Namaku Josha, umurku 22 tahun. Seorang Mahasiswa Ilmu Hukum Semester 6, selama 22 tahun. Ada banyak moment yang menjadi pelajaran dan pengalaman yang tidak terlupakan, sisanya menjadi kenangan yang tidak bisa di hapus oleh waktu. Aku memiliki banyak keberuntungan dalam hal financial, tidak kekurangan walau tidak berlebih. Bisa melanjutkan pendidikan walau bukan di Universitas ternama, sangat patut untuk di syukuri.
Sayangnya aku tidak seberuntung itu dalam hal percintaan atau lebih tepatnya aku yang tidak tau diri. Aku bukanlah orang setia, aku seorang pemain. Rasa kesepian yang mengikuti langkahku, membuatku mudah bosan.
Aku tau itu bukan hal yang bisa di katakan alasan untuk bermain dengan hati seseorang, berpindah-pindah mencari kesenangan di atas rasa tulus seseorang. Aku akui aku bajingan dan Aku tidak percaya dengan cinta.
Jika cinta itu ada, kenapa hatiku tidak merasa puas akan seseorang. Itulah yang aku pikirkan sebelum aku bertemu dengan dia, seseorang yang membuatku bertekuk lutut dengan kesederhanaannya.
Namanya Melisa, aku bertemu dengannya saat umurku 20 tahun di salah satu app karoke. Aku terpesona dengan suara indahnya, Aku jatuh cinta pada pandangan pertama.
Tanpa ragu Aku memfollow akunnya, menjadi salah satu penggemarnya.
Aku beranikan diri untuk mengirimkan pesan padanya.
"Hai" Sapaku.
Sungguh aku sangat gugup saat itu.
"Hai juga" Jawabnya dua menit setelah aku mengirimkan pesan.
Aku sangat senang, bibirku terus tersenyum sampai-sampai rahang ku terasa sakit.
"Aku suka lagu coveran kakak, suara kakak bagus banget. Semangat ya" Kataku memujinya.
Aku memanggilnya kakak karena usia kamu terpaut jauh, saat itu umurnya 29 tahun sedangkan aku 20 tahun. Beda usia kami 9 tahun, tapi siapa yang peduli dengan perbedaan itu.
Aku terlanjur jatuh hati padanya.
"Terimakasih" Jawabnya dengan emoji senyum.
Seketika hatiku berbunga-bunga, aku senang bukan main walau itu sebatas senyuman emoji. Aku tidak benar-benar tau apa dia tersenyum atau tidak.
Aku bertanya-tanya banyak hal padanya, dari namanya walau bukan nama asli. Tanggal lahirnya, lalu tempat tinggalnya, apa pekerjaannya dan apa dia sudah menikah.
Dia menjawab semua pertanyaanku kecuali tentang statusnya, hal itu membuatku bimbang. Semakin aku mengenalnya, semakin aku menjadi ragu namun di sisi lain perasaanku makin dalam.
Ketidaktahuanku akan perasaanku sendiri, membuatku sering linglung. Aku sering bertanya pada teman-temanku, apa yang aku rasakan itu benar-benar cinta?.
Mereka menjelaskan dan mendefinisikan cinta versi mereka, tapi aku tidak benar-benar mengerti apa yang coba mereka sampaikan.
Aku yang memiliki kepribadian ahli logistik atau ISTJ, sangat tidak cocok untuk hal yang di luar nalar seperti cinta.
Makanya aku tidak percaya cinta, terlalu banyak delusi keindahan dan racun manis di dalamnya.
Berbulan-bulan aku menolak menerima kenyataan, berperang dengan diriku sendiri.
Hingga akhirnya aku menyerah, logikaku kalah dengan hatiku. Aku mengakui perasaan cintaku padanya.
Aku berniat meminta nomor WhatsAppnya, dengan dorongan dari teman-temanku, aku beranikan diri untuk memintanya.
"Kak, apa aku boleh minta nomor whatsapp kakak?" Tanyaku dengan perasaan was-was.
