CERPEN Ditembak Primadona di Sekolah
“kriiing!!” terdengar suara alarm pada ponsel Joe yang keras dan nyaring hingga berbunyi berulang kali. Seberapa banyak pun Joe memasang alarm hingga berjeda di setiap lima menitnya, Joe tak kunjung bangun dan membuat seluruh keluarganya merasa geram hingga sering mengatainya dengan sebutan tuli. Namun suara alarm pada ponsel Joe tak ada apa – apanya, dibandingkan dengan suara Ibunya, yakni Bu Surti yang telah melegenda akan kecemprengannya. Alarm pertama hingga terakhir telah terlewat, namun Joe tak kunjung bangun dan masih asyik mengorok.
Kini tiba saatnya bagi Bu Surti untuk turun tangan membangunkan Joe. “brak!” dibukanya pintu kamar Joe dengan keras oleh Bu Surti. Sembari membawa sebuah wajan teflon di tangannya, Bu Surti siap meluncurkan jurus rahasianya. “pokk!, pok!, pok!, bangun Joe!” teriak Bu Surti sembari memukul punggung dan pantat Joe dengan arogan. “aduuhh, sakit buk!” Joe merintih kesakitan. “cepet mandi dan siap – siap!, hari ini hari pertama kamu ke sekolah!, pok!, pok!” ucap Bu Surti dengan kedua matanya yang melotot ke arah Joe.
“aduh sakit buk, ini sih namanya kekerasan dalam rumah tangga!, dan penyiksaan terhadap anak di bawah umur!” sahut Joe sembari bangun dari tidurnya dan melarikan diri dari pukulan Bu Surti. “siapa yang kau maksud bawah umur?, usia remajamu saja sudah kelewat jauh, tapi masih bisa kau bilang di bawah umur!” Bu Surti mengomel keras menyahuti Joe.
Joe adalah siswa kelas 2 SMA yang terkenal nakal, suka tawuran, senang membuat kerusuhan, bahkan sering memalak teman-teman di sekolahnya. Semenjak Joe duduk di bangku SMP hingga saat ini, ia telah dua kali tinggal kelas, dan sudah empat kali berpindah ke sekolah lain. Namun ujung – ujungnya Joe hanya mencetak rekor kenakalan hingga ia dikeluarkan dari sekolah. Bahkan beberapa sekolah pun memutuskan untuk memblacklist Joe, karena kenakalannya yang sungguh luar biasa dan telah terkenal seantero dunia pendidikan.
Karena keluarga Joe berasal dari keluarga terpandang dan berlimpah harta, Bu Surti dan suaminya Pak Joko mengandalkan kekuatan uang, dan berani membayar mahal pada sekolah yang mau menerima anaknya. Banyak sekolah telah mereka datangi, namun bukan kabar baik atas penerimaan yang mereka dengar, namun hanya penolakanlah yang terus mereka terima.
Hingga akhirnya salah satu sekolah yang cukup terkenal dan berlokasi di tengah kota mau menerima Joe, dengan syarat mutlak yakni Joe dituntut berubah menjadi murid yang lebih baik dan menghindari masalah. Jika ia melanggar syarat tersebut, Joe akan dikeluarkan dari sekolah dan akan kehilangan kesempatan terakhirnya untuk bersekolah. Karena terbentur usianya yang sudah mepet, jadi hanya inilah kesempatan terakhir Joe untuk bersekolah.
Maka dari itu, Bu Surti dan Pak Joko memaksa Joe untuk merubah sikap, watak, sekaligus penampilannya saat berada di sekolahnya yang baru. Joe harus berpura – pura menjadi laki – laki polos, culun, serta pendiam di sekolah. Melawan 360 derajat dari watak aslinya, dan memasang topeng kepalsuan untuk berubah menjadi pribadi yang amat dibencinya. Rambut rapi, baju dimasukkan sesuai ketentuan, serta berperilaku kalem, Joe telah siap berangkat sekolah.
Di sekolah.
Joe berjalan menuju ruang guru melewati koridor sekolah yang begitu panjang. Namun penampilan Joe yang nampak sederhana dan cenderung cupu, membuat Joe menjadi bahan perbincangan para murid yang tengah duduk santai di pinggiran koridor. Dengan mental yang kuat, Joe yang percaya diri itu meneruskan perjalanannya dengan santai menuju ruang guru yang terletak di ujung koridor sekolah.
Namun dalam perjalanan menuju ruang guru, mata Joe menatap tajam pada seorang murid laki – laki yang sedang menggenggam kuat tangan perempuan yang ada di depannya, namun perempuan tersebut nampak merintih kesakitan tak tak nyaman dengan keberadaan laki – laki tersebut. Hampir teralihkan akan tujuan utamanya, tangan Joe yang sudah gatal itu pun ingin sekali memberi sedikit pelajaran, namun mengingat kewajibannya untuk menghindari masalah, Joe memilih diam dan tak mempedulikan kedua murid tersebut.
