Jam dinding menunjukkan pukul 9 malam. Waktunya penyanyi terkenal bernama Elden melakukan pertunjukannya. Namaku Audia, aku baru saja lulus SMA. Kini aku bekerja sambilan di minimarket dekat rumahku. Aku hanya kerja sambilan pada waktu pagi sampai siang hari saja.
Ketika malam aku hanya menontonnya drakor, membaca komik, membaca novel. Terkadang saat idolaku melakukan konser. Aku melihatnya dari balik layar tv. Idolaku bernama Elden, sosok yang tidak aku ketahui wajahnya. Dia penyanyi yang menyembunyikan wajahnya.
Mungkin hanya beberapa orang yang tahu wajah di balik topengnya. Yang jelas bukan aku salah satunya. Aku hanya melihat wajahnya yang tertutup topeng.
Suaranya yang keluar indah bak suara burung menyanyi. Badannya putih, tinggi, dan dadanya bidang. Mungkin jika di lihat, Elden seperti tetanggaku yang bernama Eldio. Namanya hampir sama tapi bukan berarti orang yang sama kan?
Eldio adalah sahabatku sewaktu kecil. Sejak beranjak dewasa dia sudah jarang sekali bertemu denganku. Kami hanya bertegur sapa sesekali jika berpapasan.
***
Jam kecil di dinding yang menunjukkan pukul 9 malam. Aku bersiap siap bergegas ke depan tv. Bersama cemilan yang aku beli waktu kerja sambilan di minimarket. Aku sungguh tidak sabar mendengarkan suara dari sosok Elden.
"Selamat malam semua. Kembali lagi bersama saya Elden. Penyanyi kesayangan kalian." Salam Elden kepada seluruh penonton yang melihat secara langsung. Dan kepada penonton yang melihat di tv.
Sorak penonton bergemuruh. Mereka melambaikan tangannya. Dan berteriak sekencang mungkin agar di notice oleh Elden si penyanyi.
Aku sebenarnya begitu iri pada orang orang yang menonton langsung. Namun karna masalah biaya membuatku harus menonton lewat tv.
"Elden tunggu aku melihatmu secara langsung." Ucapku di dalam hati. Sambil mengemil jajanan yang kubawa.
"Saya akan membawakan lagu, Bonnie Raitt – I Can't Make You Love Me. Lagu ini juga saya persembahkan untuk wanita cinta pertama saya." Ucap Alden membuat penonton kembali bersorak gemuruh.
"Wanita yang disukai Elden? Sungguh beruntungnya wanita tersebut. Kenapa ia tidak membalas cintanya?" Tanyaku dalam hati kembali. Begitu bodohnya wanita tersebut tidak membalas cinta Elden. Penyanyi yang disukai beribu ribu wanita.
