Tidur seranjang dengan istri muda pernah Gayatri alami, mengurus anak-anak suami dari istri mudanya pun sedang dilakukan Gayatri, kini ... hatinya harus terkoyak kembali saat suaminya lebih senang menghabiskan waktu dengan istri muda. Hah, tepatnya mantan janda senior yang kemudian dijadiin istri muda sama Haidar. Gimana gak pantesan disebut janda senior? Dari segi usia, jauh lebih matang dari Gayatri bahkan juga dari Haidar, dari segi usaha ... hah, Gayatri gak habis pikir, dengan kekayaannya yang melimpah, kok ya mau-maunya jadi istri muda Haidar yang ke tiga pula.
"Maaf mbak Amel, kita perlu ngomong," ujar Gayatri saat sudah sebal banget melihat kelakuan istri ke tiga suaminya itu.
"Ya udah, ngomong aja."
"Mbak, mas Haidar jangan diajak ngamar atau pergi terus ... anak-anak butuh perhatian dan kasih sayang mas Haidar. Aku juga mau mengingatkan mbak, di sini juga ada aku dan Puspita yang harus dapat perlakuan yang sama adil dari mas Haidar ..."
"Apa kamu bilang sama dan adil? Siapa yang mengharuskan begitu, hah? Menikah siri itu ide-nya Haidar, biar gak zinah katanya. Aku sih bodo amat, Haidar kujadiin simpenan juga bisa, ngapain pake 'cover' nikah segala toh tetap aja tujuannya making love."
"Tapi mbak, jangan lupa kalau mas Haidar punya kami juga, kita bersama memiliki mas Haidar, mbak harusnya menerima kondisi itu. Mbak gak bisa memonopoli begitu."
"Hadeh ... memang pantas ya kamu ini jadi istri tua. Heran deh, masih muda tapi sukanya protes mulu, cerewet. Contohin Puspita tuh, mana ada dia seberisik kamu. Tinggal aku lempar segepok uang aja beres."
"Puspita kan baru habis ngelahirin, masih nifas ... jadi gak dikelonin juga gak apa-"
"Stop! Sebentar ... ini harus jelas nih, sebenarnya yang butuh perhatian dan kasih sayang Haidar, anak-anaknya apa kamu sih? Trus perlakuan yang sama adil itu, sebenarnya ... kamu cuma pengen kehangatannya ditempat tidur, kan?" Potong Amel beserta tatapan yang tajam.
Ealah ... kok ya baru ini ada bini muda seenaknya sama bini senior, hihi.
"A-aku," lidah Gayatri jadi kelu. Yang diomongin Amel memang benar, kok.
"Sekarang gini deh, kamu kalau mau Haidar jadi milikmu ya udah ... suruh dia ceraikan aku juga Puspita. Bereskan? Nah, masalah perkawian dah jelas nih arahnya, tinggal sekarang gimana dengan hitung-hitungannya?"
"Hi-hitungan apa, mbak?"
"Lho ... rumah ini, modal warung nasi rames kamu itu, belanja dapur, biaya Bagas sama si kembar, bahkan juga mungkin daster yang kamu pake ini? Kamu pikir uangnya dari mana, Gayatri?"
"Semua yang dari mas Haidar ya tentu asalnya dari mbak Amel-lah," Puspita ikutan menimpali.
Gayatri bengong, Puspita tersenyum senang, sementara Haidar sibuk mengelus punggung Amel, menetralkan emosi wanita ketiga di rumah tangganya.
"Dengar ya, kecuali jika aku yang bosan sama Haidar ... jangan lagi ungkit-ungkit masalah perhatian, waktu, kasih sayang apalagi jatah ranjang. Anggap saja semua yang kalian nikmati saat ini adalah gaji dan fasilitas kantor untuk Haidar. Hanya saja, Haidar gak perlu kerja keras ... karena aku perlu yang keras dulu baru kerja. Paham gak kamu, Gayatri? Atau barangkali saat ini kamu punya uang setidaknya 500bjuta, sebagai kompensasi? Maka aku akan pergi dari Haidar, cari yang lebih hot lagi," kata Amel bak nyonya besar pada babu-nya.
Gayatri memilih diam, ia masuk ke kamar. Mengurusi ketiga anak-anak yang sebentar lagi akan punya adik dari rahimnya.
'Ya Allah ... kok gini amat sih nasibku. Aku sudah berusaha ikhlas mas Haidar poligami kenapa malah istri-istrinya mas gitu ... Puspita menambah beban pekerjaanku dan Amel memonopoli suamiku seenaknya. Bantu aku ya Allah, aku gak sanggup lama-lama begini,' panjat Gayatri dalam doanya.