai Kaka semuanya 🤗
Perkenalkan saya Star 😇
Semoga Kaka semuanya suka ya dengan Cerpen Star... Atas like dan komennya Star sangat mengucapkan terima kasih ya... 🙏😊
Tanggal pembuatan : 20 - 05 - 2022
Alkisah tentang seorang gadis yang hanya hidup dengan seorang ayah yang di dampingi oleh ibu tirinya.
Setiap hari, saat papanya sudah kembali bekerja keluar negri ialah yang menjadi babu dirumah besar tersebut.
Tubuhnya sangat kurus. Bagaimana tidak? ia hanya makan sehari satu kali, itu pun jika ia menemukan makanan yang tersisa di atas meja makan.
Tak jarang bi Rosa, seorang ART dirumah tersebut merasa sangat kasian terhadap gadis itu. Tapi ia tidak bisa berbuat apa - apa karna sang nyonya sangatlah keras.
Suatu hari, saking laparnya gadis tersebut memakan bunga mawar yang tumbuh ditaman belakang rumahnya.
Tanpa sadar pohon mawar merah itu jadi tak memiliki bunga lagi.
"Ya ampun Carsia... Kenapa kamu makan bunga mawar ku? apakah kamu lupa kalau ini itu harganya sangat mahal!" ucap sang nyonya yang entah kapan sudah berada di taman.
"Carsia minta maaf bu... Carsia sangat lapar... Dari pagi Carsia belum makan..." keluhnya sambil memegang perutnya yang telah berbunyi.
"Jangan banyak ngeluh! sebagai hukumannya kamu hari ini gak dapat jatah makan! mengerti?!" bentaknya yang langsung membuat Carsia terkejut.
"Tapi ma... Carsia udah laper banget... Carsia gak sanggup kerja lagi kalau belum makan... Biasanya waktu ada mama Carsia selalu makan tepat waktu dan gak pernah mengurus semua ini... Seperti kak Selvi," ucapnya dengan mata yang sudah berkaca - kaca.
"Itu kan mamamu, sedangkan ini aku! ya beda dong! oh iya! ngapain kamu pakai panggil aku ma! panggil aja nyonya, aku paling gak sudi dipanggil mama oleh bibir penuh dosamu itu." responnya merasa jijik.
Tak berapa lama kemudian, anak satu - satunya nyonya datang sambil meminta uang kepadanya.
"Ma! aku minta uang dong... Mau makan bakso ni sama teman - teman," pintanya sambil mengadahkan satu tangannya sedangkan satu tangannya lagi sedang berkacak pinggang dihadapan ibunya.
Ia memang terkenal sebagai anak yang tidak memiliki sopan santun disekolah dulu.
Tak jarang ada beberapa siswa dan siswi yang mengeluh kepadanya karena sikapnya yang begitu jail pada semua orang.
Sekarang semenjak ia lulus SMA kerjaannya hanya bersenang - senang saja dengan uang papa angkatnya tanpa sepengetahuan sang papa karna mamanyalah yang memberikannya.
"Kok kamu jajan melulu sih sayang? kan bibi udah masak lho..." beritahu sang mama.
"Tapi aku bosen ma makan ayam cerispy melulu," keluhnya.
"Ya sudah! ini uangnya," ucap sang mama sambil memberikan uang seratus kepadanya.
"Lho! kok cuma segini sih ma? mana cukup! aku kan mau traktir teman aku juga, dan itu gak sedikit." protesnya sambil memanyunkan bibirnya.
"Emang kamu perlunya berapa sih..?" tanya sang mama.
"Satu juta ada gak ma?" tanyanya yang sontak saja membuat Carsia yang sedang memegang selang air berbalik badan hingga selang air yang awalnya mengarah pada pot bunga jadi mengarah pada sang nyonya dan anaknya.
"Ah!" ucap mereka terkejut.
"Carsia!!!" gertak sang mama saat sudah mengetahui dari mana asal air tersebut.
Carsia yang merasa terancam mulai melangkah mundur agar tak dekat dengan sang nyonya.
"Heh! kamu punya mata gak sih? kenapa kamu main siram - siram aja bajuku dengan anakku hah? kamu sengaja ya?" tanyanya lalu mulai menjewer telinga gadis tersebut.
