"Sial, sial, sial!" Seorang siswi berlarian di koridor sekolah yang kosong melompong.
Hari ini adalah hari pertama sekolah setelah liburan panjang, juga bagi murid baru adalah pindah ke sekolah yang lebih tinggi.
Lamat-lamat suara dari pengeras suara terdengar dari arah Aula utama. Gadis itu dengan gesit melompat melewati kursi taman, kemudian berjingkat pelan hendak menyelinap ke dalam barisan murid baru, sebelum akhirnya dipergoki seseorang.
"Terlambat di hari pertama sekolah?"
Suara itu terdengar datar dan santai namun berhasil mengalihkan netra para murid, guru dan staf bahkan Kepala sekolah yang berdiri di atas podium berhenti memberikan ceramahnya.
Celien Aurina. Gadis itu tersenyum salah tingkah saat banyaknya pasang mata yang menatap. Celien kemudian menoleh kebelakang, melihat siapa yang sudah berani membuat suasana yang awalnya baik malah menjadi seram seperti sekarang.
Bum!
Jantungnya hampir meledak.
Seorang pria muda dengan seragam guru, tangannya melipat di depan dada. Dan poin penting yang hampir membuat semua siswi pingsang adalah, Dia sangat tampan!
"Anda juga terlambat kan, Pak Vino." Seorang guru laki-laki dengan seragam yang sama, berdiri di barisan para guru itu melirik tak suka. Kumisnya yang tebal dicukur rapi dengan potongan rambut cepak.
"Tidak Pak Wiryo, Pak Vino sudah datang bahkan sebelum semua guru datang. Benar kan, Pak Agus?" Suara perempuan yang terkesan membela itu meminta pembenaran pada satpam sekolah yang bernama Agus.
"Benar Bu Niken!" Jawabnya mantap, membuat wajah Pak Wiryo berubah masam.
"Sudah, kita selesaikan dulu Apel pagi ini." Putus Kepala sekolah.
_________Ruang kelas
"Celien Aurina!"
"Hadir!"
Guru perempuan itu menoleh ke sumber suara, matanya menyipit.
"Oooh ini yang tadi terlambat ya?" Sontak membuat seisi kelas tertawa, membuat Celien salah tingkah.
Dilorong koridor bahkan terdengar keributan yang lebih parah, saat para siswa di dalam kelas mengintip melalui jendela ternyata itu adalah Pak Vino, dibelakangnya para siswi berteriak histeria.
Bahkan Siswi di dalam kelas Celien pun tak kalah gilanya, seakan-akan mereka tersihir oleh pesona guru muda itu.
"Duh berisik banget sih!" Celien menutup telinganya yang sakit karena teriakan-teriakan kekaguman pada makhluk Tuhan yang satu itu.
"Jangankan mereka, Bu guru aja kesengsem!"
Ding-dong~
Suara bel istirahat berbunyi Celien bergegas membereskan bukunya ke dalam tas.
"Heh kita cuma istirahat bukan mau pulang!" Hardik teman sebangku Celien, Karina Maharani.
"Biarin, ntar ada yang nyolong! Udah ah ayo ke kantin."
Sebelum sampai dikantin Celien pergi ke toilet, sementara Karina ke kantin duluan untuk mencari meja tempat mereka makan.
"Leganya!" teriaknya sembari mencuci tangan di wastafel.
Segera setelah selesai memenuhi panggilan alam, Celien segera bergegas keluar dari toilet menuju kantin namun matanya malah menangkap sosok guru yang tadi pagi memergokinya hingga membuatnya malu setengah mati.
"Hehe gua kerjain ah," lirihnya pada diri sendiri. Ia menggosok kedua telapak tangannya dengan lembut.
Celien membuntuti guru muda itu, menaiki beberapa anak tangga menuju ke atas. Sesampainya di atap gedung Celien kebingungan mencari sosok yang tadi diikutinya.
"Mencari saya?"
Deg!
Celien menoleh ke sumber suara, namun ternyata guru muda itu tak sendirian. Dibelakangnya berdiri beberapa siswa laki-laki berbadan tegap dan tinggi, tampak tampan dan gagah. Melihat hal itu nyalinya menciut, Celien mengurungkan niatnya untuk membully guru itu.
"Hehe maaf Pak, saya ga sengaja ngikutin. Saya bakal balik ke kelas sekarang," ungkapnya cepat namun pintu keluarnya telah dikunci, entah kapan dan siapa yang melakukannya.
Jantungnya berdegub cepat melihat Pak Vino dan beberapa siswa yang berada dibelakangnya mendekatinya. Tangannya terus menarik knop pintu itu berharap dapat terbuka.
"Janngan takut, santai saja."
"Bapak mau ngapain? Mereka siapa?" Sebisa mungkin Celien menekan rasa takutnya, suaranya bergetar!
"Mereka muridku dan akan menjadi saksi." Ekspresi guru itu santai tanpa beban, matanya menatap Celien tak berkedip.
"Saksi untuk apa?" Celien tak melonggarkan jarak diantara mereka, ia beringsung mundur hingga punggungnya menabrak dinding kawat pembatas.
"Saya akan nembak kamu disini, di depan mereka." Lagi, Celien tak pernah mengerti mengapa Pak Vino selalu bicara tanpa ekspresi. Tapi kini dia cukup lega karena tujuan guru itu ternyata hanya sekadar menyatakan perasaannya saja.
"Saya menolak! Gimanapun Anda tadi sudah membuat saya malu setengah mati!" sindir Celien sambil bersedekap, mukanya masam karena mengingat kejadian tadi pagi.
"Kamu salah paham, saya bilang nembak bukan nembak yang itu," katanya tersenyum mengejek, begitupun beberapa siswa dibelakangnya.
"Lantas?" Celien menautkan alisnya, ia tak mengerti.
Selang beberapa waktu kemudian, Celien membulatkan matanya, menatap tak percaya guru muda yang menjadi primadona sekolah itu.
"Maksut bapak ...."
"Binggo!" ucap pak Vino bersamaan dengan munculnya senjata api di tangan kanannya.
"Ahahaha Pak Vino bisa lawak juga ternyata, ini bercanda kan, Pak?" Celien tertawa meski tak yakin dengan jawabannya akan memuaskan.
Pak Vino hanya menatap kosong Celien, kemudian mengalihkan pandangannya pada langit yang berawan saat itu.
Di sekolah ini, ada ekskul rahasia yang hanya bisa menerima murid pilihan, saya sendiri yang mengurus mereka atas perintah Kepala Sekolah.
Celien mendengarkan dengan khidmat meski tak mengerti sedikitpun dari perkataan guru di depannya ini, sesekali ia melirik pada beberapa siswa di belakang pak Vino, kini tampang mereka malah terlihat bengis seakan melihat Celien adalah seoonggok daging yang lezat siap santap.
"Setiap tahun harus diadakan pengorbanan, dan kamu adalah ... yang terpilih."
Sedetik setelah mengucapkan itu, suara tembakan terdengar. Satu peluru kini bersarang di dalam kepala gadis berambut cokelat muda itu membuatnya ambruk seketika, darah segar dengan cepat keluar dari lukanya dan membanjiri lantai semen atap sekolah. Seragamnya juga penuh dengan darah.