Dendam Pribadi
Resna POV
Sa harus cepat ke tempat Riky, kalau tra, bisa terlambat temani dia ke skyland nih. Duh..Anindita masih kuliah online lagi. Bagaimana eh minta kunci motornya? Pakai alasan apa eh supaya de kasih? Sa bingung sendiri lagi.
Cling! Dapat ide, "Nin..ko masih lama toh di sini?" Kataku dengan semangat.
Sa lihat dia balik dengan wajah melongo, "iyo..kenapa jadi? Masih kuliah online nih." Kata Anindita sambil nunjuk pelan ke arah HP.
Sa berpikir dengan matang tentang ide yang barusan tiba di sa kepala, "sa bisa pakai motormu kah?"
Sa lihat dia berbalik bengong lagi, seperti .. Menolak ditinggalkan sendirian, "mo ke mana kah?" Kata Anindita kepo.
"Ah..sa pakai ganti baju cepat-cepat saja, setelah itu sa balik tempo ke kampus."
"Oh..kunci di sa dalam tas." Sambil menunjuk ke arah tasnya yang tra jauh itu dari Anindita duduk.
Sa kode ambilkan kuncinya dengan buru-buru, gelisah. Syukur dan bodohnya adikting ku itu tra curiga kalau sa keperluan bukan ganti baju.
Ah..epen kah, buat apa merasa salah sama Anindita? Lagian..dia tra bisa marah mo sama sa, lalu sa raih kunci motor itu dengan girang tapi sebisa mungkin menyembunyikan wajah sumringahku depan dia. Bisa-bisa jadi intograsi panjang.
Sa lihat ke arah Andrei, "Andrei..sa titip Anin di ko dulu eh?" Teriakku dengan semangat.
"Kakak mo ke mana jadi?" Notasi dengan tra suka sa dengar.
Sa mengulum senyum pasti dan tra buat dia gelisah, "ah..sa ke rumah mo ganti baju dulu, cepat-cepat saja baru sa balik lagi ke kampus." Lagi, sa bilang supaya Anindita tra menguping kalau alasanku bukan ke sana.
"Memangnya dia barang apa, mo titip segala. Yo..kakak potem sudah."
Menghelakan napas lega.
Saat su tiba di tujuan, Riky berdiri diujung jalan, segera mengambil dia lalu pergi ke skyland.
"Anin tra marah kah?" Kata Riky sedikit risi dengan sa sikap ini.
Karena, "tadi sa alasan ke Anin kalau mo ganti baju, lagian de masih ikut kelas online juga mo. Mana mo marah, apalagi marah ke sa?" Tra tahu kenapa sa puas sekali sampaikan hal ini ke adik kandungku sendiri.
Tapi, diluar dugaanku, dia justru tidak suka dengan penuturanku barusan. Buat sa berdecak kesal.
Melirik jam sudah ada satu jam lebih sa kasih tinggal Anindita di kampus, ah..benar juga kan, ada Andrei. Buat apa sa gelisah dan pusing pikir dia?
Anindita POV
Sa masih ikut kelas online, belum lama ini juga Resna ijin ke rumah, kelas berakhir.
Tadi, sebelum kelas berakhir, "Nin..ko masih lama toh disini?"
Sa balas _iyo, kenapa jadi?_ dengan kening satu naik, bingung.
"Ah, sa mo ke depan dulu sebentar, tolong jaga sa tas ee?"
Tra tahu kenapa sa hanya mengangguk saja.
Ini sudah lebih dari setengah jam Andrei tra balik kampus, dengan cepat ambil keputusan telepon dia. Ternyata .. "sa di intan rumah nih, tunggu sudah di sana, sa ke kampus sekarang."
Deg. Kok ada arus listrik menghancurkan pertahanan percayaku dengan mereka berdua?
Mendadak dadaku berpacu abnormal, marah, pen nangis, kecewa. Arg. Bercampur jadi satu!
"Ko telepon Kakak Resna sudah, de su di mana, kayaknya sa masih lama jadi di Intan." Kata Andrei dengan santai tanpa salah sedikitpun.
Jadi? Selama ini sa tra berarti di lingkup mereka?