"Ampun nyonya... Ampun... Aku gak sengaja... Aku hanya terkejut saat kak Selvi meminta uang yang cukup banyak hanya untuk itu saja... Padahal uang itu kan bisa disimpan aja untuk keperluan mendadak," jawabnya sambil merintih.
"Itu bukan urusanmu! lebih baik sekarang kamu urus saja urusanmu sendiri! mau dia minta berapa pun akan aku turuti!" geramnya lalu langsung melepaskan jewerannya.
Carsia hanya mampu mengelus telinganya yang sudah memerah bahkan sedikit berdarah karna terkena kuku panjang sang nyonya.
"Bener banget itu! dasar cewek irian," ucap kak Selvi sinis lalu ikut menyiksanya dengan menjambak rambutnya.
"Aduh ka... Sakit... Tolong lepaskan kak..." rintihnya tapi tak dituruti oleh sang pelaku.
"Makanya besok - besok diam aja apa susahnya sih," ucapnya sengit lalu langsung berlalu pergi dari hadapan gadis itu dan sang nyonya hanya mengikuti kemana arah putrinya pergi.
"Kenapa sih? nyonya sama kak Selvi jahat banget sama aku. Padahal aku kan gak jahat sama mereka," batinnya merasa sedih lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.
Usai dengan urusannya, air matanya kembali jatuh saat mendengar pembicaraan sang nyonya dengan seseorang dibalik ponsel.
"Apa? suamiku meninggal?"ucap sang nyonya merasa terkejut.
"Apa? papa meninggal? gak mungkin! gak mungkin! papa pasti masih hidup, ini pasti cuma mimpi." batinnya sambil mencubit tangannya sendiri tapi hal yang tak ingin ia rasakan malah dapat ia rasakan yaitu rasa sakit.
"Ma? apa benar papa sudah meninggal?" tanyanya dengan tubuh yang sudah bergetar hebat.
"Iya! puas kamu," jawabnya ketus hingga membuat tangisan Carsia semakin deras.
"Ma! tolong katakan kalau ini cuma mimpi ma... Ini pasti cuma mimpi ma..." ucapnya sambil mengacak - acak rambutnya frustasi.
"Heh! ini itu beneran tau! papamu meninggal didalam pesawat dan sekarang pesawat itu tidak dapat dilacak keberadaannya! sudah sana pergi! aku malah makin pusing liat kamu yang nangis kayak gitu! lebay banget," usirnya dan Carsia memilih untuk berlari kekamarnya.
Sesampainya dikamar ia hanya hanya mampu menumpahkan kekesalannya pada bantal guling.
Rasa lapar diperutnya tak lagi ia rasakan, diganti dengan rasa sakit yang tak terlihat tapi begitu menyesakkan.
Karna merasa sangat lelah ia pun jadi terlelap.
Malam pun tiba, sang nyonya yang baru saja memberitau kabar buruk pada anaknya malah mendapat saran yang buruk. Tak ada rasa sedih sedikit pun dari raut wajah sang anak saat mengetahui kabar tersebut, malah ia merasa sangat bahagia.
"Syukurlah... Akhirnya pria tua itu mati juga, jadi aku bisa bebas kesana kemari. Biasanya kalau ada dia aku selalu dikekang kayak si Carsia! kerjaannya ngerem aja dirumah," ucapnya sambil melipat kedua tangan dibawah dada dengan pinggang yang sudah ia senderkan dikepala sofa.
Kini mereka mulai melakukan rencana busuk dari kak Selvi.
"Brukkk!"
"Brukkk!"
"Brukkk!"
Suara gedoran pintu mulai terdengar dari luar, membuat insan yang ada didalam kamar mau tidak mau harus bangkit dari kasurnya yang nyaman.
"Ada apa ma?" tanyanya sambil mengucek matanya yang masih agak rabun.
"Sini kamu," tarik kak Selvi kasar lalu menyeretnya hingga membuat sang pemilik tubuh yang nyawanya belum terkumpul jadi tergopoh - gopoh untuk menuruni anak tangga.
Setelah sampai diluar rumah, kak Selvi langsung menghempaskannya tanpa rasa kasian sedikit pun.
"Kak? kenapa Kaka melakukan ini padaku? apa salahku?" tanyanya merasa sedih.
