" Lidah lebih tajam dari pada pisau"
Ungkapan atau perkataan itu layaknya sering kita dengar namun sulit untuk mempraktikannya dalam kehidupan.
***
Suatu Sore diTeras sebuah rumah tampak sebuah keluarga yang tengah asik berbincang-bincang santai sambil menikmati semilir angin dengan secangkir teh dan beberapa biskuit. Ayah , Ibu dan anak gadis mereka.
"Aiyla sayang... sini deh sebentar ayah mau ngomong sesuatu sama kamu " kata ayah pada putrinya yang tengah asik melukis bunga di halaman rumah mereka pada kertas nya di lantai. Aiyla memberhentikan aktivitasnya membersihkan tangan dan menghampiri sang ayah , anak berusia sekitar 13 tahun itu sudah paham dan mengerti benar bahwa itu pasti sesuatu yang penting walau dia belum tau apa yang akan di katakan ayahnya tapi dia selalu menyambutnya dengan senyuman cerianya.
" iya ayah , ada apa ? " katanya sambil duduk di pangkuan sang ayah yang juga ikut tersenyum begitu pun ibu.
" Kamu bisa tidak , ambilkan Ayah Gunting Rumput di Garasi ? " kata ayah membuat Aiyla menatap sang ayah bingung, tapi dia harus melakukannya tanpa banya bertanya Aiyla mengangguk dan beranjak menuju garasi .
Di dorongnya pintu kayu yang agak lebih kecil di sampingnya . Matanya membelalak seketika memancarkan rasa senangnya . Melihat aoa yang ada di depannya saat ini di dalam garasi itu. Lalu aiyla kembali keteras dan memeluk sang ayah mengucapkan rasa Terimakasihnya.
Ya Sepeda kuning itulah yang aiyla dapat dari ayah nya membuatnya merasa sangat senang sebab itu adalah hadiah nya di umur nya yang baru sekarang , lengkap dengan keranjang dan loncengnya juga warna kesukaan sang anak . Hari - hari berlalu Aiyla begitu senang pergi kemana pun sepeda kuning itu selalu iya gunakan ke Taman, Toko susu dan juga Sekolah kemana pun tidak terkecuali.
Seiring berjalannya waktu ntah apa penyebabnya dan ntah siapa yang memulai lebih dulu , banyak teman sekolahnya mengatakan bahwa sepeda itu jelek, tidak cocok, norak, Lebih Pantas untuk di hancurkan saja. Awal nya iya tidak peduli meski selalu dirundung saat di sekolah , banyak perkataan dan perlakuan buruk yang ia terima bahkan gurunya pun tidak membelanya sama sekali mengacuhkannya meganggap bahwa itu hanya masalah anak-anak saja yang di lebih-lebihkan dan bahkan ikut menghakimi tapi dia tidak pernah bilang pada ayah dan ibunya dia juga tidak ingin melihat ayah dan ibunya khawatir atas apa yang Aiyla dapatkan diSekolah itu. Aiyla hanya berusaha menjadi anak yang kuat.
Namun Semakin di biarkan maka semakin sering iya mendapatkan perkataan buruk cacian dan hinaan, tidak jarang sepeda itu juga di gantung di atas pohon ntah ulah siapa juga ban sepedanya yang selalu kempis dan berakhir di gudang ujung sekolah , ntah lah sekolah yang tergolong elit itu justru melahirkan anak-anak yang tidak paham perasaan temannya satu sama lain meski berada di kelas yang sama.
Mentalnya Aiyla yang tadinya kokoh dan baik-baik saja kini tak lagi mampu menampung semua perundungan itu Hati nya benar-benar hancur apakah sepeda itu buruk? Apakah warna kuning itu jelek ? Apakah itu salah ? Banyak pertanyaan yang muncul dikepalanya pikiran negatif membuat ia jadi murung tidak banyak bicara hanya tersenyum sesekali. Dan mengurangi interaksi bahkan sempat berpikir untuk meminta sang ayah mengganti warnanya namun itu tidak mungkin karena pasti akan sangat melukai hati sang ayah dan juga dirinya mengingat itu adalah warna kesukaannya.
Satu hari saat pulang sekolah saat perasaannya benar-benar sudah sangat buruk tidak ada teman. Seperti biasa dia mengambil sepedanya yang di letakkan dengan sengaja di gudang sekolah mendorongnya keluar gerbang sekolah Aiyla salah jika dia berpikir sekolah sudah sepi saat ia pulang. Karena justru mereka menunggunya di depan gerbang keluar sekolah , Anak -anak satu kelasnya terus mengikutinya mengejek , sesekali menendang sepeda itu, juga menarik rambut Aiyla ,tapi ia hanya diam tak bergeming dan terus berjalan. Aiyla tidak perduli dengan manusia seperti teman-temannya meski kenyataannya dia sudah menangis sepanjang jalan merutuki nasibnya.
Di sebuah perempatan jalan yang memang saat itu keadaanya sangat ramai oleh hiruk pikuk kendaraan yang berlalau lalang bertepatan orang-orang akan kembali kerumah mereka masing -masing setelah penat dengan aktivitas. Jelas memang bahwa Aiyla sudah tidak memperdulikan apapun lagi dia hanya ingin segera sampai dirumahnya duduk menonton tv bersama ayah dan ibunya, yang setidaknya mampu sedikit menenangkan hatinya. Tawa anak-ank yang mengoloknya juga sudah tidak di perdulikan.
Tiba -tiba Salah seorang anak mengatakan " Lebih Baik kau tidak usah lagi muncul di sekolah atau Mati saja karena keberadaamu dan sepeda kuning jelek mu itu! hanya akan merusak pemandangan ku saja" .
Anak perempuan dengan tatanan rambut sepinggang dan tas ransel biru di punggungnya senada dengan sepatu yang iya gunakan, itu berkata dengan penuh keangkuhan dan rasa benci, Desni begitulah tulisan yang tertera pada name tag nya ntah apa yang membuatnya setega itu mengatakan kata-kata yang seharusnya bisa di saringnya. Memecah keheningan yang tidak berlangsung lama , pikiran Aiyla yang memang sudah sangat frustasi terus berjalan benar -benar tidak memperdulikan apapun, bahkan saat lampu jalan tengah berwarna hijau kendaraan membunyikan klakson yang jelas-jelas sangat memekakan telinga dengan kencang memberi peringatan tapi Aiyla tak perduli sebuah mobil berkecepatan tinggi menghantam Aiyla dan sepedanya seketika membuat nya berganti warna persis seperti keinginan anak-anak itu Merah.
Sepeda itu kini hanya menjadi kenangan sepeda kuning yang warnanya sudah sedikit memudar dan masih meninggalkan bercak merah disana, sepeda yang berharga bagi Aiyla. Hari itu menjadi hari yang paling buruk bagi siapapun yang menyaksikan kejadian tersebut. Sebab mau bagaimana pun akan tetap ada rasa bersalah pada diri mereka dan perlahan-lahan merasakan apa yang aiyla rasakan. Aiyla tersenyum Di Ujung jalan.