Kenalkan nama ku Lalita, aku kini sudah menikah dengan suamiku yang bernama Darwan.
Kehidupan rumah tangga yang aku dan suami jalani sangatlah harmonis, tetapi tepat pada usia pernikahan beranjak 9 bulan dan aku belum juga dikaruniai momongan, terjadilah sebuah petaka yang membawa aku kedalam ambang kematian.
Aku mendapati suami ku membawa selingkuhannya masuk ke rumah dan menempati kamar utama kami, kamar yang aku jaga privasinya dari orang luar maupun keluarga besarku dan suamiku.
Tepatnya, saat hari itu adalah hari Rabu, aku meminta izin suamiku untuk berkunjung ke rumah orang tuaku, dan bertepatan suamiku tengah ingin meliburkan diri dari letihnya bekerja,
Ia merupakan pengusaha Mabel termukaka di kota kami tinggali,
Tanpa rasa curiga aku pun berangkat dengan menggunakan taksi online, setelah meminta izin dan sudah siap semua.
Kini aku tengah berada didalam taksi online menuju rumah kedua orang tuaku, tetapi tiba-tiba saja aku mengalami mual muntah yang begitu parah, alhasil aku meminta pak supir taksi online tersebut untuk kembali ke rumah kediaman ku juga suami.
Setelah sampai aku pun keluar, biaya ongkos sudah ku bayarkan melalui aplikasinya,
Aku buru-buru masuk kedalam rumah tanpa mengucap salam ataupun mengetuk pintu,
Dan aku pun tak menghiraukan suasana rumah,
Setelah semua isi perut yang sudah ku muntahkan, tiba-tiba aku mendengar suara aneh dan lucnut yang sering aku keluarkan saat bersama suamiku ketika malam hari,
Kalian pasti tau,
Tanpa berfikir panjang akupun langsung saja menghampiri asal suara, suara itu berasal dari kamar yang aku dan suami tempati.
Deg....
Suara itu semakin dekat semakin terdengar jelas des*hannya.
Aku pun perlahan membuka pintu kamar,
Jeduaaaaar....
Maka, terpampanglah wujud kedua anak manusia yang berbeda kel@min tengah melakukan hal yang senonoh dengan kamar yang sudah berantakan, baju serta celana berserakan di lantai dan tubuh kedua manusia beda kel@min itu tenaga bu9il.
"Mas!!!!!" Teriak ku saat mendapati tubuh suamiku tengah berada diatas wanita yang tidak aku kenali.
Suami ku terkejut, tetapi tak lama.
"Oh, kamu udah tau rupanya. Bagus deh! Gak usah aku capek-capek main kucing-kucingan sama pacar aku ini. Mulai detik ini, menit ini dan jam ini, aku talak kamu!!!!!"
Tanpa rasa bersalah ia menalak diriku, dan wanita yang menjadi selingkuhan suamiku, ia tengah tersenyum sumringah mendapati aku diceraikan tanpa rasa hormat sekali pun.
"GAK! AKU GAK MAU KAMU TALAK!!! MAS, AKU INI ISTRI KAMU, KENAPA KAMU BERUBAH!!!" Kini aku meninggikan suara dan menghampiri suamiku, tepat di ranjang kami.
"Karena kamu belum kasih aku anak, KAMU MANDUUUUUL!!!!"
"Gak, Mas! Tuhan belum kita kasih aja, aku subur, gak seperti yang kamu ucapin."
Aku pun masih pada keteguhan hatiku, aku tidak ingin bercerai hanya karena belum dikaruniai anak oleh Yang Maha Kuasa.
Sekuat tenaga aku megiba, merendahkan harga diri dihadapan, sebutlah sudah menjadi mantan suami, karena ia sudah menalak diriku.
Hingga saat ia sudah mengambil celananya asal dan memakainya, aku diseret keluar rumah, menuruni tangga dan saat hampir beberapa anak tangga lagi, aku dihempaskan begitu saja.
Dan aku terjatuh lalu pingsan tak sadarkan diri.
Disinilah aku,
Disebuah ruangan putih, dengan bau desinfektan yang menyengat.
Ya, aku berada di rumah sakit.
Perlahan-lahan kedua mataku terbuka untuk menetralkan kebingungan yang aku alami.
Seorang laki-laki bersneli putih pun tersenyum padaku.
Aku bingung, siapa yang mengantarkan aku ke rumah sakit.
Dan,
Dan kemana suamiku, ralat mantab suamiku berada?
"Kamu sudah siuman ternyata!" Ucap dokter itu.
Aku tak menjawab, aku masih menerka-nerka siapa gerangan yang membawa aku ke rumah sakit.
Setelah aku mendapati suamiku tengah bercumbU dengan selingkuhannya, lalu ditalak, diusir dan di dorong dari tangga, hingga kini berada di rumah sakit, tengah berbaring menahan kesakitan.
"Aku...aku siapa yang menolong?"
"Oh, ada seorang laki-laki dan perempuan, sepasang suami-istri yang menolong, katanya kamu korban tabrak lari, hari mereka menolong kamu,"
"Hah? Siapa namanya dan dimana mereka, Dok?" Tanya ku lagi, aku masih bingung siapa suami-istri yang dimaksud dokter itu.
