Hai namaku Ivan Hari ini adalah hari yang paling mendebarkan bagiku di sekolah. Mengapa tidak, aku di tembak oleh Primadona cantik di sekolahku. aku tidak begitu mengenal sosok perempuan itu, tetapi entah mengapa dia begitu menyukaiku. bahkan seingetku kita tidak pernah saling berbicara, namun seringkali kita bertatap muka tanpa bertegur sapa.
****
Hari ini adalah hari terakhir kami Ujian kelulusan. seperti biasa, karena ujian telah usai kami membersihkan kelas masing-masing, ketika aku sedang asyik membersihkan jendela kelas, ada 3 perempuan menghampiri di balik jendela luar, yang mengisyaratkan memintaku untuk menghampirinya. tanpa berpikir panjang aku bergegas keluar kelas, tapi aku tak mengerti mengapa hampir semua pandangan tertuju padaku, dan tanpa aku sadar bahwa yang aku hampiri adalah primadona sekolah. Dia adalah Zira, dia seorang wanita cantik yang sangat di idolakan di sekolah. karena dia seringkali membanggakan nama sekolah atas prestasinya bermain bulu tangkis, bahkan dia selalu di puja bagaikan primadona di sekolah. setiap gerak geriknya selalu jadi pusat perhatian di sekolah. Aku berjalan lurus menghampirinya, dan ku hiraukan semua mata menatap kearahku.
''Hai van'' wanita itu dengan manis menyapaku.
''Hai, maaf ada apa ya?'' jawabku bertanya.
''aku tidak tau harus memulainya dari mana, karena Aku pun bingung dengan cara apa aku mengutarakannya'' Zira menjelaskan dengan rasa tegang.
''Bicaralah, kalau memang ada yang ingin kamu bicarakan'' jawabku dengan tegas.
''Sebenarnya aku suka sama kamu van sudah sejak lama,'' Sahut Zira dengan Gugup.
''Hahhh...!!!'' Respon ku spontan mendengar kata-kata itu, seketika bibirku kelu entah harus menjawab apa, aku bingung antara percaya dan tidak percaya. aku harus senang ataukan sedih. senang karena seorang Zira mengutarakan perasaannya kepadaku . atau sedih karena aku hanya di jadikan lelucon olehnya.
''Aaaku,,, tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan'' jawabku mencoba meyakinkan apa yang aku dengar.
''Aku suka sama kamu van, sudah lama aku memendam perasaan ini, mungkin setelah ujian selesai adalah waktu yang tepat untuk aku utarakan semua perasaan aku sama kamu'' Zira menjelaskan.
''Kenapa kamu bisa menyukaiku, kita tidak begitu saling mengenal, bahkan berbicara pun kita tidak pernah''. Jawabku.
''Entahlah, aku menyukaimu dari kelas X, kita pernah satu kelas dan dari sekian laki-laki di sekolah ini mungkin hanya kamu yang tidak tertarik kepadaku, bahkan seperti enggan menatapku. Dari situ munculah rasa penasaranku, aku selalu mengamatimu dari jauh, semakin lama aku memperhatikanmu semakin aku ingin mengenalmu lebih jauh, dan mungkin baru saat inilah aku berani ungkapkannya''. Ungkap Zira.
Seketika aku bingung harus menjawab apa, di satu sisi jujur aku tidak memiliki perasaan suka kepadanya, tetapi di sisi lain aku senang ada seseorang yang sangat berani mengungkapkan isi perasaannya.
''Maaf Zira ,,,
''Sudah tidak usah di jawab sekarang, aku akan kasih kamu waktu untuk memikirkan jawabannya, minggu depan aku akan balik lagi dan aku berharap kamu sudah menemukan jawabannya'' Zira memotong ucapan ku, seperti tau aku akan menolaknya. Dan dia pergi meninggalkanku tanpa menolehku.
Satu minggu berlalu setelah setiap hari aku merasakan beban yang luar biasa, aku berpikir bulak balik menyusun kata-kata yang tepat yang akan aku jawab nanti kepada Zira.
Waktu pun telah tiba, sesuai janjinya Zira menghampiriku saat jam istirahat, dia datang hanya sendiri tanpa kedua temannya.
''To the point aja van, gimana jawaban kamu setelah satu minggu aku kasih waktu untukmu berpikir''. Tanya Zira dengan tegas.
''Maaf yang Zii sebelumnya, Aaku,,,,
''Aku sudah tau jawabanmu, tapi aku tidak peduli dengan itu, maaf untuk kali ini aku ingin bersikap egois, cobalah kasih aku kesempatan untuk menjalani hubungan sama kamu, dan kamu bisa merasakan rasa itu setelah kita jalani semuanya, kalau setelah di jalani memang sama sekali tidak ada rasa aku bakal terima'' Pinta Zira.
Lagi lagi aku tidak bisa menjawab apa pun, aku hanya mencoba memahami maksud dan tujuan Zira, dan aku memutuskan untuk menjalaninya dan memberinya kesempatan. Entahlah dengan apa yang kulakukan, yang jelas aku hanya menghargai usaha seseorang, apalagi sebagai seorang wanita ia sudah sangat berani mengutarakan perasaannya.
Tamat
Terimakasih guys sudah membaca karyaku, maaf jika pemilihan kata-kata dan tanda bacanya kurang tepat. Thanks For Reading 🥰🥰