"Heh! sekarang pria tua yang selalu memanjakan mu itu telah pergi selamanya! jadi kami tidak ingin menanggung beban sepertimu dirumah ini," ucapnya.
"Apanya yang disebut beban? aku saja kadang jarang dikasih makan dan banyak bekerja," elaknya tak terima dengan perkataan itu.
"Dasar lancang," ucap sang nyonya lalu menampar pipinya hingga menimbulkan suara yang cukup keras.
Carsia merasa merasa sangat sakit hati dengan perlakuan mereka, tanpa pikir panjang ia langsung pergi dari rumah tersebut tapi langkahnya sempat dicegah oleh bi Rosa.
"Non... Bibi mohon jangan pergi non..." ucap sang bibi yang baru saja keluar dari rumah.
"Diam kamu! tidak usah ikut campur urusan kami," hardik kak Selvi.
"Tapi non-" belum sempat bibi menyelesaikan ucapannya sang nyonya langsung memotongnya.
"Apa kamu tidak dengar apa yang putriku ucapkan? cepat kembali bekerja atau kamu akan saya pecat detik ini juga," ancam sang nyonya sambil menunjukkan tepat didepan wajahnya.
"Bi!" seru Carsia hingga membuat bibi menoleh kearahnya.
"Sudah bibi turuti saja apa yang mereka katakan! aku masih bisa menjaga diriku baik - baik, lagian apa pun yang aku lakukan tetap tidak ada harga dihadapan mereka. Mereka saja menghormati papa terpaksa karna papalah yang memiliki rumah ini," ujarnya lalu langsung berlari keluar pagar.
"Cepat pergi kau wanita sialan," ucap sang nyonya sambil melempar sebuah vas bunga kearahnya hingga membuat tangan Carsia terluka akibat terkena pecahan kaca.
Teringatlah Carsia dengan sebuah danau yang letaknya tak jauh dari rumahnya, dulu ia sering bermain disana bersama mamanya.
Tapi itu kan dulu! hanya dulu.
Kini ia terus berlari tanpa menggunakan alas kaki, tak peduli dengan apa saja yang di injaknya.
Ia seakan lumpuh dengan rasa sakit karena yang paling merasa sakit sekarang adalah hatinya. Ya, hatinya yang paling merasa sekarat untuk saat ini.
Tanpa ia sadari hujan turun dengan derasnya, membuat bajunya begitu basah tapi ia tetap terus berlari hingga sampai ketempat tersebut lalu jatuh terduduk dipinggir danau.
"Mama..!!! mama..!!! mama..!!!" teriaknya.
"Papa..!!! papa..!!! papa..!!!" teriaknya lagi.
"Aku merindukan kalian... Terutama mama... Aku rindu pelukanmu ma... Aku rindu senyumanmu pa... Tapi kenapa kalian malah pergi ninggalin aku? kenapa? aku telah berusaha bersabar dengan kehidupanku ini! berharap ada kebahagiaan yang bisa kudapatkan untuk kedepannya tapi ternyata malah semakin buruk," rintihnya dibawah derasnya air hujan sambil memukul tanah yang telah ditumbuhi rumput.
"Ketika kalian pergi kenapa kalian tidak membawaku juga? aku juga ingin mati..." keluhnya lagi sambil terus menangis di iringi teriakan putus asa.
"Tak ada lagi yang lebih menyayangiku selain kalian... Tak ada..." ucapnya yang hampir gila sambil terus menggeleng - gelengkan kepalanya kesana kemari.
Kini ia sangat terkejut saat melihat ada tangan yang melingkar di pinggangnya dengan kuat.
Ia tak dapat melihat wajah orang yang memeluknya dengan jelas karna terhalang air hujan dan penglihatan yang buram akibat terlalu banyak menangis.
"Jangan takut! aku ada disini untukmu," ucap suara berat pria.
"Siapa kamu? berani - beraninya kamu memelukku tanpa izin," geramnya.
"Aku Andrian! apakah kau masih mengingatku?" tanyanya yang sontak saja membuat gadis itu teringat kembali dengan sosoknya.
Andrian adalah pria yang sejak ia duduk di bangku SMA terus mengejarnya hingga sekarang.
