"Gue suka ama Lu."
"Hah??"
"Mulai hari ini Lu jadi pacar gue."
Aku tertohok, diam seribu bahasa, membisu bagai patung. Seorang pria yang tak ku kenal berucap dengan lantang di hadapan orang banyak.
"Cieeeeee....!!! "
"Huuuuuuuuu!! "
Sorakkan dari mereka yang menyaksikan ini berhasil mencabik mentalku.
Pria bermata monolid dan hidung bangir itu yang merengkuh di depan ku lalu menyatakan perasaannya. Kemudian tanpa menunggu jawaban apapun, dia langsung memberikan stempel 'Pacar'.
Stress!!
Satu kata itu ingin sekali ku teriakkan dengan lantang di hadapannya. Namun seolah terhipnotis ketampanannya, aku pun hanya patuh saat ia menarik pergelangan tangan ku untuk pergi dari kehebohan ini.
Gila. Hari pertama jadi murid Baru di SMA Pertiwi, justru membuat ku merasa seperti masuk ke dalam dunia Fantasy. Di lamar sang pangeran tampan, lalu di ajak berkeliling taman istana dengan kuda putihnya. :')
"Panggil gue Bara."
Si Jangkung itu mengulurkan tangan kearahku yang masih kehabisan kata-kata.
"Eira." Aku menjabat tangannya. "Lu sengaja mempermalukan gue?" Tuntut ku.
"Iya.iya maaf. Gue Salah nembak Lu tiba-tiba depan temen-temen." Bara mengetuk-ngetukkan tumit sepatunya di ubin teras Perpustakaan.
"Gak Ngerti." Aku menggeleng mendengar penuturannya yang tidak memuaskan. "Lu tuh ngerusak Hari pertama gue jadi murid baru!"
"Plis, Lu harus jadi Pacar gue mulai hari ini. Tolongin Gue, Sumpah butuh banget!! " Ia menangkup kedua tangannya di dada, memohon dengan nada yang sungguh-sungguh.
"Kenapa harus gue??" Aku menunjuk wajahku sendiri.
"Ya Gak bisa bohong sih, kalau Lu itu manis. Cukup buat buktiin ke Mantan kalau Gue juga bisa dapetin cewek yang lebih baik dari dia." Ucapnya dengan tidak tau malu.
"Mantan?"
"Gue di selingkuhin. Dan Gue harus bales dendam."
Ya Tuhan. Mimpi apa aku semalam hingga di pertemukan dengan Pria menyebalkan seperti dia.
"Dasar gila! Lu pikir Gue cewek gampangan yang bisa di manfaatin buaya!! " Gertak ku seraya pergi meninggalkan Bara yang masih berusaha mencegah dan menyerukan nama ku.
Sumpah. Ini benar-benar merusak Mood ku di hari yang ku sangka akan menjadi awal terbaik.
Sembari menunduk untuk menyamarkan rasa malu, aku berjalan di hadapan teman-teman yang sempat menyaksikan kejadian tadi. Sesampainya di kelas, aku langsung mengubur wajah di atas meja dengan kedua tangan.
"Hei, anak Baru!"
Aku merasa terpanggil saat seseorang berseru dari ambang pintu. Dua orang siswi cantik dengan dandanan nyetil bak model datang menghampiri.
"Ada apa?"
"Jadi Lu Selingkuhannnya Bara sekarang?" Tanya nya dengan nada sarkasme.
"Trus kenapa? Bukan urusan Lu kan?"
Sebagai anak baru, sikap ku cukup berani saat berinteraksi dengan orang-orang di lingkungan sekolah, lagipula Aku tidak merasa mengenal dua perempuan ini.
"Jelas dong ini jadi urusan gue?" Nada bicaranya tiba-tiba meninggi. "Gue Vania, Pacar nya Bara." Perempuan bernama Vania itu berkacak pinggang di hadapanku.
Aku bangkit dan berdiri menyamakan tinggi.
"Maksud Lu, Mantan Bara. Lu kan yang duluan selingkuh?"
"Dasar Cewek gatel!" Vania mendorong tubuhku.
Detik yang sama, Bara datang.
"Tolong jangan ganggu pacar baru gue, Vania." Suara Baritonnya terdengar begitu serius.
Perempuan berambut panjang itu menoleh. "Bara!" Katanya setengah merengek.
Bara menahan Vania saat perempuan itu akan merangkulnya.
"Stop. Jangan ganggu gue lagi." Bara mengabaikan Vania, lalu ia menghampiriku dan lagi-lagi membawaku pergi.
"Aku ada tanding basket sama kakak kelas, Sebagai pacar, Lu harus jadi pemandu sorak paling depan." Manik hitamnya seolah berbicara padaku. Dia benar-benar tampan.
Seperti yang sudah-sudah. Aku hanya pasrah di gandeng oleh Bara. Sementara Vania, berusaha tegar dengan menahan air mata agar tidak tumpah dan melunturkan seluruh make up pada parasnya.