“udah aku bilang, aku gak bisa nerima kamu!, sekalipun kedua orang tua kita menjodohkan pun tetep aku gak mau sama kamu!” terdengar suara perempuan cantik itu berbicara dengan cukup keras. “jangan sembarangan, hanya akulah yang pantas menjadi pacarmu!” laki – laki itu menyahut dengan nada membentak. Banyak murid di sekitar yang hanya menyaksikan tanpa berani melerai. “kata siapa kamu pantas!” perempuan tersebut membentak balik.
Melewati kedua murid itu, Joe terkejut tiba – tiba tangannya ditarik oleh perempuan cantik tersebut secara tiba - tiba. “apa kamu jomblo?” ucap perempuan itu dengan agresif. Joe yang memang polos dalam hubungan asmara hanya mengangguk kebingungan. “oke, mulai saat ini kamu adalah pacarku!, kamu milikku dan aku milikmu!” ucap perempuan itu dengan serius menatap Joe. “apa???” Joe, laki – laki itu, beserta murid lain yang tengah duduk bersantai pun seketika terkejut. Apalagi Joe, ia hanya melongo kebingungan mendengar seorang perempuan yang berparas cantik itu tiba – tiba menembaknya sebagai pacar. Karena di sekolahnya dulu, banyak gadis yang menjauhi karena kenakalannya.
Namun saat ini seorang gadis perfect di depannya malah menyodorkan diri untuk bisa menjalin hubungan asmara bersama. “gak bisa!, kamu gak bisa bersama laki – laki culun ini!” ucap laki – laki itu sembari menunjuk ke arah wajah Joe. Tak fokus dengan ucapan laki – laki yang mengatainya, otak Joe masih loading memikirkan ucapan perempuan cantik itu terhadapnya. “mulai sekarang jauhi aku, karena sekarang aku pacarnya dia!, ayo sayang kita pergi!” perempuan itu menyahut sembari menggandeng tangan Joe meninggalkan koridor.
Dengan menurut, Joe yang tengah digandeng itu mengikuti perempuan tersebut ke ujung koridor. “kamu tadi bilang...” belum selesai Joe berkata, perempuan tersebut menyela “udah jangan tanya lagi, mulai sekarang kita resmi pacaran!, nama kamu siapa?, kenalin aku lefi!” sahut Lefi sembari mengulurkan tangannya. “oh, aku Joe!” Joe menimpali dan menjabat tangan Lefi. “aneh ya, kita udah pacaran sebelum kenalan!, hehe!” sahut Lefi dengan tersenyum manis.
Di kelas.
“anak – anak, kenalkan anak baru di kelas kita, silahkan memperkenalkan diri!” ucap Bu Sita di depan kelas. Dengan penasaran, seluruh murid menatap pintu menunggu siapakah murid baru di kelas mereka. “tak, tak, tak” Joe melangkah masuk ke dalam kelas. Melihat tampilan Joe, seluruh murid pun nampak saling berbisik membicarakan Joe. “ganteng sih, tapi penampilannya kuno banget deh!”, “posturnya bagus sih!, tapi kalau di ajak keluar malu – maluin!”, “haha, paling dia datangnya dari desa!” terdengar sahut menyahut para murid dengan riuh. Nampak Lefi tengah tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah Joe, hingga membuat wajah laki – laki yang telah ditolak Lefi pun semakin memerah seperti tersulut api.
“namaku Joe!” ucap Joe dengan singkat. “nama lengkapmu ?” murid lain menyahut penasaran. Menutupi nama aslinya yang terkenal nakal, Joe pun sembarangan menjawab “Joni!”. Seketika tawa di kelas pun pecah “hahahaha”, “gua kira Joe siapa, eh gak taunya cuma Joni!” terdengar beberapa teman lainnya meremehkan nama yang Joe ucapkan. “kurang ajar, baru kali ini gua dipermalukan, kalau gak berpura – pura, mungkin udah habis kalian semua!” ucap Joe dalam batin. “sudah – sudah jangan ramai!, Joe kamu duduk di sebelah Lefi!” ucap Bu Sita sambil menunjuk bangku Lefi. Mereka berdua pun duduk bersebelahan.
Selama di kelas, Joe terus berpura – pura menjadi pria yang pendiam dan mengikuti seluruh pelajaran dengan tertib meskipun sesekali ia tertidur. Melihat Joe yang tidur dengan terduduk, Lefi menyangga dagunya dan terus menatap Joe yang tengah tertidur di sampingnya. “hoamm!” Joe menguap dan matanya mulai terbuka. Alangkah terkejutnya Joe melihat gadis cantik yang mendadak jadi pacarnya itu tengah menatap ke arahnya, hingga Joe pun menjadi salah tingkah dan terlihat malu.
“kenapa kamu ngeliatin terus?” ucap Joe dengan bergaya sok cuek dan malu – malu. “emang salah kalau aku ngeliatin pacarku tidur?” sahut Lefi menjawab. “dag, dig, dug, doorrr!” jantung Joe bergetar hingga ingin meledak. Rasanya meleleh hati Joe mendengar ucapan Lefi yang terus menyebutnya sebagai pacar. “Mimpi apa gua semalam?” ucap Joe dalam batin.
