Tak ku sangka, kejadiaan yang menimpaku membuatku memiliki ke anehan, setelah hampir tiga jam tak sadarkan diri, sebut saja aku Nurma gadis masih belia, berumur tujuh belas tahun, cantik itu yang selalu ibu ku ucapkan.
Toh, nyatanya memang seperti itu, bagaimana tidak ayahku yang masih memiliki darah blasteran sementara ibu memiliki sedikit darah jawa yang sangat kental menurutku ini sangat lah keren.
Meski postur dan wajahku milik ayah, tapi kulitku milik ibu, coba bayangkan saja, kulit coklat dengan wajah indo, mata abu abu dan hidung mancung serta postur tubuhku di atas rata rata dan satu hal aku sangat fasih bahasa indonesia.
Sudah hampir tiga tahun aku kembali ke negara ini dan saat ini aku tengah duduk di tingkat akhir SMU ku, berangkat dan pulang sekolah membawa motor sendiri.
Tak ada kendala semua masih baik baik saja dan sesuai dengan alurnya, hingga pagi ini.
"Bu, Nur berangkat," pamitku sembari memakai tas punggungku dan helm capung ke sayangan ku.
Melajukan motor Tril ku yang sedikit di modifikasi dan suaranya yang bisa membangunkan seluruh kampung, seperti biasa ayah selalu tersenyum dan menggelengkan kepalannya saat aku melajukan motor ku.
"Hati hati," ucap ayah sembari menaiki mobilnya.
Tak butuh waktu lama hingga aku tiba di sekolah, terlihat Cius sudah menungguku di area parkiran dengan senyum khasnya.
"Hai ... Nur!" Sapaan khas Cius padaku.
Setelah sepeda aku parkir, aku dan Cius melangkah menuju kelas, seperti hari hari biasanya semua mata tertuju padaku.
"Ius, kita jalan yuk. Sepulang sekolah, sekalian ajak Nurma."
Sapa salah satu siswa laki laki. Ius seketika menoleh ke arahku, tanpa menunggu nya bertanya aku langsung mengangguk tanda setuju.
"Oke lepas, pulang sekolah kita ke Cangar," ucap yang lainnya.
"Gila, itu jauh sekitar dua jam dan jalannya naik turun," ucap Ius ragu.
"Nur, sebaiknya kita batalkan saja, tolak Ius lagi."
"Wah nggak asik kamu Ius ... itu yang mereka ucapkan."
"Hey ! Ingat Nurma, dia cewek."
Aku langsung menoleh menatap Ius.
"Tak masalah kita coba, aku juga belum pernah ke sana. M ... apa itu tadi namanya?" tanyaku sembari mencoba brosing ke mbah gugel.
"Cangar !" Seketika aku mengetik nama yang mereka sebutkan, beberapa saat kemudian.
"Oke, kita berangkat nanti juga malming ( malam minggu)."
"Ssssst !" ucapku menyuruh mereka diam lagi sembari menghubungi ayah dengan berbagai alasan aku utarakan semuanya hingga ijin ku dapat kan.
"Oke kita hajar Cangar," ucapku sembari masuk kelas.
Perjalanan sehari ini pelajaran seakan melambat, hingga akhirnya aku ijin pulang di jam mapel ke dua dan bersama yang lainnya akhirnya kami melajukan motor kami menuju Cangar.
Hampir dua jam perjalanan jalan berkelok, curam dan licin hingga tanpa sadar aku sedikit tertinggal cukup jauh dari teman temanku, andrenalin ku langsung terpacu, karena tak ingin ketinggalan lebih jauh lagi akhirnya ku tambah kecepatan laju motor ku, suara knalpot yang berisik membuat pengendara motor yang lainnya sedikit minggir.
Hingga akhirnya aku tiba di jalanan berkelok tanpa pembatas, tanpa aku sadari dan seakan di dorong sesuatu ,motorku langsung melaju lebih kencang dari yang ku duga.
