Musim gugur yang singkat telah berlalu, berganti dengan musim dingin di kota kecil Youwu. Cuaca pada saat pagi dan malam akan terasa sangat dingin sampai menusuk ke tulang.
Tidak ada lagi pemandangan kiambang yang kemilau ditimpa cahaya matahari di atas permukaan air bahkan kabut yang biasa berarak lembut di atas sungai Yalu juga telah lenyap entah kemana. Yang tersisa hanyalah langit suram di atas dataran tinggi, di seberang sungai.
Xiao Yi, menyibak rambutnya dengan anggun sambil menarik mantelnya lebih kuat. Gadis dengan mata secerah langit pagi di musim semi ini masih berdiri di bawah pohon willow dengan lamunan yang mengambang. Pikirannya seperti melayang-layang menyeruak diantara pepohonan dan rumput liar yang mulai diselimuti warna putih.
Bibirnya tipisnya yang merona sewarna dengan bunga persik mekar itu terkatup rapat.
Dari kejauhan jubahnya bergerak-gerak lembut, dibelai angin sore. Tatapannya jauh ke arah sungai Yalu yang dalam beberapa minggu lagi akan membeku.
Musim dingin di kota paling utara Yanzhi ini memang selalu mempunyai musim dingin yang ekstrim. Jika musim dingin tiba maka sungai-sungai akan perlahan ditutupi es.
Xiao Yi memegang tangan ibunya, betapa ingin dia membawa semua keluarganya ke istana, supaya mereka berada di dekatnya. Dia tahu, Yang Mulia tentu tak akan keberatan untuk itu.
Tapi dia sadar, istana lebih berbahaya dari kelihatannya. Banyak hal yang bisa membuat keluarganya itu terjebak dalam masalah tanpa alasan.
Rasa iri dengki, kecemburuan dan dendam terhadap Xiao Yi akan seperti ratusan mata panah yang tajam, yang bisa menjadikan mereka sasaran.
Sesulit apapun kehidupan orang tuanya di Youwu, tetap saja di sini lebih aman dari di istana.
"Yi'er...kembalilah kepada Yang Mulia, jadikan dirimu sebagai pendamping suamimu dalam keadaan apapun." Nyonya Xiao merapikan anak rambut Xiao Yi yang jatuh di atas dahinya.
Di rumah mereka sendiri, orangtua dan saudara-saudaranya bersikap seperti keluarga. Tidak ada sikap formal seperti saat mereka berada di tengah umum.
Di sini, Xiao Yi kembali menjadi seorang puteri kecil kesayangan keluarganya. Tanpa menyandang gelar selir terhormat seorang raja di depan namanya.
"Langit berpihak padamu, Yi'er. Memberikanmu kebahagiaan bersama Yang Mulia. Bersikaplah selalu rendah hati tanpa perlu menyombongkan keberadaanmu. Karena setiap keangkuhan akan mengundang lebih banyak kebencian dari sekelilingmu." Nyonya Xiao merasakan rasa keengganan anaknya itu untuk segera pergi tapi di sudut hatinya yang lain, anaknya itu begitu ingin kembali segera.
"Aku akan menjemput kalian pada saat yang tepat."Sahut Xiao Yi.
"Yi'er...ayahmu ini sudah berjanji mengabdi kepada Yanzhi dengan menjaga perbatasan utara di Youwu. Hidup ayah yang tak seberapa lama ini, menjadi berharga jika bisa cukup berguna bagi negara." Komandan Xiao Xie, ayah Xiao Yi angkat bicara dari tempatnya duduk sambil menikmati secangkir teh.
"Ayah ingin menghabiskan masa tua ayah, bersama-sama dengan mereka." Matanya menerawang lewat jendela, pada kamp pelatihan yang ada di depannya. Beberapa prajurit tampak sedang mulai berlatih dalam waktu sepagi ini. Ada Xiao Ce, kakak tertua Xiao Yi berada di tengah beberapa prajurit yang sedang berlatih pedang itu.
Xiao Yi ikut melihat ke sana lalu pandangannya beralih kepada Xiao Ying, kakak keduanya.
"Besok aku harus kembali ke Yubei, bolehkah kakak A'ying menemaniku bermain pedang sebentar. Aku rasanya telah begitu lama, aku takut lupa bagaimana memegangnya."
Tentu saja ide itu disambut sumringah oleh Xiao Ying. Dia adalah guru Xiao Yi dalam belajar beladiri selain Xiao Ce.
"Yi'er, Kamu adalah seorang istri raja, tidak terlalu pantas melakukan hal-hal yang kebanyakan hanya dilakukan oleh laki-laki. Ibu akan mengajarimu menyulam sarung bantal, mungkin lebih berguna..."
Belum selesai nyonya Xiao menyelesaikan kalimatnya, Xiao Yi sudah berlari dari hadapan ayah dan ibunya, di ikuti oleh Xiao Ying yang hanya menaikkan bahunya kepada ibunya, tanda dia tak bisa berbuat apa-apa terhadap kemauan adiknya.
"A'ying...adikmu itu selir raja, jangan sampai karena bermain-main, dia tergores atau terluka." Nyonya Xiao hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Xiao Yi yang cerdas dan bijak itu, kadang manis dan lembut juga tetaplah gadis yang keras kepala dan kekanakan.
Meskipun dia telah menikah tapi tingkahnya tidak pernah berubah jika berada bersama saudara-saudara lelakinya.
