Sudah siap belum nduk" tanya bu Suriyah
"Sudah bude" jawab tiya
"Yawis ayo sudah ditunggu pak Penghulu dan calon suamimu" kata bu Suriyah sambil memegang lengan Artiya dengan penuh kasih sayang.Bu Suriyah adalah budenya Artiya kakak dari ibu Tiya yang sudah meninggal dunia waktu Tiya berumur 12tahun sebab kecelakaan motor berboncengan dengan bapak Tiya waktu mereka mau ke pasar.Akibat kecelakaan itu bapak dan ibu Tiya meninggal ditempat,tragis memang.Setelah Tiya menjadi yatim piatu dia diasuh oleh paman dan bibinya yang menyayanginya seperti anaknya sendiri,mereka tak membeda-bedakan Tiya dengan anak kandungnya sendiri.Bu Suriyah dan Pak Sudiman mempunyai seorang anak gadis yang 2tahun lebih muda dari Artiya.
"Ayo nduk duduk disebelah calon suamimu" ucap bu Suriyah.Dengan malu malu Tiya duduk disebelah calon suaminya yang sedari tadi sudah duduk bersila didepan pak Penghulu.
"wah ayu tenan mantuku,rasalah milih aku yo jeng" ucap bu Sanusi kepada bu Suriyah.
"iyo jeng,matursuwun tenan lhoo jeng udah mau menjadikan ponakkanku Tiya mantumu,aku lega mulai sekarang Tiya sudah ada yang njaga,ada yang melindungi dan menyayangi" ucap bu Suriyah terharu.
Ya...sore ini kurang lebih jam 4 adalah waktu ijab kabul Artiya dan Rezza.Tiya merasa bahagia sebab dia akan menikah dengan Rezza laki laki yang Tiya cintai secara diam diam sejak duduk dibangku SMP,.Namun berbeda dengan Rezza yang mau dijodohkan dengan Tiya karna ancaman sang ibu yang tidak akan mau mengakui Rezza sebagai anaknya dan dia akan dicoret dari ahli waris jika Rezza menolak menikah dengan Tiya sehingga mau tidak mau Rezza menerima perjodohan ini.menurut Rezza Tiya hanyalah wanita biasa biasa aja,yang sama sekali tidak menarik jauh dari kata modis, berkerudung dan suka pake rok sama sekali jauh dari kriterianya.Berbeda dengan Amelia kekasih hatinya yang ayu,manja dan modis.Amelia adalah anak kuliahan yang baru menginjak semester 1,umurnya baru 19tahun.
Diatas pelaminan Tiya tampak bahagia mendapat ucapan dari para tamu undangan yang sedari tadi mengantri untuk memberi ucapan selamat, walaupun merasa lelah Tiya tetap tersenyum manis.Berbeda dengan suaminya yang terlihat gelisah dan kaku sedari tadi waktu ijab kabul.Tiya mengira kalau suaminya seperti itu karena merasa tegang waktu mengucap ijab kabul tadi.Tiyapun bertanya kepada suaminya "mas apa kamu lelah?" tidak ada sahutan dari Rezza,sampai 3x Tiya bertanya pada suaminya namun hasilnya sama.Tiyapun merasa cemas dengan keadaan suaminya,kemudian Tiya menggoyang goyangkan lengan Rezza hingga Rezza kaget dan berucap " ya ada apa?" tanya Rezza ketus
"apa kamu baik baik saja mas? dari tadi aku panggil panggil kamu nggak ngrespon" ucap Tiya lembut
"mmeemmm" jawab Rezza malas dan terkesan ketus
Tiyapun memilih diam,dia mengira suaminya itu sedang merasa lelah.
Diujung ruangan terlihat seorang gadis matanya berkaca kaca tampak begitu kecewa memandang kearah pelaminan,dia masih tak percaya klau kekasih hatinya berdiri disana sebagai pengantin laki laki bersanding dengan adik sepupunya Tiya.Ya...Tiya adalah adik sepupu Amelia,umur mereka terpaut 2 tahun walaupun Amelia kakak sepupu tapi Tiya 2tahun lebih tua darinya.Amel merasa marah dengan Tiya,menurutnya Tiya merebut kekasihnya,sedari dulu Amel memang kurang suka dengan Tiya sebab orangtua Amel selalu membanggakan Tiya,mengunggul unggulkan Tiya karna kemandirianya,kesederhanaanya,kepintarannya dalam pendidikan.Selalu saja Tiya yang lebih unggu.Hal itu membuat Amel merasa dinomer2kan oleh orang tuanya padahal itu perasaan Amel sendiri saja.Dan sekarang Tiya malah merebut kekasih hatinya sehingga membuat Amel bertambah benci kepada Tiya.
Diatas pelaminan Rezza menyadari keadaan Amel yang menyedihkan diujung sana hingga membuat Rezza kalut,Rezza merasa bersalah karna telah menghianati Amel.Ingin rasanya Rezza lari memeluk kekasih hatinya yang ia pacari sejak setahun yang lalu.Rezza dan amel berpacaran secara diam diam dikarenakan orang tua Amel melarang amel berpacaran dulu,mereka ingin anak gadisnya fokus kependidikan dulu,karena orang tua Amel takut jika Amel pacaran kebablasan.Kalau hal itu terjadi tentu orang tua Amel akan menanggung malu.