Benar. Kata kaktingku kalau sa sekedar di manfaatkan karena apa? Yah..sa nilai disebabkan uangku. Terlalu baik dalam menaruh kepercayaan.
Tut..tut.. Bravo! Lengkap sudah hari ini sudah berulang kali sa di kecewakan!
Arg. Gemeretak hati, buat sa ingin menampar mereka berdua. Tra kuat sekali hadapi sifat mereka yang semena-mene seperti ini!
Bulshit!
"Terserah! Sa mo pulang! Ko di Intan saja! Resna tra angkat sa telpon!" Buar! Amarahku pecah sudah.
Napas tersendat-sendat, mata berkaca-kaca, dada terasa sesak.
Saat naik taksi sa ingat satu temanku, Alfi. Benar, sa harus mintol dia, tidak lucu kan kalau sa pingsan di jalan karena kondisi fisik dan pikiran lagi kalut, kacau seperti ini, semakin buat sa kepala sakit.
Menceritakan detail cerita tersebut, ternyata sedikit lega. Tra enak hati, ulang terus ku katakan kalau tra memberatkan dia kalau antar sa pulang ke sentani. Tetap di jawab _trapp_
Rabb..pen menangis, kenapa kepercayaanku di patahkan dan diinjak seperti ini, kakting lagi. Oh Tuhan..pen damprat takut dosa!
Arg. Kesal dah!
"Thanks su antar ke sentani, maaf merepotkan, hati-hati eh?"
Resna POV
"Ah..Anindita de kenapa lagi?! Tra bisa di telpon nih Andrei?!" Kesalku.
"Kakak coba tes telpon lagi?"
Sa menggeleng frustasi.
"Memang sih, tadi di telpon de mo pulang. De marah keknya sama kakak."
Sa terbelalak. Terkejut, marah.
Jih..terlalu labil sekali! Kek anak kecil sampe!
Sa emosi, Anindita tra respon. Dis saja di status whatsapp. Epen kah, siapa suruh pulang tra bilang-bilang.
Oh, betul sekali. Sa chat di nomor satu. Kebetulan dia belum blokir sa.
Saat sudah marah dia, agak lega, tetap saja bikin jengkel deng sikapnya terlalu kekanakan itu.
Ah. Sa buat status di FB saja, siapa tahu Anindita baca.
Atau..sa ceritakan saja sudah apa yang de sampaikan ke sa tentang Yesil dan Bambang.
Sa pun tersenyum jahat. Tobat ko, Nin! Siapa suruh pulang ke rumah tra bilang.
Anindita POV.
Sa dapat kasih tahu via telepon dari kakting, Leni kalau ada lihat status Resna di FB. Sa jawab tra sama sekali.
Saat esok harinya, Kak Leni kasih lihat statusnya dan komentar Bambang.
"Ih..lucu sampe, siapa yang salah dan siapa yang harusnya marah, kok lucu sih kak?" Kok sa tra terima sih?
Jelas..sa tra balas sindirannya. Berusaha nahan diri semalam membuncah kabar retak dari Yesil kalau di mataku anggap mereka binatang.
Allahuakbar! Pen ku cobek mulutnya pakai cabe, kok salah besar, pen bela diri sih?
Yang kekanakan sebenarnya siapa sih?!
Ih..kesal dah!
Dendam pribadi melibatkan orang terdekatku, semakin bikin sa emosi sendiri.
Arg.
Su trada temanku yang percaya lagi deng sa.
Akibat buat baik sama orang bermuka dua, ko harus tanggung resiko yang jelas bukan ko salah, Nin, siapa suruh baik sama semua orang! Ko lagi nih terlalu percaya orang! Ko dapat kakting seperti itu di mana kah, Nin? Ih..ngeri loh mulutnya itu? Tra tahu diri sekali, ko su bantu banyak pas lari dari rumah ko kasih makanan sampe traktir. Ih..sa ngeri sendiri yah, ada eh orang kek begitu, Nin?
Arg. Sahabatku benar, terlalu baik sampai diinjak-injak seperti ini. ()
NB :
Sa adalah Saya
Deng adalah Dengan
Ko adalah Kamu
Tra/Trada adalah Tidak/Tidak Ada
Su adalah Sudah
Trapp adalah Tidak Kenapa-Kenapa
Tempo/Potem adalah Cepat