***
Xiao Yi mengenakan baju berwarna coklat tua dengan ikat kepala berwarna senada. Rambutnya di kuncir tinggi, sehingga wajahnya yang tirus cantik itu menjadi tampak lebih kecil.
Di tangannya, sebuah pedang tajam terhunus, sikapnya yang tegak tanpa gentar itu benar-benar berbeda seratus delapan puluh derajat dari saat dia mengenakan gaun.
Di depannya berdiri Xiao Ying, memegang pedang yang lain, senyumnya menyeringai lebar, telah begitu lama dia dan adik perempuannya ini tidak latihan menggunakan pedang, seperti saat-saat dia belum di kirim ke istana.
Biasanya, dia akan mengalah kepada adiknya itu, demi melihat tawa sumringah sang adik. Dan hari ini dia mungkin harus melakukan lagi, karena dia sangat rindu mendengar tawa riang adiknya lagi.
"Yi'er, sebaiknya kamu gunakan pedang kayu, ini hanya bermain-main saja." Xiao Ce berteriak dari pinggir, dia berdiri bersama beberapa orang prajurit lainnya.
"Tidak kakak, aku ingin seperti sungguhan."
Xiao Yi mengangkat tangannya dengan senyum seorang ksatria lalu dengan sedikit isyarat, Xiao Yi menyerang di sambut dengan pedang Xiao Ying. Bunyi denting pedang beradu di udara, gerakan Xiao Yi yang lincah sekaligus lentur membuatnya seperti menari bersama pedang yang di pegangnya.
Xiao Yi mengeluarkan segenap kemampuannya dalam beladiri, seolah ingin menyiapkan dirinya untuk sebuah pertarungan sebenarnya. Tidak ada celah di berikannya kepada Xiao Ying untuk merangsek, meskipun kakaknya memang jauh di atasnya dalam hal kemampuan tapi keteguhan dan kegigihan Xiao Yi nembuat Xiao Ying menjadi sedikit kewalahan.
Sepeminum teh, pertarungan itu berakhir dengan Xiao Ying terjajar beberapa depa ke belakang.
Xiao Yi tertawa puas, mengalahkan kakaknya itu terasa menyenangkan meskipun dia tahu kakaknya itu tidak benar-benar mengerahkan segenap kemampuannya.
Tepuk tangan riuh dari para prajurit yang menonton di pinggiran tempat pertarungan itu membuat wajah Xiao Yi semakin sumringah, keringatnya berkilat di timpa cahaya matahari yang meninggi. Para prajurit bawahan ayahnya itu merasa cukup beruntung bisa melihat seorang selir raja bertarung di depan mereka.
Suatu hal yang langka.
"Adik, kemampuanmu berkembang pesat meskipun kamu telah lama tidak latihan." Xiao Ce memuji adiknya itu.
Xiao Yi mengembalikan pedang di tangannya kepada seorang prajurit sambil menyeka keringat di dahinya.
"Kakak, istana lebih kejam dari kelihatannya. Aku harus bisa melindungi diriku sendiri tidak hanya dengan otak tapi juga dengan sedikit kekerasan.
Suatu saat kemampuan ini pasti berguna." sahut Xiao Yi berjalan kembali meninggalkan lapangan tempat pelatihan di kamp itu.
"Adik, aku tidak pernah melihat kamu begitu bersemangat seperti tadi. Mungkin jika lawanmu sungguhan, kamu tidak akan segan-segan melukainya."Xiao Ying mensejajari langkah adiknya itu dengan pias bangga.
"Kakak, berada di istana seperti dalam tempat laga. Jika kita tidak waspada, setiap orang bisa menyakitimu dengan berbagai cara. Beberapa bulan terakhir aku telah belajar banyak tentang bertahan hidup di sana. Mengandalkan keberuntungan saja tidak cukup."
"Kalau istana begitu kejam, kenapa kamu tidak berusaha keluar dari sana. Bukankah kamu cukup pintar untuk melakukannya? Dan lagi, pasti banyak yang tidak menginginkan dirimu di sana. Mereka tentu membuka jalan lebar jika kamu mengundurkan diri dari istana."Xiao Ce mengernyit dahinya, dengan kekerasan hati adiknya.
"Kakak, aku tidak akan pernah mundur dari jalanku. Aku telah berjanji akan mendampingi Yang Mulia apapun yang terjadi. Maka aku akan melakukannya sampai akhir. Bahkan aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk tetap berada di sampingnya." Bibir Xiao Yi yang merona itu tampak mengembangkan senyum. Dia membayangkan tidak lama lagi dia akan berjumpa dengan Yang Mulia. Segenap kerinduannya terasa begitu menyesakkan. Dia sungguh percaya, Yang Mulia sekarang benar-benar sedang menunggunya.
"Sepertinya, kamu benar-benar jatuh cinta pada Yang Mulia..." Xiao Ce tersenyum melihat pias wajah adiknya itu.
Demi cinta, seseorang berani bertaruh nyawa!
Sesungguhnya Xiao Yi telah memenangkan pertempuran dengan gubernur Qian Lie, gubernur Yubei di perbatasan Youwu dengan caranya sendiri, dan semua di lakukannya demi cintanya pada Yang Mulia Yan Yue.
(Kisah lengkapnya selir Xiao Yi ada di novel "Selir Persembahan" karya Othor ya dan sudah end lho🙏☺️ mari mampir)