"Kalau saya gak salah dengar dan ingat, nama laki-laki itu Dar..Dar...Darwan, yah, Darwan." Ucap dokter itu.
Dan seketika aku meneteskan air mata,
Hiks hiks hiks hiks, tumpah sudah kesedihan yang aku alami, suamiku sudah menyebut selingkuhannya itu sebagi 'ISTRI'
"Lalu, mereka kemana dokter?"
"Mereka sudah pulang, katanya istrinya tengah hamil muda jadi tidak bisa berlama-lama di rumah sakit dan saya juga yang sudah mengecek istrinya. Perkenalkan saya dokter Farhan, dokter spesialis kandungan." Ucapnya menjabat tangan dan aku balas menjabat tangan dokter itu.
Aku diam, suamiku ternyata sudah selingkuh dibelakang diriku sudah sangat lama, hingga selingkuhannya sudah hamil.
"Oh, dan istrinya sudah hamil hampir 9 minggu,"
Jeduuuaaar...
Sungguh, beberapa kali aku mendapatkan kenyataan pahit bertubi-tubi.
"Dan, Alhamdulillah calon anak ibu tidak mengalami benturan keras akibat tabrak lagi, tadinya saya mau menginfokan pada pasangan suami-istri itu, tetapi tidak etis saja. Sekali lagi selamat yah, Bu. Dijaga kehamilan ibu yang masih berjalan 3 minggu dan juga karena ibu baru saja mengalami kecelakaan."
Sekali lagi aku mendapat berita yang bahagia sekaligus menyedihkan.
Aku yang selalu berharap memiliki anak dan sekarang diberikan, tetapi aku malah ditalak tanpa rasa bersalah dari mantan suamiku itu.
Singkat cerita
Aku pun pergi jauh dari kota yang sudah aku dilahirkan, membesarkan aku, menikahkan aku dengan mantan suami juga meninggalkan kota yang sudah memberikan luka mendalam padaku.
Berkat bantuan dokter Farhan, juga beberapa uang dan keterampilan yang aku miliki, aku pun membuka toko kue di salah satu kota X.
Toko kue ku pun laku keras, walau diawal harus menelan pil pahit, dengan jualan yang diawal dengan tidak laku dan tak ada yang melirik, hingga aku menjualkan kue-kue ku kedalam sosial media.
Dan, hasilnya lumayan.
Kini omset penjualan kue-kue itu, Alhamdulillah, bisa untuk membantu biaya aku melahirkan.
Ya, kini anak yang didalam perutku sudah hampir mendekati HPL.
Aku pun memiliki asisten juga karyawan.
Jadi, aku tidak lagi turun langsung dalam membuat kue-kue itu, aku hanya memberikan takaran beserta bahan-bahan apa saja yang hendak karyawan aku buat.
Aku akan balas sakit hatiku, pada mantan suamiku dengan menunjukkan bahwa aku bisa tanpa dia, aku bisa sukses dengan anak yang kini akan tumbuh dan hidup bersamaku.
Kedua orang tuaku pun tau jika aku ditalak, tetapi aku mengabari keduanya beberapa bulan, setelah aku sudah tidak terpuruk dan sore nanti kedua orang tuaku akan pindah juga ikut tinggal bersama dengan ku di kota ini.
Mereka pun sangat sedih, terpukul, marah juga kecewa dengan mantan suamiku itu.
Tetapi, aku sebisa mungkin membuat kedua orang tuaku untuk menerimanya dengan ikhlas dan berLAPANG DADA.
Aku juga tidak mau tahu lagi, keadaan mantan suamiku itu,
Kini aku tengah menunggu anak yang sebentar lagi lahir dan menemani hari-hari ku yang penuh sukacita.
....
2 minggu sudah,
Aku sudah melahirkan kedua anak ku,
Ya, aku mengandung anak kembar, sepasang.
Aku melakukan persalinan secara normal, Alhamdulillah.
Kini, bayi-bayi yang masih merah dan lucu itu pengobat kegundahan dan kesedihan ku, ditambah kedua orang tuaku pun sudah tinggal bersama diriku dan mengurus kedua anakku yang masih bayi tersebut.
Aku sungguh bahagia, walau mantan suamiku yang jahat itu, tidak sabar untuk menunggu kedatangan buah cinta kami, tetapi aku selalu berusaha untuk menerima keadaan ini semua.
Walau pun sangat sakit dan membekas.
Kini, kehidupan yang aku jalani sungguh luar biasa bahagia,
Dikelilingi kedua orang tua yang sangat menyayangi aku, kedua anak kembar yang lucu sekaligus menggemaskan juga karyawan-karyawan yang baik juga jujur.
Hidupku dilimpahi dengan kebahagiaan dan rezeki yang tak terhingga.
Sungguh, menerima kenyataan pahit lalu berangsur-angsur mendapatkan kebahagiaan yang tak TERPERI.
Membalas dendam pada mantan suami , yang sesungguhnya seperti ini.
•TAMAT•