Yang ku dengar hanya teriakan para pengguna jalan dan suara motorku yang menabrak sesuatu dan seketika aku terpelanting jatuh, di tanah basah dan pepohonan.
Aku masih bisa merasakan sakit di badanku, saat benar-benar aku tak sadar ada di mana.
Seperti melewati waktu yang sangat panjang hingga tubuhku serasa jatuh kembali dan ... sesaat aku sudah berada di suatu tempat, duduk di depan seorang nenek-nenek, rambut tergerai panjang dan gimbal, berjalan sedikit membungkuk.
Menatapku lekat dan tersenyum penuh misteri.
"Aku suka mata abu-abu mu, boleh aku meminjamnya?" tanya nenek itu tiba tiba .
Dengan cepat aku menggeleng. "Maaf, aku tak bisa meminjamkan mataku nek."
Kemudian nenek itu terdiam dan meludah di kedua mataku dan tertawa keras.
"Hhhhhhh ... "
"Hhhhhhhhhh ... "
Air ludah itu serasa menempel meski aku telah membersihkannya.
"Meskipun kau tak mengijinkan. Tapi, aku menyukai warna mata mu, sekarang aku sudah bisa melihat melalui matamu dan biasakan itu," ucap nenek ini lagi.
Kemudian melangkah pergi begitu saja sembari tertawa dan meninggalkan aku sendiri.
Hingga akhirnya aku kembali terjatuh dan ... "
"Akh ... hanya itu yang aku ucapkan."
Seketika ku lihat beberapa orang berbaju putih mendekat dan suara tangisan seorang wanita di sisiku.
Masih dengan air matanya, menatapku hangat di sampingnya berdiri seorang laki laki dengan wajah tegang namun dingin, hanya menatapku dengan gelisah.
Hingga pandanganku, terganggu oleh kedatangan seorang laki laki memakai jubah putih, kemudian memeriksa ku dengan teliti.
Laki-laki berjubah putih ini hanya menggelengkan kepalanya berkali kali, kemudian mendekat pada laki-laki yang menatapku gelisah kemudian saling berjabat tangan dan tersenyum menatapku.
Seketika aku memejamkan mataku dan tak ingin membuka mataku, ada memori yang ku lihat di matanya.
"Nur ... "
Suara seorang wanita memanggilku, aku sedikit membuka mataku dan sedikit tersenyum melihat wanita ini dan memori di matanya sangat, sangat membuatku kagum.
"Nur ... jangan begini, apa kau lupa dengan orang tuamu? Lihat sayang, anakmu sudah melupakan kita," ucapnya lagi.
"O ... jadi mereka orang tuaku!" Kini aku tersenyum menatap mereka.
"Sayang, lihatlah setelah tak sadar selama tiga jam membuat anak kita berubah, kini dengan tersenyum."
Masih dengan raguku, kini aku memilih menutup mataku lagi, karena ada pemandangan yang tak nyaman dan itu membuatku malu sendiri.
Masih dalam bingungku. "Apa yang terjadi denganku, kenapa mataku, ada apa ini? Tak terasa air mataku menitik dengan sendirinya.
Hingga beberapa saat. "Nur!" Panggil ibu dan berusaha membantuku untuk duduk.
"Aneh!" Aku juga tak merasakan sakit di tubuhku hanya ada luka tergores dan warna merah di tubuhku.
"Kita pulang, ayah sedang menyelesaikan administrasinya, ibu sangat bersyukur karena kau baik baik saja," ucap ibu pelan.
Tiba tiba saat aku duduk aku sedikit terkejut saat banyak wajah wajah putih pucat melihatku dan kini aku bisa menembus dan melihat apapun tanpa penghalang.
Tiba tiba muncul rasa takut di hatiku. "Tidak mungkin, ini tidak mungkin," ucapku lagi .
'Jadi yang aku lihat dan kini aku bisa melihat tembus pandang dan menerawang seseorang,' hati ku kembali berguman.