Melewati hari pertama di sekolah baru sekaligus hari pertama jadian, sungguh membuat Joe begitu syahdu dan penuh syukur. Namun kesyahduaannya ternyata tak berlangsung hingga malam. Karena sepulang sekolah, nomor Joe terus di teror oleh pesan spam dan telefon dari laki – laki yang berisi ancaman untuk menjauhi Lefi. Terlalu sering Joe berurusan dengan kekerasan verbal maupun fisik, gertakan – gertakan yang ia terima bagaikan tahu tempe baginya, terlalu biasa.
Hari berganti hari, intensitas ancaman pun semakin sering Joe terima. Karena Lefi adalah seorang primadona di sekolah, tak sedikit laki – laki yang mengejarnya hingga menggunakan segala cara, termasuk mencoba menjauhkan Lefi dari Joe dengan cara mengancam Joe. Tak hanya cacian pada pesan maupun telefon yang ia terima, namun mereka semakin berani bertindak berlebihan di sekolah, dan condong ke arah bullying.
Sungguh besar emosi yang Joe lampiaskan setiap harinya pada samsak tinjunya di kamar. Sepulang sekolah ataupun saat hatinya kesal, Joe selalu meninju samsak dengan arogan untuk meredam amarahnya yang terasa ingin meledak – ledak. Namun beruntungnya Joe, Lefi adalah perempuan baik yang selalu membelanya. Saat teman sekelasnya membully Joe, Lefilah yang pasang badan dan melindungi Joe yang masih harus berakting menjadi pribadi yang lemah di sekolah.
Bulan berganti – bulan, Lefi dan Joe semakin dekat dan tak ada rasa canggung lagi bagi mereka berdua untuk berbincang dan tertawa bersama. Meskipun sudah beberapa bulan mereka berpacaran, Joe belum pernah mengajak Lefi untuk keluar meskipun hanya sekedar makan malam atau nonton film. Akhirnya Joe memberanikan diri untuk mengajak Lefi makan malam bersama. Singkat cerita, mereka berdua janjian bertemu di salah satu cafe mewah. Belum lama mereka tiba, nampak Agus, laki – laki yang tanpa lelah mengejar cinta Lefi. Agus beserta teman – temanya mendatangi meja Lefi dan juga Joe.
“lu punya duit gak? Nongkrong disini mahal, jangan bilang lu minta bayarin Lefi!” Ucap Agus meremehkan. Joe tak terpancing, dan mencoba diam. “apa sih gus, jangan bikin onar deh!” Lefi menyahuti dengan ketus. “kenapa lu diem aja? Lu banci? Hahaha” ucap Agus beserta teman – temannya. Lagi – lagi Joe meredam amarahnya yang terus meninggi. “ternyata lu pengecut ya, gak pantes buat dapetin Lefi!” ucap Agus sembari mengelus pundak Joe.
Kini emosi Joe semakin meninggi, saking tingginya ia tak sanggup mengontrol kedua tangannya. “buuk!” Joe menjotos wajah Agus dengan keras, hingga Agus pun tersungkur ke lantai. “kurang ajar!” sahut teman Agus yang lain. Joe melemaskan jari – jarinya. Ketiga teman Agus pun mencoba mengeroyok Joe, dengan menyerang dari sisi yang berbeda. Namun kemampuan bela diri Joe yang baik, membuat ke empat pria itu tersungkur dengan lemas di lantai.
Tak terima, Agus pun mencoba mencari bantuan “gua kenal pemilik cafe ini, dia jago berkelahi. Pasti dia bakal nolong gua, dan bikin perhitungan sama lu!” ucap Agus sembari mengeluarkan ponselnya, dan menelfon priayang baru saja ia sebut. Tak lama, seorang pria berbadan kekar datang mendatangi ke tempat keributan. Menatap ke arah Joe, pria tersebut nampak kaget. “bisa – bisanya lu main kesini gak ngabarin gua broh?” ucap pria kekar tersebut dengan senyum sumringah ke arah Joe. “mereka berempat cari masalah!” Joe menyahuti dengan santai. “Agus!!?” pria kekar tersebut kaget menatap Agus yang wajahnya babak belur oleh bogeman yang Joe layangkan.
“jadi lu bikin masalah sama Joenath? Lu gila apa!” pria kekar itu berkata sembari mendorong kepala Agus dengan cukup keras. “Joenath?” seketika Agus dan ketiga temannya terbelalak kaget dan semakin gelisah. “jadi nama asli kamu Joenath? cowok yang terkenal bandel dan ketua geng? Bukannya Joni?” Lefi yang ikut syok bertanya dengan penasaran. “iya!, maaf in aku ya, karena udah bohong sama kamu!” ucap Joe dengan penuh penyesalan. “iya, mulai sekarang mari kita jalani hari – hari selanjutnya dengan kejujuran diantara kita ya!” sahut Lefi sembari memeluk tubuh Joe dengan tersenyum.