Ku percepat langkah ku agar seimbang dengan langkah pria jangkung yang memegangi pergelangan tangan ku sepanjang jalan, hingga ke lapangan basket. Banyak mata yang tertuju pada kami berdua, tak sedikit tatapan iri dan tidak suka di tunjukkan oleh siswi-siswi cantik di sana.
"Anggap saja ini adalah ajang pamer pacar baru."
Perkataan Bara adalah jawaban dari pertanyaan yang sejak tadi berkelumit di benakku. Terlampau Ngarep :')
Harus ku sebut apa ini? Kesialan? Atau justru keberuntungan.
Yang ku dengar, Bara adalah Kapten Basket Team inti SMA Pertiwi. Laki-laki dengan ketampanan dewa, aktif di Kegiatan ekstrakulikuler serta Juara kelas setiap tahun. Katanya, Bara memiliki lemari khusus di rumahnya untuk memajangkan beberapa piala penghargaan yang ia dapat.
Daebak!!
Info akurat ini aku dapatkan dalam Waktu lima menit setelah jadi pacarnya. Tidak sulit menggali informasi sang Primadona Sekolah seperti dia.
***
Tubuh proposional nya berpeluh, keringat menetes dari setiap ujung rambutnya. Sungguh aura ketampanan sang Primadona terpancar saat ia beraksi di lapangan.
Bara mendrible si kulit bundar berwarna coklat, menggiring, lalu mengoper pada rekan satu team nya. Kemudian berlari dan kembali menerima bola.
Bloommm!!
Satu tembakan ke dalam ring berhasil mencetak dua point.
Tepuk riuh dan sorak sorai dari para siswa yang menonton spontan menambah energi untuk para pemain.
Bara kembali mencetak tiga point di detik-detik sebelum wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya permainan.
Setelah permainan selesai, aku lah orang pertama yang Bara temui di tribun paling depan.
"Makan seblak Yuk! Di Warung seberang sekolah." Ia melirik arloji hitam di pergelangan tangan. "Lima menit lagi jam pulang."
"Hemm... " Haruskah aku mengatakan 'Iya'
"Nggak usah banyak mikir." Bara mengacak pucuk kepalaku. "Buruan!! " Aku di seret lagi seperti tahanan.
Siapapun orangnya tidak akan menolak, jika yang menarik paksa seperti ini adalah Cowok paling tampan seantero jagat.
Pernah bertahan di posisi sendiri, hingga sebutan Jomlo akut melekat padaku sejak dulu. Bukan karena tidak ada yang menyukai ku, lebih tepatnya aku Pemilih dan cinta kebebasan. Bagiku, berpacaran ibarat menjebloskan diri ke dalam penjara, terkekang dengan beragam aturan yang di gadang-gadang di sebut prinsip.
Siang ini terasa semakin terik dan menyengat, terlebih saat jari-jari panjang Bara enggan melepaskan tautan pada tangan mungil ku. Panasnya menjalar ke seluruh tubuh dan mendidih di ubun-ubun.
Aku tau, ini hanya sebuah Game. Karena mustahil seorang Primadona sekelas Bara bersedia menyandang status pacar dari seorang siswi berkaca mata setebal pantat botol dengan rambut yang melulu hanya di ikat ekor kuda. Tapi sejauh ini, aku patut merasa bangga diri. Ini semua karena Dewi Fortuna sedang berpihak padaku. Jangan menolak rejeki.
Menyusuri ujung dunia pun tidak mungkin terasa lelah, jika terus bergandengan tangan dengan pria turunan Dewa seperti Bara.
Nyatanya, kami sudah tiba di sebuah warung kecil khusus tongkrongan anak-anak ketika pulang sekolah. Bara langsung memesan dua porsi Seblak dan dua gelas teh es. Kami memilih duduk saling berhadapan di tempat paling pojok.
Hanya suara napas masing-masing yang dapat ku dengar di sela-sela menunggu pesanan datang. Aku tidak tahu harus memulai darimana percakapan ini. Lidah ku mendadak kelu, telapak tangan ku mulai mengeluarkan keringat dingin. Dan juga, telingaku mendengar jelas suara detakan hebat dari dalam rongga dada.
"Trimakasih banyak, Eira."
Suara bariton itu menarik perhatianku. Saat aku menoleh, Bara sudah lebih dulu menyerang dengan tatapan elang.
"Untuk apa? " Sebisa mungkin ku sembunyikan rasa kikuk ini.
"Terimakasih karena Lu udah mau jadi Pacar Gue."
Dia masih menatapku. Kenapa harus begitu? Membuat salah tingkah saja.
"Pacar boongan kan? Trus keuntungan buat gue tuh apa coba??"
Hanya secuil popularitas yang ku dapat karena berhasil mengencani Bara si Bintang sekolah. Itu semua tidak akan berdampak apapun pada prestasi ku jika masih malas belajar.
"Setidaknya, Gue udah jadi temen Lu di hari pertama sekolah. Kalau butuh apa-apa Lu bisa cari gue."
Mungkin ada benarnya. Semoga ada manfaatnya.
"Dan dalam waktu yang sama, gue juga udah dapet musuh baru. Vania. Cewek Lu itu beneran nyebelin."