"Apa ini arti dari pertemuanku dengan nenek itu!"
Dengan mendorongku di kursi roda, akhirnya aku tiba juga di tempat parkir, banyak pemandangan jelek yang ku lihat, berkali kali aku pejamkan mataku.
Akhirnya aku sadar akan keahlian yang aku miliki, hal pertama yang harus aku lakukan adalah berusaha se bisa mungkin untuk beradaptasi dengan apa yang ku miliki dan membiasakan diri, untuk menjalaninya.
"Bagaimana , enak kan bisa melihat yang aneh aneh dan bisa menerawang seseorang?" Terdengar suara pelan dan serak di telingaku, seketika aku melihat ke seluruh tempat ini.
"Jangan mencariku, nggak bakalan ketemu!"
Kembali suara ini terdengar pelan berbisik.
"Nikmati saja hingga aku puas meminjam matamu dan aku ingin selama ku pinjam matamu gunakan aji mumpung ini untuk mengetauhi orang orang terdekatmu."
"Bagaimana? Mau kan? Kembali suara ini berbisik.
"Tidak! Pergi! Aku tidak mau, aku tidak mau. Pergi ... teriakku keras hingga membuat ibu terkejut dan menoleh ke arahku ."
"Nurma, ada apa? Suara ibu tak kalah keras.
Sementara ayah yang ke luar dari ruang administrasi segera berlari menghampiri.
"Ada apa Yuna?" tanya ayah bingung.
"Honey, Nurma! Dia berteriak-teriak terus," jawab ibu manja.
Sekilas nampak ayah sedang berfikir, nampak bingung.
"Oke, mumpung kita masih di sini kita temui Dokter lagi."
Mendengar kata Dokter. "No ayah! Nurma baik-baik saja, kita pulang," ucapku takut.
"Ayo bu, kita pulang!" Ajakku lagi.
"Nurma, ini serius dan bahaya, kembali ayah berbicara.
"Ayah, aku oke kita pulang," ucapku lagi.
"Oke, oke tapi jika nanti terjadi hal seperti ini lagi ayah akan langsung membawa mu ke dokter."
Aku hanya menunjukkan ibu jariku tanda setuju.
Hingga tiba di rumah, bangunan kuno peninggalan Belanda yang masih kokoh dan kini aku tempati.
Begitu turun dari mobil, terlihat motorku sudah tak berbentuk. Berhenti sejenak untuk melihatnya.
"Untung aku menyelamat kan mu, kalau tidak kau akan berbentuk seperti itu, kembali terdengar suara berbisik dan pelan."
"Kau!" ucapku bersamaan dengan ayah dan ibu lewat.
"Ada apa Nurma?" ucap Ayah sembari ikut berdiri di depan motorku.
"Ayo Ayah, kita masuk," ajakku pada Ayah agar tak curiga.
Benar dugaanku, begitu tiba di rumah, banyak sekali sosok tak kasat mata sembari terus ku tatap mereka satu persatu dan akhirnya mereka berkumpul jadi satu di bawah .
"Hhhhh ... kembali terdengar suara tawa tapi pelan dan serak dengan me minjam mataku akhirnya kau bisa melihat sosok sosok jelek itu kan?"
Tak ku hiraukan ocehan, suara ini memilih masuk dalam kamarku. "Entah mengapa tiba tiba aku ingin berdiri di cermin kamarku."
Menatap sejenak, aku sedikit memundurkan tubuh ku, ternyata sosok itu ada dalam tubuhku.
"Apa maumu, aku tak pernah menganggumu," ucapku lagi.
"Dengan wajah jeleknya dia tersenyum, biarkan aku hingga tiga puluh hari di tubuh mu," ucap Nenek ini.
"Tidak bisa! Aku tidak mau," ucapku lagi.
"Aku tak pernah berhutang apapun padamu, jelaskan apa maksudmu," ucapku lagi.