'𝐂𝐚𝐮𝐬𝐞 𝐈 𝐜𝐚𝐧'𝐭 𝐦𝐚𝐤𝐞 𝐲𝐨𝐮 𝐥𝐨𝐯𝐞 𝐦𝐞 𝐢𝐟 𝐲𝐨𝐮 𝐝𝐨𝐧'𝐭
𝐘𝐨𝐮 𝐜𝐚𝐧'𝐭 𝐦𝐚𝐤𝐞 𝐲𝐨𝐮𝐫 𝐡𝐞𝐚𝐫𝐭 𝐟𝐞𝐞𝐥 𝐬𝐨𝐦𝐞𝐭𝐡𝐢𝐧𝐠 𝐢𝐭 𝐰𝐨𝐧'𝐭
𝐇𝐞𝐫𝐞 𝐢𝐧 𝐭𝐡𝐞 𝐝𝐚𝐫𝐤, 𝐢𝐧 𝐭𝐡𝐞𝐬𝐞 𝐟𝐢𝐧𝐚𝐥 𝐡𝐨𝐮𝐫𝐬
𝐈 𝐰𝐢𝐥𝐥 𝐥𝐚𝐲 𝐝𝐨𝐰𝐧 𝐦𝐲 𝐡𝐞𝐚𝐫𝐭 𝐚𝐧𝐝 𝐈'𝐥𝐥 𝐟𝐞𝐞𝐥 𝐭𝐡𝐞 𝐩𝐨𝐰𝐞𝐫
𝐁𝐮𝐭 𝐲𝐨𝐮 𝐰𝐨𝐧'𝐭, 𝐧𝐨 𝐲𝐨𝐮 𝐰𝐨𝐧'𝐭
'𝐂𝐚𝐮𝐬𝐞 𝐈 𝐜𝐚𝐧'𝐭 𝐦𝐚𝐤𝐞 𝐲𝐨𝐮 𝐥𝐨𝐯𝐞 𝐦𝐞, 𝐢𝐟 𝐲𝐨𝐮 𝐝𝐨𝐧'𝐭
𝐈'𝐥𝐥 𝐜𝐥𝐨𝐬𝐞 𝐦𝐲 𝐞𝐲𝐞𝐬, 𝐭𝐡𝐞𝐧 𝐈 𝐰𝐨𝐧'𝐭 𝐬𝐞𝐞
𝐓𝐡𝐞 𝐥𝐨𝐯𝐞 𝐲𝐨𝐮 𝐝𝐨𝐧'𝐭 𝐟𝐞𝐞𝐥 𝐰𝐡𝐞𝐧 𝐲𝐨𝐮'𝐫𝐞 𝐡𝐨𝐥𝐝𝐢𝐧𝐠 𝐦𝐞
𝐌𝐨𝐫𝐧𝐢𝐧𝐠 𝐰𝐢𝐥𝐥 𝐜𝐨𝐦𝐞 𝐚𝐧𝐝 𝐈'𝐥𝐥 𝐝𝐨 𝐰𝐡𝐚𝐭'𝐬 𝐫𝐢𝐠𝐡𝐭
𝐉𝐮𝐬𝐭 𝐠𝐢𝐯𝐞 𝐦𝐞 𝐭𝐢𝐥𝐥 𝐭𝐡𝐞𝐧 𝐭𝐨 𝐠𝐢𝐯𝐞 𝐮𝐩 𝐭𝐡𝐢𝐬 𝐟𝐢𝐠𝐡𝐭
𝐀𝐧𝐝 𝐈 𝐰𝐢𝐥𝐥 𝐠𝐢𝐯𝐞 𝐮𝐩 𝐭𝐡𝐢𝐬 𝐟𝐢𝐠𝐡𝐭
'𝐂𝐚𝐮𝐬𝐞 𝐈 𝐜𝐚𝐧'𝐭 𝐦𝐚𝐤𝐞 𝐲𝐨𝐮 𝐥𝐨𝐯𝐞 𝐦𝐞 𝐢𝐟 𝐲𝐨𝐮 𝐝𝐨𝐧'𝐭
NB : HANYA SEBAGIAN LAGU
Sungguh mengena lagu yang dinyanyikannya. Liriknya saja sudah mengena ditambah jika Alden menyanyikannya. Sungguh menyentuh hati. Rasanya jika aku menjadi wanita tersebut, langsung ingin sekali memeluk Elden.
Ayolah wanita yang disukai Elden. Peka lah sedikit dan terima cinta Elden. Bukankah engkau kasian? Lihatlah idolaku yang jarang menangis. Kini sedang menangis tersedu menyanyikan lagu hanya untukmu.
Aku yang mendengar suara Elden juga ikut menangis. Bukan hanya Elden saja yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Aku pun juga begitu, ingat sekali diriku saat menyukai Eldio sejak berumur 10 tahun. Namun tidak berani mengungkapkan, takut persahabatan kita hancur. Walaupun pada akhirnya kita juga tidak pernah bertegur sapa.
Suara Elden membuatku semakin mengingat masa dulu. Cukup enggan bagiku mengingat. Namun setiap lirik membuatku harus mengingatnya. Hingga aku tertidur, tertidur dengan tv yang melihatku.
***
Oh sial, aku tertidur sampai bangun kesiangan. Aku segera berlari menuju kamar mandi. Aku harus kerja sambilan karna waktu sudah menunjukan jam 8. Bagaimana aku bisa kesiangan? Dasar Audia bodoh!
Aku terus merutuki diriku sendiri, di sepanjang pagi. Kesal karena bangun kesiangan. Apalagi saat sudah sampai di supermarket. Aku lupa bahwa hari ini tutup. Audia bodoh! Audia gila! Apa yang kamu fikirkan? Ayo fokus!
Di sepanjang jalan pulang aku masih saja merutuki diriku. Aku berjalan sambil bengong, kenapa lagu Elden membuatku merasa aneh? Harusnya aku tidak melihat konsermu Elden!