Aku masih ingat bagaimana gaya sok highclass nya saat menodong ku dengan sebutan pelakor.
"Gue minta maaf banget untuk yang satu itu. Tenang aja, nanti gue tanganin." Bara menyisir rambut ke belakang dengan jemari tangannya. Dahi paripurna nya seketika membuat takjub.
Tuhan. Selamatkan aku dari silau nya ketampanan laki-laki ini. Aku tidak boleh benar- benar jatuh cinta padanya kan??
"Sampai kapan??"
"30 hari. Gue cuma minta waktu 30 hari aja, setelah itu kita putus dan Lu bebas lagi. Gue pengen banget bikin si Vania beneran sakit hati dan sujud di kaki gue buat minta maaf."
"Oke." Aku menggangguk kecil.
****
Satu Bulan kemudian.....
Aku berjalan menyusuri koridor kelas yang masih lengang. Baru beberapa siswa saja yang berkeliaran di lingkungan sekolah pagi ini. Mungkin aku terlalu cepat berangkat, dan terlalu bersemangat untuk menyambut Ulangan Harian Matematika.
Di ujung lorong, aku melihat dua orang siswa yang sedang berbincang. Mereka tidak lagi asing. Itu Bara dan Vania.
"Ngapain mereka? Balikan? " Aku bermonolog, ada suara retakan kecil di balik dadaku. "Huh! Apa-apaan!!"
Keduanya pernah menjalin hubungan, dan tidak mustahil Bara dan Vania pun memperbaiki hubungan yang pernah kandas.
Tigapuluh hari. Ya! Aku masih ingat perjanjian ini sejak awal. Dan hari ini tepat tiga puluh hari sejak aku dan Bara menjadi Fake Couple.
Semua akan berakhir sekarang.
Segera ku alihkan pandangan pada sebuah ruangan sepi. Perpustakaan sekolah, tempat pertama aku dan Bara berkenalan, dan akan menjadi tempat untuk mengakhiri hubungan Bodong ini.
Mencari posisi duduk yang strategis, sepi, di dekat jendela adalah hal yang tepat sekarang. Ku keluarkan buku catatan Matematika, perlahan ku baca ulang rumus-rumus yang beranak Pinak disana.
"Eira."
Belum sampai lima menit aku duduk. Seseorang datang menepuk pundak, lalu berbisik pelan. Dengan mudahnya ia duduk di samping ku tanpa menunggu perintah.
"Bara. Ngapain Lu di sini. Gue mau belajar." Ku dorong pangkal lengan nya agar menjauh.
"Lu gak lupa hari ini kan? "
Pertanyaan itu berhasil membuatku tercengang. Jantung ku serasa hanyut terbawa arus deras. Seketika aku membatu.
"Aaaa... " Aku menarik napas panjang mencoba tenang. "Kita putus hari ini Ya? "
Tiba-tiba wajahku memanas, ada perasaan aneh yang menyerang. Seperti perasaan tidak rela.
Banyak hal yang sudah ku lalui bersama Bara. Bahkan kami selalu pergi nonton bioskop setiap malam minggu. Aku rutin di antar pulang dengan motor Vespa klasiknya. Dan Bara adalah orang pertama yang ku kenalkan kepada Ayah dan Ibu.
Masih tidak menyangka jika semuanya berakhir dengan mudah. Sejak awal, patutnya aku tahu diri. Bahwa tidak boleh jatuh cinta padanya. Tapi hatiku cukup bebal, rela membuka pintu untuk seseorang yang tidak mungkin menyukai ku.
"Lu balikan sama Vania ya? Tadi gue liat kalian ngobrol."
Bara menggeleng. Ada lengkungan senyum paling indah di wajahnya. Senyum penuh misteri. Kemudian ia merebut buku catatan yang ku pegang. Meraih pulpen dan mencoret kan sesuatu di sampul bagian belakang.
=Bara & Eira=
11 Mei 2022
"Lu ngapain?? Tanggal putus gak perlu di tulis kali." Ku rebut kembali buku tersebut.
"Ra." Ia menahan tangan ku. "Tolong tetep kayak gini. Jadi pacar gue. Bukan cuma 30 hari, atau 60 hari, tapi selama yang kita mau."
Aku melotot, mempertajam pendengaran agar tidak salah lagi.
"Apa?"
"Kita nggak usah putus. Kita jadi pacar beneran ya. Tiba-tiba gue jadi suka banget sama Lu dan gak rela Putusin Lu."
"Bara!! Apaan sih!!"
Dadaku berdebar, terasa akan meledak.
"Gue serius." Ia meraih kedua tanganku. Menggengam lebih erat dan hangat. "Gue suka ama Lu. Tetep jadi cewek Gue ya? Plis!!"
Air mata yang ku tahan sejak tadi akhirnya tumpah begitu saja.
"Ya." Aku mengangguk dan menangis hebat.
Bara menyeka air mataku dengan pelan, ia mengusap rambutku dengan lembut. Aku suka semua tentangnya.
Amor!!! Cinta ku akhirnya terbalas.
Bara, I Love U
TAMAT.