Depresi menghantam bersama sepi.
Suara-suara itu bagai desis lebah yang tak mau pergi.
Disini begitu dalam, aku ingin keluar, terlalu jauh untuk memanjat.
Aku menutup kedua telingaku, memejamkan mata, tak ada gunanya.
Aku tak mendapat oksigen dari rumahku.
Aku hanya mengandalkan telapak kaki dan mimpiku.
Semuanya terasa mengambang.
Dalam sepi, kutuliskan semua itu diatas kertas dengan tinta berbau logam.
Pikiranku melayang pada hitam dan putih.
Sebuah jaring datang.
Menjerat ketakutan dan menangkap mimpi.
aku akan bebas.
- • -