BUGH!!
"Maaf." Aku menabrak orang hingga memecahkan kebegonganku.
"Gapapa."
Suara itu suara yang cukup familiar. Suara Eldio, sahabatku waktu kecil. Aku membelalakkan mataku, melihat dari atas sampai bawah. Eldio! Sahabatku yang sudah jarang menemui ku. Padahal rumah kami bersebelahan.
Aku menatapnya hingga tak sadar bahwa air mataku menetes. Dasar Eldio sialan! Bisa tidak sih jangan membuatku malu!
"Audi? Kamu kenapa? Kamu sakit? Kenapa tiba tiba nangis?" Suara Eldio menjadi khawatir saat aku tiba tiba menangis.
"Nggak kok, aku cuma kecapekan." Aku menyeka air mataku menggunakan punggung tangan.
Eldio menarik tanganku ke kursi di bawah pohon. Ia membelikan ku sebotol air minum dingin. Air dingin membuatku cukup rileks. Terimakasih Eldio kamu sudah ingat bahwa air dingin membuatku mendingan.
"Makasih." Ucapku sambil meminum air putih yang dibelinya Eldio.
"Kamu kenapa nangis? Apa perlu ke rumah sakit?" Tanya Eldio masih terlihat cemas.
"Nggak usah, aku cuma sedih aja nginget sebuah lagu." Jawabku menjelaskan semuanya.
"Lagu?" Tanya Eldio dengan muka keheranan.
"Lagu Bonnie Raitt – I Can't Make You Love Me. Yang dibawain Elden, ngebuat aku jadi sedih." Ucapku sambil menutup botol kosong. Aku langsung menghabiskannya sekali tengglak.
"Elden? Kamu kenal Elden?" Wajah Eldio berubah. Kini ia merasa syok.
"Iya, aku sering nonton konser dia. Setiap malem aku nggak pernah ketinggalan. Suaranya bikin aku jadi lebih tenang. Tapi lagu yang tadi malem malah ngebuat aku sedih." Jawabku secara detail.
"Maaf."
Perkataan Eldio membuatku bingung. Maaf? Kenapa Eldio meminta maaf? Memangnya dia punya salah apa sama aku? Padahal kan kita jarang bertemu.
Aku dengan muka terheran menjawab perkataan Eldio "Maaf? Maaf kenapa?"
"Maaf udah bikin kamu sedih." Jawab Eldio.
Wtf, kamu malah ngebuat aku makin bingung Dio. Sedih? Apa yang kamu maksut gara gara kamu jarang menemui ku? Yaa! Itu juga salah satu penyebab aku jadi sedih.
"Hah? Kamu ngebahas apa Dio? Aku nggak faham apa yang kamu omongin." Tanyaku semakin bingung akan topik yang kami bahas.
"Maaf kamu udah dengerin aku nyanyi itu. Maaf gara gara aku, kamu jadi sedih. Maaf akhir akhir ini aku jarang nemuin kamu. Maaf sekarang hubungan kita jadi kayak gini." Kata maaf dari Eldio banyak terdengar.
Namun saat dia bilang 'maaf kamu udah dengerin aku nyanyi itu' maksutnya? Perkataan itu sukses membuatku semakin bingung.
"Tunggu! Maaf kamu udah dengerin aku nyanyi itu? Maksut kamu? Aku nggak faham Dio." Tanyaku sekali lagi. Penasaran apa yang sedang ia bicarakan.
"Elden itu aku." Jawab Eldio lirih. Seakan akan takut bahwa diriku akan tau.
"Hah?" Kedua kalinya kamu membuat aku sukses terkejut Eldio.
"Maksut kamu? Kamu Elden? Plis jangan bikin aku pusing."
"Iya, aku Elden."
Aku tertawa kecut. Mendengar ucapan Eldio membuatku berfikir untuk kedua kalinya. Memang sempat awalnya aku mengira itu Eldio. Karna dari segi manapun memang mirip.
"Kamu sukses bikin aku kaget Dio." Ucapanku keluar bersamaan dengan senyum kecut.
"Maaf."
Seribu kali mungkin Eldio mengucapkan maaf. Hatiku kini merasa hancur. Mendengar Eldio mengatakan dirinya Elden.
Bukan karena iri karna ia sekarang terkenal. Namun kecewa kenapa aku selalu menjadi yang terakhir yang mengetahui sosok dirinya. Dari banyaknya orang yang ia beritahu kenapa aku yang terakhir? Eldio, kamu jahat!
