Di kota Bangkok, seorang gadis cantik sedang melatih muridnya bela diri. Nama gadis itu Nara, umurnya 25 tahun. Kedua orang tuanya telah meninggal dunia sejak dia berusia 19 tahun. Kota ini sangat indah dan asri yang membuat Nara betah tinggal di kota itu. Handphone Nara berdering yang tertulis panggilan dari guru Nara, Nara pun mengangkatnya “hallo, ada apa guru menelponku” kata Nara “guru menelponmu untuk memberitahu bahwa kamu akan di pindahkan ke wilayah Chiang Mai untuk melatih anak-anak disana bela diri” kata guru. “kok… aku yang di pindahkan padahal masih ada yang lain dan lebih baik dalam melatih” kata Nara “ini perintah dari pusat, guru tidak bisa berbuat apa-apa, kamu turuti saja. Masalah biaya semuanya pusat yang tanggung” kata guru “baiklah guru, aku akan pergi ke kota itu. Kapan aku akan di berangkatkan” kata Nara “kamu akan berangkat dua hari lagi” kata guru “cepat banget, apa gak bisa 1 minggu lagi gitu” kata Nara “tidak bisa Nara, pusat telah memutuskan itu dan tiket kereta api telah di pesan atas namamu” kata guru “baiklah kalau begitu, Nara tutup dulu telponnya guru” kata Nara. Telpon pun terputus, Nara memutuskan untuk mengakhiri pelatihannya hari ini dan pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, Nara segera membersihkan dirinya dan memasukkan pakaiannya ke dalam koper (ha… aku harus meninggalkan kota kelahiranku demi mendapatkan uang untuk menyambung hidup. Aku akan kembali ke kota ini dengan uang yang banyak) kata Nara pada dirinya.
Selesai memasukkan bajunya ke dalam koper Nara pun bergegas tidur. Hari pun berganti hari, hari ini Nara akan berangkat ke kota Chiang Mai. Nara telah berada di stasiun kereta api yang ada di Bangkok tempat kelahiran nya.
Nara pun memasuki gerbong kereta 9 dan mencari tempat duduk yang nyaman untuknya. Tak lama datanglah seorang pria yang membawa seorang anak laki-laki berusia 4 tahun. “papa, tita mau duduk dimana” kata anak itu “kita duduk disini sayang” kata pria itu.
Ayah dan anak itu duduk di samping Nara, Nara terus saja membaca novel ke sukaannya. “Tante cantik, sedang apa” kata anak itu, Nara pun mengalihkan pandangannya dari novel ke anak itu, “tante sedang membaca novel, nama kamu siapa” tanya Nara “nama atu laihan tante” kata anak itu “oh nama kamu laihan” kata Nara “bukan tante tapi laihan” kata anak itu dengan cemberut “oh Raihan, maaf tante telah salah menyebut nama kamu” kata Nara “baiklah Raihan maafkan , kalau nama tante siapa” tanya Raihan “nama tante Nara” kata Nara di jawab anggukan oleh Raihan sedangkan ayah Raihan hanya menyimak percakapan keduanya.
Raihan kembali ke tempat duduknya, tak lama lagi kereta akan berangkat. Nara pun selesai membaca novelnya dan memandang keluar jendela kereta yang menampakkan ada dua orang yang telibat perkelahian, tapi Nara hanya cuek.
Kereta pun berangkat, waktu perjalanan sudah 3 jam tapi kedua mata Nara tetap saja tak telelap (kenapa perasaan ku tidak tenang seperti ini, semoga tidak terjadi apa-apa) kata Nara dalam hati. “dari pada aku memikirkan sesuatu yang tidak jelas mending ngemil aja deh, aku juga lapar” Kata Nara pada dirinya. Nara mengambil cemilan dari tasnya dan membukannya, sebelum memakan cemilannya Nara melihat ke sampingnya ternyata Riahan juga belum tidur dan melihat apa yang dilakukan oleh Nara.
Nara menyodorkan cemilannya ke Raihan, mereka berdua ngemil bersama sedangkan ayah Raihan telah terlelap. “tante Laihan mau pipis” kata Raihan “ya udah tante temanin” kata Nara. Mereka pun berjalan menuju toilet “tante tunggu di sini, jangan tinggalkab Laihan” kata Raihan “ baik bos kecil” kata Nara (anak yang manis, tapi mama nya kemana kok gak ikut suami dan anaknya, mana dalam perjalanan jauh lagi) kata Nara dalam hati.
Raihan pun keluar dari toilet “ayo tante laihan sudah selesai” kata Raihan di jawab anggukan oleh Nara “raihan tante boleh nya sesuatu gak” kata Nara “boleh tante” kata Raihan “mama Raihan kemana kok gak ikut sama Raihan dan papa” kata Nara “mama Raihan…. Telah meninggal tante” kata Raihan dengan mata yang berkaca-kaca. “maafkan tante Raihan, tante tidak bermaksud…” kata Nara terpotong “tidak apa-apa tante” kata Raihan mgubah ekspresi wajahnya kembali ceria.
(kasihan sekali kamu nak, masih kecil udah tinggalkan oleh mama nya) kata Nara dalam hati “tante kenapa berdiri terus tita udah sampai di tempat duduk tita” kata Raihan, “eh…iya” kata Nara sambil duduk di tempatnya.
Tak terasa kereta telah sampai di stasiun kereta api Chiang Mai, tapi sang masinis heran karena di stasiun itu tidak ada satu pun penumpang. Sang masinis pun segera keluar dari kereta untuk memeriksa keadaan stasiun itu.
