Kring, kring, ku bunyikan bel sepeda goesku saat melewati pinti gerbang dan saat melewati segerumbulan anak anak cewek, sembari membicarakan sesuatu.
Belum juga mau menepi atau sekedar memberi sedikit jalan. "Permisi, saya mau lewat adakah yang mau memberi jalan?" tanyaku sembari memandang area pintu gerbang ini.
Masih, menunggu dan masih melihat daerah sekitarku berdiri. Nampak, dari tadi beberapa cowok sudah melihat ke arahku, cukup lama.
Ku lirik jam ku. "Sudah pukul tujuh lima belas, sepuluh menit lagi pasti akan masuk," ucap batinku.
Kini sudah ku bunyikan bel sepeda goesku dengan kencang dan berkali kali, namun para cewek ini masih tak mau menepi sedikitpun.
Dengan sedikit kesal aku mendorong sepedaku masuk gerbang sekolah hingga teriakan seorang cewek membuyarkan kerumunan.
"Kau! murid baru rupanya, sembari mendorong sepedaku.
Tak terima dengan perlakuannya, akhirnya aku menaruh sepedaku begitu saja. "Halo!! nona cantik di mana telinga mu, sedari tadi aku sudah membunyikan bel sepedaku," ucapku lantang dan membela diri.
"Hebat!! ternyata telinga nona cantik ini tuli dan mahal jadi suara sekeras ini tak terdengar," ucapku lagi sembari meraih sepedaku.
Merasa tak terima dengan ucapanku, beberapa cewek langsung datang menghampiriku dan membentuk lingkaran.
"Lagu lama!" ucapku sembari menuntun sepedaku masuk. Tapi belum tiga langkah mereka sudah menarikku dan menghempas sepedaku begitu saja.
Melihat sepedaku terjatuh dengan keras, seketika aku meradang, dengan satu dorongan ku hempaskan tubuh cewek ini.
Brugh ... "
Itu yang ku dengar dan ku lihat cewek ini jatuh tersungkur. "Untung aku masih mendorongmu saja."
Namun, di pertikaian ini tiba tiba, mereka semua terdiam menatap ke satu arah dan cewek yang terjatuh tadi langsung berdiri dan tersenyum dan ikut menatap ke satu arah.
"Aneh," ucapku sembari mengambil lagi sepedaku.
Hingga terdengar tepukan tangan dari seseorang.
"Hebat! Hebat," ucapnya sembari bertepuk tangan.
Seketika aku menoleh. "Cowok yang menatapku di ujung gerbang," ucapku pelan.
Tak lama mendekat padaku. "Siapa yang telah berani menganggu pacarku," ucapnya lantang.
Seketika para cewek-cewek ini menatapku dengan terkejut dan tak percaya.Begitu juga dengan ku.
"Jangan begitu Zia, kau lupa, kau harus bersikap sopan menghadapi wanita-wanita ini," ucapnya sembari menarik sepedaku dan menuntunya ke ruang parkir.
Dengan bingung aku mengikuti cowok ini. "Kau!! jangan seenaknya mengaku aku sebagai pacar aku, sebab akibat apa ini, aku pun tak pernah berhutang padamu," ucapku lagi.
"Tenang ... anggap saja seperti itu dan mulai sekarang kau resmi jadi pacarku," ucapnya lagi.
"Enggak. ucapku lagi. Harus mau dan tak ada penolakan, jika kau menolak aku akan terus memaksa," ucap cowok ini sembari menatapku.
"Kenalkan aku Dion dan ingat sejak saat ini kau resmi jadi pacarku dengan waktu tak di tentukan, terserah kau setuju atau tidak."
Kemudian menarik tanganku dan menggandeng tanganku hingga masuk kelas, seketika semua mata menatapku, banyak mata culas dan iri serta tersenyum mengejek.
Mengusir salah satu cowok di bangku sisinya. "Pergi Lex, biar Zia duduk di sisiku."
Waktu berjalan terus merambat, hubunganku dengan Dion berjalan dengan baik, banyak teman-teman cewek yang berusaha untuk menjebak ku atau sekedar mengusikku , tak jarang
mereka mengangguku dengan merusak sepedaku.
Aku hanya tersenyum, saja menanggapinya, hingga tak terasa hampir enam bulan kami menjalin hubungan, tanpa sengaja aku mendengar percakapan rahasia di balik tembok toilet.
"Kau dengar, Dion seorang primadona di sekolah kita mau maunya pacaran dengan Zia. Gadis baru itu! Coba lihat kemana-mana masih tajir kita, cantik kita dan banyak lagi."
Hingga ku dengar ucapan dari salah satu mereka.
"Kau saja yang ketinggalan berita, Dion mau pacaran dengan Zia, karena dia butuh pertolongannya secara kau tahu, Dion itu sedang dalam tekanan dan zia saja yang bisa menolong, secara ... tak melanjutkan ucapannya terdiam sejenak."
"Ternyata ... dan sungguh! Aku baru tahu kemarin Zia itu? Belum sempat cewek ini melanjutkan ucapannya datang seorang cewek lagi.
"Benar Zia itu kaya banget, Dion memacarinya karena butuh perlindungannya dan Dion memacari Zia karena hanya sebagai taruhan saja," ucap cewek ini.
Seketika lututku lemas, seketika aku jatuh terduduk di balik tembok, tak ada suara hanya air mataku saja yang terus menetes, tapi telingaku masih saja mendengarkan ocehan mereka.
"Kau saja yang tak pernah melihat Bodyguard nya Zia, ada beberapa yang selalu berdiri dan mengawasinya, makanya Dion langsung mau jadi pacarnya Zia," ucap cewek ini lagi.
Masih dengan sedihku, semua identitasku sudah terbongkar, lalu kemana lagi aku akan pindah sekolah?" ucapku dengan bingung.
Dengan mengikis air mataku aku tersenyum.
"Dion mari kita lanjutkan permainan ini dan aku akan membongkar semua kedokmu," ucapku pelan.
END