"Bocah bodoh, meski kau menolak aku tetap mengikutimu, aku suka matamu bodoh!!"
Perdebatan terus berlangsung hingga akhirnya Ayah memanggilku dengan keras.
"Nurma!!"
Seketika aku terdiam. "Kau jangan gila Nurma, berbicara sendiri."
Kemudian ayah mengambil ponselnya dan hendak menelpon seseorang. "No! Ayah , Nurma baik-baik," jawabku cepat.
"Oke, sekali lagi, Nurma seperti ini ayah tak akan memaafkan."
Seketika aku menunduk lemas, akhirnya aku yang kalah dan harus berdamai dengan sosok ini.
Hingga waktu berlalu, banyak kejadian yang tak ku duga, banyak hal yang ku lihat dan teman teman juga mulai menjauh dariku, karena takut akan ucapanku dan terbuka aibnya.
Tapi ada perubahan yang lambat laun tak ku sadari, seperti ucapan nenek ini, aku seperti aji mumpung dan melakukan semua dengan semaunnya sendiri.
Makin lama aku pun makin malas untuk mandi, sehari dua hari bahkan sampai tiga hari aku malas untuk menyentuh air, kini sudah hari ke dua puluh delapan.
"Pergilah dari tubuhku, aku tak ingin ke dua orang tuaku menganggapku gila dan pengaruhmu sangat besar buatku, aku tak mau."
Kembali aku berbicara di depan cermin dengan sosok ini, tinggal dua hari aku sudah capek," ucapku lagi.
Sosok ini tak menjawab hanya menatap ku tajam.
"Ikutlah dengan ku kau, akan aman bersama ku," ucap sosok ini.
"Aku tak mau, kau jangan memaksaku!!"
"Hhhhhhhh ... apa yang kau tunggu hah, lihat mereka dan teman temanmu," ucap sosok ini lagi.
"Aku tak mau aji mumpung mu ini. Aku juga tidak suka! kau menyakiti ku," ucapku sembari menangis.
"Hhhhhh ... aku! Aku yang menyakitimu.
"Oh ... tidak! Tidak. Bukan aku. Lihat dirimu sekarang," kembali suara ini berbisik pelan.
"Kau ... jahat. Aku tidak mau. Aku tidak mau melihat hal yang aneh-aneh, aku ingin Nurma yang dulu, bukan Nurma ini !! Seketika amarahku memuncak dan menghantam kaca di depan ku.
"Praaang ... suara kaca terberai."
"Ikutlah denganku Nurma, aku akan selalu melindungimu dan akan memberitahumu hal-hal yang tidak kau dan orang lain tahu. Ikutlah ... ikutlah ... ambil kaca itu dan gores ke tanganmu atau kau tusukkan ke mana saja."
"Aku ingin membunuhmu, aku ingin kau keluar dari tubuhku," teriakku keras.
"Mati. Matilah jika kau ingin aku keluar dari tubuhmu," seketika aku terdiam .
"Ikutlah denganku Nurma, jika kau ikut denganku aku akan keluar dari tubuhmu."
"Kau, jahat ... kau jahat!! Aku tak mau bisa melihat tembus pandang dan aji mumpung ini. Aku juga tak mau."
Kini aku tergugu dalam kamarku, pecahan kaca sudah berserakan di mana-mana, mataku menatap nanar pada pecahan kaca ini.
Sedikit merangkak meraih serpihan terbesar dan runcing, tersenyum sesaat. "Kau jahat, jika ini maumu dan sekarang keluarlah dari tubuhku."
Ku pegang erat serpihan kaca ini, tanganku sudah berdarah kembali tersenyum dan ... "
"Ayah .... panggilku keras sembari ku tancapkan serpihan kaca ke tubuhku, seketika tubuhku roboh di lantai dan bersimbah darah. Masih di abang sadarku.
"A...Ayah maafkan Nurma."