"Aku ini sahabat kamu bukan sih? Aku selalu mantengin kamu siaran tapi aku nggak tau itu kamu. Kenapa kamu selalu jadiin aku yang terakhir untuk tau siapa diri kamu. Kalau kamu kayak gini aku ngerasa bukan apa apa di hidup kamu." Aku mengeluarkan unek unek yang mengganjal di hatiku. Air mataku juga sukses menetes.
"Sorr-." Ucapan Eldio ku potong. Aku masih belum selesai berbicara.
"Tunggu, aku belum selesai bicara. Aku beneran tanya sama kamu Dio. Kenapa kamu selalu jadiin aku yang terakhir? Aku nggak sepenting itu ya? Dulu pas orang tua kamu mau cerai, aku juga yang jadi terakhir yang tau. Pas bunda kamu nikah lagi aku juga yang terakhir tau. Nggak enak tau Dio jadi yang terakhir. Padahal kita udah saling kenal sejak kecil. Padahal aku selalu jadiin kamu yang awal, tapi kamu malah jadiin aku yang terakhir." Air mataku kini sudah menetes banyak. Sederas air hujan mungkin.
"Maaf Audi, aku bukannya nggak suka bilang ke kamu lebih awal. Aku cuma mau nunjukin diri aku yang udah sukses. Aku nggak mau nunjukin ke kamu kalau aku lemah. Kamu cukup liat aku yang sekarang, yang udah sukses." Eldio berterus-terang.
"Gunanya sahabat itu apa Dio? Aku bisa nemenin kamu dari nol. Kita bisa berjuang sama sama. Aku support kamu jadi penyanyi, sedangkan kamu bisa support balik aku." Jawabku menangis terisak-isak. Mungkin sekarang suaraku tidak terdengar jelas.
Mendengar ucapanku, Eldio langsung memelukku. Memeluk dengan sangat erat. Sambil berbicara "Aku mau nunjukin kalo aku yang udah sukses. Biar aku nggak malu saat ngelamar kamu. Aku mau bahagian kamu."
Triple kill, ucapan kamu bikin aku tambah sukses terkejut. "Maksut kamu?"
"Aku mau nikah sama kamu Audi. Aku tadi malem bilang cinta aku bertepuk sebelah tangan. Itu kamu wanitanya. Plis terima aku ya? Aku pengen jadiin kamu wanita terbahagia. Tanpa harus susah susah."
"Marry me, Audia." Tambah Eldio melepaskan pelukannya. Kemudian mengeluarkan cincin dari sakunya. Cincin yang begitu indah. Berliannya cukup bersinar.
Aku hanya menatap bengong apa yang sedang Eldio lakukan. Aku beri kamu penghargaan Eldio. Sukses sekali memberiku kejutan.
"Kamu tau apa yang bikin aku sedih karna lagu Elden, Dio?" Tanyaku.
Eldio hanya menggeleng, ia menunggu penjelasanku.
"Aku nginget kamu, lagunya mirip sama aku yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Aku selama ini juga suka sama kamu, bahkan dari kecil. Tapi aku nggak sanggup bilangnya. Because, kamu keliatan cuma nganggep aku sahabat doang. Dan juga karna kamu kayaknya udah punya wanita yang kamu sukain."
Ucapanku juga sukses membuat Eldio menangis. Menangis bahagia mungkin. Ia memasangkan cincin di jari manisku "Yaa! Kamu wanitanya Audi. Marry me oke?"
"Yaaa!" Aku menjawabnya keras membuat air mataku semakin mengalir. Cintaku terbalaskan?
"Ya?" Tanya Eldio tak percaya.
"Iya." Jawabku.
"Iya? Iya? Jangan bilang nggak. Ini beneran? Aku bahagia kamu nerima cinta aku Audi. Aku mau bilang ke seluruh dunia bahwa cintaku kini terbalaskan." Eldio berbicara layaknya tak percaya. Kemudian ia menggendongku seperti layaknya bayi.
Aku juga sama seperti Eldio. Kini wajahku memancarkan wajah bahagia. Jika ditanya apakah aku bahagia? Ya sangat bahagia!
Nb : makasih yang udah baca! Buat kalian yang suka baca romantis gini bisa mampir ke wattpadku. Namanya pockypockyyy, thnxxx u.