Aku menunggu balasannya dengan perasaan campur aduk antara menyesal, takut dan pasrah.
"Boleh" Jawabnya.
Seketika aku berteriak histeris, sampai-sampai orang tuaku menegurku dan mengataiku gila. Aku tidak perduli, aku sangat senang. Dia memberi ku nomor WhatsAppnya.
"Emm.. Sorry kak, apa gak papa kakak ngasih nomor kakak ke aku. Nomor WhatsApp kan termasuk privasi" Kataku basa-basi.
"Gak papa, yang aku kasih kamu bukan orang lain" Jawabnya.
Untuk pertama kalinya aku salah tingkah dan blushing, apa aku salah jika aku menaruh harapan? Pikirku dengan perasaan tidak karuan.
Banyak moment sederhana yang membekas di ingatanku tentangnya, salah satunya saat dia memanggilku sayang. Saat itu aku bertanya dia lagi apa?.
"Aku lagi kerja sayang" Jawabnya.
Aku di buat mabuk kepayang oleh perhatian dan kesederhanaannya. Pribadinya yang lugas dan lembut, makin membuatku jatuh sangat dalam.
Aku lupa caranya berhenti, Aku tersesat dalam kebahagiaan yang tidak pernah aku rasakan. Sangat asing namun menyenangkan, Aku tidak ingin berhenti mencintainya.
Hingga sampai di titik di mana aku tertampar kenyataan, Aku tersadar bahwa aku dan dia berbeda. Tidak cocok dan cintaku tidak terbalaskan, Aku marah, Aku kesal pada diriku sendiri.
kenapa aku sangat bodoh, terlena oleh belaian kesenangan yang berduri. Emosiku yang tidak stabil, Aku yang labil berpengaruh padanya. Aku menjadi menyebalkan, Aku egois dan terus memukul mundur dirinya.
Padahal jelas-jelas dia memberikan lampu hijau, Aku di butakan oleh kekecewaan di mana aku aku tidak bisa memilikinya. Perasaan mengebu-gebu yang memenuhi dadaku, menumpulkan akal sehatku.
aku tidak bisa berpikir jernih, Dia yang tidak baik-baik saja dan sedang banyak masalah. Memilih meninggalkanku, Aku yang bodoh membiarkan hal itu terjadi. Aku pikir aku baik-baik saja tanpanya, Aku pikir aku akan melupakannya.
Namun sampai sekarang perasaanku tidak berubah, Cinta yang membelunggu hatiku menemani langkahku. Penyesalan dan rasa bersalah pada diriku sendiri, membawa penderitaan dan kehancuran. Aku depresi, frustasi dan tersiksa.
Aku sangat kacau dan menyedihkan, Aku tidak tau jika akibatnya akan sedasyat itu. Seperti kata kebanyakan orang, waktu adalah obat luka. Perlahan kejiwaanku berangsur-angsur membaik, Aku menjadi dekat dengan sangat pencipta.
Akal sehatku kembali, Aku bisa berpikir dengan lebih jernih. memilah satu demi satu kemalangan yang menimpaku, Aku mulai belajar mencintai diri sendiri dan mulai memahami arti kebahagiaan yang aku cari-cari.
Setiap malam, aku memohon agar di beri kesempatan sekali lagi untuk bertemu dengannya. Bukan untuk memilikinya, namun sekedar melegakan perasaan berat yang membebani hatiku. Aku ingin mengatakan cinta padanya, di mana saat masih bersamanya aku tidak mampu mengungkapkannya.
Aku terlalu sibuk dengan perasaanku sendiri dan konflik batin yang berkecamuk dalam diriku, Setidaknya Aku ingin berjalan di belakangnya walau bukan di sampingnya. Karena bukan Aku yang dia inginkan, Bukan juga yang ia favoritkan.
Baginya aku hanya angin lalu yang menyebalkan, Satu-satunya keegoisan ku adalah aku ingin melihatnya lagi.