Setelah resepsi usai,didalam ruangan itu hanya tinggal keluarga dan kerabat jauh sang mempelai mereka masih asyik berbincang bincang sebab jarang jarang mereka bisa berkumpul dan saling melepas rindu dikarenakan mereka tinggal diluar kota.Karena Tiya sudah sangat lelah dia berpamitan pada semua untuk kembali kekamar pengantin.Tiya membuka pintu kamar dan merasa takjub dengan dekorasi kamar pengantinya,Tiya tersipu sendiri membayangkan sebentar lagi ia dan Suaminya akan tidur diranjang yang dipenuhi kelopak mawar merah itu,dan Tiyapun tak berani membayangkan hal apa yang selanjutnya akan terjadi.Tiyapun buru buru masuk kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket dan tidak karuan rasanya karena lelah,setelah mengambil air wudu Tiyapun keluar dengan handuk yang melilit badannya tadi karena terburu buru Tiya lupa membawa baju gantinya,Tiya terperanjat melihat suaminya yang sudah terbaring terlentang dikamar tidur dengan mata terpejam,bukannya Rezza tak tau kalau Tiya keluar dari kamar mandi,Rezza sengaja pura pura tidur guna menghindari bertegur sapa dengan Tiya,Rezza malas dan sedang tidak punya semangat hatinya kalut,Rezza merasa sangat bersalah kepada Amelia.Pelan pelan Tiya berjalan untuk mengambil baju dalam kopernya lalu masuk kekamar mandi lagi untuk berganti.Diatas tempat tidur pikiran Rezza menerawang terbayang pada kejadian tadi diruang Resepsi,setelah Tiya pamit kembali kekamar buru buru Rezza menghampiri Amelia yang sedang duduk diujung ruangan agak gelap menangis dalam kekecewaan yang teramat dalam,kemudian Rezza menghampiri Amelia dan Rezza memeluk reat tubuh mungil takberdaya itu dengan erat.
"sayang maafkan aku ya..,aku bersalah padamu,Ibuku memaksaku menikah dengan Tiya berkali kali aku sudah menolaknya tapi Ibu mengancamku aku tidak akan diakui sebagai anak dan namaku akan dicoret dari ahli waris keluarga,sayang.Aku tidak mau hal itu terjadi,aku janji jika harta warisan ibu sudah diserahkan kepadaku,pasti Tiya aku ceraikan,aku tak mencintainya sama sekali,aku hanya cinta sama kamu sayang..aku mohon maafkan aku ya.." Rezza menghiba pada Amelia hati Rezza bagai disayat sayat pisau melihat kekasih yang sangat dia cintai lerluka hatinya karna penghianatan Rezza.
"sudahlah mas..,sudah ratusan kali kamu mengatakan itu.aku kecewa sama kamu mas...kenapa kamu tidak meyakinkan ibumu,kenapa kamu tidak mau menceritakan hubungan kita kepada ibumu mas..,kenapa kamu tidak mau mengatakan pada ibumu kalau akulah wanita yang kamu cintai mas..bukan Tiya wanita perebut itu" sambil terisak isak Ameliya mengungkapkan kemarahannya.
"aku akan pergi jauh darimu mas,aku benci kalian semua...aku benci kalian semua..." sambil menangis Amelia bangkit dan lari keluar ruangan,Rezza ingin lari mengejar Amelia namun dari belakang bu Sanusi memanggilnya.
"Rezza mau kemana kamu buru buru begitu?" tanya bu sanusi heran.
"itu pakdemu sama budemu pengin ngobrol sama kamu,mereka masih kangen denganmu Zaa..mereka jauh jauh datang kesini pengin berbagi kebahagiaan denganmu Zaa" ucap bu Sanusi.Rezzapun melangkah gontai tanpa semangat mengikuti ibunya tanpa berkata sepatah katapun.
"Zaa kamu kenapa kok lemes gitu?" tanya bude heru
"Capek bude.." jawab Rezza singkat tanpa semangat
"Ooohhh...pakde kira kamu lagi patah hati,wong mukamu mbok tekuk koyo koran bekas gitu..hee...hee...he..." goda pakde heru pada Rezza.
"Weehhh..kamu ini mas sak karepmu dewe wae nik ngomong,wong baru aja dadi manten kok ws patah hati" sanggah bude heru.
" Iyo aku tau,Rezza patah hatine mergo ditinggal istrinya kembali kekamare to bu,pie to koe kui bu.."pakde heru berucap sambil menepuk nepuk bahu Rezza seolah memahami apa yang ada dibenak Rezza.Rezza hanya tersenyum terpaksa tanpa berkata kata."Ya sudah kamu nyusul istrimu sana aja,nik capek estirahar wae".Dengan malas Rezza melangkah menuju kamar pengantinya,setelah masuk kamar Rezzapun membantingkan tubuhnya keranjang dengan kasar,tak lama kemudian Rezza mendengar pintu kamar mandi terbuka "ceklik" namun Rezza pura pura tidur.Setelah tiya keluar kamar mandi untuk mengenakan pakaian lengkap tiyapun melihat kearah suaminya yang masih tidur terlentang dengan pelan tiyapun menghampiri suaminya lalu dengan sabar tiya mulai membuka sepatu dan kaus kaki suaminya kemudian menyelimuti suaminya setelah itu tiyapun menunaikan sholat.