Ketika menatap matanya, ada satu hal yang kulihat; cinta. Dalam bingkai pernikahan, aku berdoa agar dia tidak pernah berpindah pada hati lain. Agar cinta yang Rabbnya titipkan hanya untukku seorang.
Kuharap tidak ada hati lain yang ia sapa. Dan kuharap tidak ada luka yang ia torehkan untukku.
Bagiku, pernikahan bukanlah hal yang sederhana, juga bukan hal yang rumit pula. Pernikahan adalah cara yang Allah berikan untuk mereka-mereka yang menjunjung cinta di jalan kebenaran. Pernikahan adalah salah satu cara agar kita selangkah lebih dekat dengan-Nya, lebih taat untuk menaati setiap perintah-Nya, dan menjauhi segala bentuk zina yang dilarang-Nya.
Aku tahu, aku bukanlah Fatimah binti Muhammad, dan dia bukanlah Ali bin Abi Thalib. Cinta kami tidak akan pernah sesempurna dan sesuci cinta mereka. Tapi cinta kami akan terus mekar, mengikuti sunnah yang diperintahkan oleh-Nya. Melalui Fatimah Az-Zahra aku belajar untuk jatuh cinta dalam diam, dan kuharap melalui Ali dia belajar untuk menghargai komitmen. Bahwa cinta adalah hal sakral yang perlu dimenangkan melalui hubungan yang halal.
Doaku sederhana, agar kelak ketika Allah membuatku berjalan sendirian, seseorang akan memegang tanganku dan mengatakan bahwa dia adalah imam yang akan membimbingku menuju Jannah. Bahwa dia akan memanggilku dengan kalimat halus dan bersaksi jika akulah manusia yang mencintai dan mendampinginya sepanjang usia. Bahwa aku tidak pernah lalai menjaga anak-anaknya. Dan bahwa aku tidak pernah mencintai seorang lain selain dirinya. Hanya itu...
Baca Ceritaku selanjutnya di Mahligai Cinta Zahrana.