“Sampai jumpa tuan badut!” Ucap seorang anak kecil laki-laki tersebut sambil melambaikan tangannya. “Sampai jumpa lagi!” Jawab badut tersebut sambil ikut melambaikan tangannya. Sungguh hari yang menyenangkan bagi Badut tua tersebut karena bisa menghibur banyak anak kecil sore ini.
Setelah mendapat bayaran, Badut tua tersebut melangkahkan kakinya menyusuri jalanan pinggir kota sambil menenteng tas bawaannya. Hari semakin malam dan Badut tua tersebut tetap melangkahkan kakinya entah ke mana. Suara klakson mobil yang menjerit dan lantangnya sinar lampu-lampu antar bangunan menemani langkah si Badut tua.
Akhirnya Badut tua tersebut duduk pada sebuah bangku taman yang sudah cukup sepi. Ia membuka tas yang dibawanya lalu mengeluarkan sepotong roti dari dalam. Sembari memakan sepotong roti, Badut tersebut tiba-tiba menitikkan air matanya. Tangis si Badut tersebut teredam oleh ramainya kendaraan mobil maupun motor yang lewat tidak jauh dari taman. Bahkan sampai roti yang dimakannya habis, Badut tua tersebut masih menangis tersedu-sedu.
“Lihatlah dunia! Ada Badut mengenaskan yang sedang menangis di tengah malam.” Ucap seseorang sambil berteriak. Badut tua itu pun langsung menghentikan tangisnya dan menoleh ke belakang melihat siapakah gerangan yang mengejeknya. Seorang pemuda mengenakan seragam putih abu-abu sambil menggendong tas sekolah tersebut menatapnya remeh. Pemuda itu pun melangkahkan kakinya lalu duduk di samping si Badut. “Kenapa kau anak muda malam-malam di sini masih mengenakan seragam?” Tanya si Badut tua. “Menurut Anda apa yang dilakukan seorang pemuda sepertiku di tengah malam?” Tanya kembali si pemuda. Badut tersebut tidak menjawab.
“Apa yang Anda tangisi di tengah malam seperti ini? Tidak mendapat uang?.” Tanya pemuda tersebut. “Aku selalu senang saat bisa menghibur banyak anak-anak, tetapi saat semuanya sudah selesai dan mereka pulang aku merasa kesepian sehingga aku hanya bisa terus menangis. Uang bukanlah segalanya bagiku, tapi menghibur anak-anaklah yang membuatku terus ingin hidup walaupun aku tidak punya keluarga.” Jelas si Badut tua.
“Hei Pak Badut tua, bagaimana bisa Anda hidup dengan menghibur orang lain tetapi tidak bisa menghibur diri sendiri?” Tanya laki-laki tersebut dengan lantang. “Entahlah, aku merasa bisa membahagiakan orang lain ketika memakai pakaian ini” Ucap si Badut tua sambil menunjuk pakaian yang dikenakannya. “Setidaknya bahagiakan dulu diri Anda sendiri sebelum Anda membuat orang lain bahagia, jangan egois dengan diri Anda sendiri.” Ujar pemuda tersebut yang malah menasihati. Mendengar perkataan pemuda di sampingnya, Badut tersebut terdiam. 'Apa aku sangat egois pada diriku?’ Tanya Badut dalam hati.
“Jangan terlalu dipikirkan, mari nikmati malam ini.” Ucap pemuda tersebut sambil merogoh mencari sesuatu di dalam tasnya. “Minumlah, ini hanya soda biasa.” Pemuda tersebut memberikan sekaleng soda kepada si Badut tua.
Setelah menerima soda tersebut mereka meminumnya bersama. “Kau benar, aku hanya badut tua yang egois. Mulai sekarang aku harus peduli terhadap diriku.” Ucap Badut tua sambil menatap mantap pemuda tersebut. “Ini sudah semakin malam, ayah dan ibumu pasti mencarimu.” Ujar badut tua. “Aku tinggal di Panti Asuhan, jika masih kesepian datanglah berkunjung di dekat stasiun. Tetapi jangan berharap aku bisa membayar.” Ujar Pemuda tersebut sambil terus meminum sodanya. “Baiklah, aku akan membayar soda ini dengan menghibur di sana.” Jawab Badut tua tersebut sambil mengangkat kaleng sodanya. Malam itu pun mereka nikmati dengan sekaleng soda.
Beberapa hari kemudian, Badut tersebut datang dan menghibur anak-anak panti asuhan. Bahkan tidak hanya sekali, Badut tua tersebut biasa datang pada hari Minggu. Suara riuh tawa pun bergema di seluruh Panti ketika Badut tua itu mulai beraksi. Tidak hanya anak-anak panti, tetapi Badut tersebut bahagia.
'Bahagiakan dulu dirimu sendiri sebelum akan membahagiakan orang lain, janganlah egois karena dirimu juga perlu kebahagiaan, tidak hanya kesedihan yang selalu dipendam.' –Yogyakarta, 17 Oktober 2020