Sudah lama sekali berpergian, tak menetap bahagia melainkan tangis di kesunyian.
"Dek? Kenapa baru datang?" Kak Lefan menyambut, heran campur prihatin.
Melihat adik cerewetnya berubah sangat drastis, sejak meninggalkan kota imaji, tak lagi tersisa warni.
Hanya bergeming. Menahan bulir-bulir supaya tak banjir di pelupuk.
"Dek, sudah pernah kakak bilang, jangan pendam. Kalau mau nangis, tidak perlu di tahan-tahan." Ah, Kak Lefan sudah paham betul karakter gadis aksara.
"Ternyata .. Bukan di realita kebahagiaanku tapi disini kak!" Merengek, sangat sesak.
Sambil menunjuk-nunjuk jejeran bait telah lama di tinggalkan, berdebu, lusuh tak terurus.
Tanpa sadar, perlahan keterlukaan terganti oleh sifat menyebalkan sosok berkacamata di temui saat nyaris nyasar di kota london.
Terima kasih ..
Sudah menarik nafsi ke simfoni, menjahit-jahit luka lewat larik sembari berjelajah kota penuh ketenangan. []