"Carsia! jika kamu merasa tak ada lagi yang menyayangimu selain mama dan papaku kamu salah! masih ada aku disini yang siap untuk selalu memberikan sandaran kepadamu," ucapnya tulus.
Carsia yang sangat membutuhkan perhatian merasa sangat terharu saat mendengar kata - kata Ardian.
"Makasih Ardian! maaf jika selama ini aku selalu mengabaikanmu," ucapnya.
"Carsia dengarkan aku," ucapnya yang membuat Carsia membalikkan tubuhnya menghadap kearah Ardian dalam kondisi bertekuk lutut.
"Aku salut sama kamu! tanpa kamu sadari kamu itu sebenarnya adalah gadis yang kuat! kamu gak selemah apa yang kamu pikirkan! buktinya kamu masih bisa bertahan pada titik ini juga," ucapnya menyemangati Carsia sambil mencengkram pundaknya erat.
"Lalu kenapa kamu bisa tau kalau aku ada disini?" tanyanya.
"Apakah kau kenal bi Rosa?" tanyanya yang langsung membuatnya mengangguk.
"Dia adalah mata - mata yang aku suruh untuk menjagamu dirumah itu setelah kepergian bi Caca," jelasnya.
"Pantas saja bibi itu sangat ramah," ucapnya dengan bibir yang sudah bergetar.
"Kamu kedinginan? ini! pakai saja mantelku," ucapnya hendak membuka jas hujannya.
"Tidak perlu! nanti kamu malah basah," tolaknya tapi Ardian tetap bersikeras dan syukurlah tiba - tiba saja hujan mereda dan cahaya matahari bersinar dengan terang.
Hal itu membuat air danau jadi lebih indah karna terkena pantulan cahayanya.
"Ini," Ardian memberikan Carsia sebuah baju kemeja baru yang masih terbungkus kertas tak lupa sebuah rok panjang.
"Berganti pakaianlah dibelakang pohon besar itu, aku berjanji tidak akan mengintipmu." pintanya yang hanya dituruti oleh Carsia setelah mengucapkan terima kasih.
Usai berganti pakaian Carsia kembali menghampiri Ardian yang sedang berdiri didekat danau sambil menatapnya penuh kekaguman.
"Kamu gak pakai lagi mantel?" tanyanya.
"Enggak! lagian gak hujan lagi pun," jawabnya.
"Oh iya Ardian! sekali lagi makasih ya... Kamu ternyata udah baik banget sama aku selama ini... Aku jadi gak tau harus membalasnya dengan apa," ucapnya sambil menunduk.
"Sudahlah... Kamu tidak perlu berkata begitu... Aku ikhlas kok! karna aku benaran cinta sama kamu," ungkapnya.
Seingatnya ucapan itu terakhir ia dengar saat ia duduk di bangku tiga SMA.
Dan kini ia kembali mendengar kalimat itu saat usianya sudah memasuki umur sembilan belas tahun.
"Ardian," panggil nya sendikit bergetar.
"Iya," responnya sambil menatap Carsia lekat.
"Apakah kamu sudah punya pacar?" tanyanya.
"Belum! karna aku hanya mencintaimu! jadi cukup kamu yang akan aku perjuangkan dan terima," ucapnya yang membuat Carsia terdiam sesaat.
"Seandainya kamu mau, aku bersedia kok menjadi istrimu." ucapnya yang membuat Ardian sangat bahagia.
"Apa kamu serius? aku gak mau kalau kamu ingin menjadi istriku hanya karna kebaikanku," tanyanya memastikan.
"Aku serius Ardian. Sebenarnya aku dulu juga menyukaimu, cuman aku memilih menghindar semenjak tau kalau kak Selvi juga suka padamu." ucapnya.
Ardian seperti bermimpi saat mendengar ucapan Carsia dan saking bahagianya tanpa sadar ia sudah memeluk Carsia erat.
"Makasih sudah mau menjadi calon istriku," ucapnya sambil menaruh dagunya diatas kepala Carsia.
"Sama - sama," ucapnya membalas pelukan Ardian.
Setahun kemudian mereka pun menikah dan hidup bahagia selamanya, sedangkan ibu tiri dan anaknya di kabarkan masuk penjara karna kedapatan melakukan penipuan untuk bertahan hidup dan kini mereka terkurung didalam penjara.
🍃 The End 🍃