Sedangkan para penumpang telah berhamburan keluar, ayah Raihan pun terbangun dan segera mengambil tasnya. “Rai, ayo kita turun” kata pria itu sambil menggendong Raihan. Raihan melambaikan tangan ke Nara, Nara pun membalasnya.
Nara bergegas turun dari kereta dan berhenti sejenak (kenapa stasiun ini sepi sekali, aneh) kata Nara dan melanjutkan jalannya. Semakin Nara berjalan tempat ini semakin ane. Sang masinis berjalan dengan terburu-buru melewati Nara. Nara memberhentikan langkahnya dan mempertajam pendengaranya (suara apa ini, kayak suara sekumpulan orang yang sedang mencakar sesuatu dan …) kata Nara terpotong sambil meperhatikan seluruh ruangan yang terlihat berantakan dan bercak darah dimana-mana. (fix, ada yang tak beres dengan stasiun ini) kata Nara kembali menghentikan langkahnya.
Sedangkan di belakang Nara ada seorang wanita yang sedang menggendong bayinya dan menghampiri Nara yang sedang mengamati tempat itu. “Hai, kenapa kamu berhenti disini” kata wanita itu “hai, aduh lucunya siapa namanya” kata Nara sambil melihat bayi itu “nama nya Naisa, kalau aku Sila, kalau kamu” tanya Sila “nama aku Nara” jawab Nara.
Mereka pun saling berbincang dan tak lama terdengar suara orang menjerit kesakitan, Nara dan Sila pun mencari sumber suara itu ternyata suara itu berasal dari ujung gedung. “Sila, kamu tunggu di sini aku akan cek dulu ke sana, kamu tetap di sini jangan kemana-mana” kata Nara di jawab anggukan oleh Sila.
Baru beberapa langkah Nara berjalan muncul sang masinis dengan luka di sekujur tubuhnya. Nara berbalik dan menatap Sila “ce…pat la…ri dar..i sini” kata Sang masinis “emang ada apa pak” kata Nara “Me…re…ka semua telah terinfeksi virus yang membuat orang yang mereka gigit berubah seperti mereka. Ce…pat lari dari sini sebelum mereka da…tang” kata Sang masinis “aku akan membantu bapak” kata Nara “jangan mendekat, karena saya telah tergigit dan terinfeksi, tidak lama lagi saya akan berubah seperti mereka” kata Sang masinis “tapi pak…” kata Nara terpotong “cepat mereka telah bergerak ke sini” kata Sang masinis.
Tak berapa lama datang lah segerombolan orang telah terinfeksi mengejar para penumpang kereta api. Semua penumpang yang telah tergigit berubah seperti monster yang menggilai daging manusia.
Nara yang melihat itu segera berlari dan menerik Sila ke dalam sebuah mini market untuk bersembunyi, tak lupa Nara menutup pintu toko itu. Tapi setelah Nara menutup pintu toko itu, Nara melihat anak laki-laki yang sedang menangis melihat ayahnya di serang oleh orang yangtelah terinfeksi virus.
Nara yang tidak tega melihat anak kecil menangis, Nara pun keluar dan menutup pintu toko itu. Nara membantu pria itu melawan orang-orang itu. Setelah membereskan orang-orang itu Nara segara menggendong Raihan dan menarik tangan ayah Raihan. “cepat buka pintunya jangan bengong” kata Nara. Ayah Raihan membuka pintu toko itu dan masuk bersama Nara dan Anaknya. Tak lupa dia menutup kembali pintu toko itu.
Nara menurunkan Raihan dari gendongan nya tapi Raihan tetap saja memeluk erat Nara “Raihan, kenapa gak mau turun dari gendongan tante Nara” kata ayah Raihan tapi Raihan tetap tidak mau membuka suara “Raihan sayang, turun dulu yah, tante mau istirahat” kata Nara.
Raihan pun melepaskan pelukannya pada Nara “tapi, tante janji tidak akan tinggalkan Laihan” kata Raihan “iya tante janji” kata Nara menurunkan Raihan dari gendongan nya. Nara mengambil handphone nya dan dan mencari informasi berita hari ini.
*Di kota Bangkok dan Chiang Mai telah terinfeksi virus aneh yang membuat orang terinfeksi akan mengigit orang yang ada di sekitarnya. Virus ini tersebar melalui gigitan, pemerintah menghimbau agar tetap berdiam diri di rumah atau mengungsi ke kota Chiang Rai. Demikian lah berita ini kami sampaikan terima kasih*
(bagaimana in, apakah guru baik-baik saja di sana. Hanya guru yang aku punya di dunia ini) kata Nara dalam hati. Nara segera menelpon gurunya, panggilan pun tersambung “halo guru, apakah guru baik-baik saja” kata Nara “Na…ra ja…ga dirimu ba…ik-baik mungkin gu…ru ti…dak bi..sa lagi menemanimu” kata Guru, telpon pun terputus “guru….guru…” kata Nara sambil menitikkan air mata tapi segera dia hapus supaya tidak ada orang yang melihatnya.
(kalau aku mengingat ulang kejadian ini, kenapa terasa seperti film Train to Busan. Apa jangan-jangan virus yang menyebar ini juga virus zombie seperti di film-film? Aku kira itu hanya ada di film tenyata ada di dunia ini juga) kata Nara dalam hati.
“Nara bagaimana cara kita keluar dari sini” kata Sila membaut Nara tersadar dari lamunannya “kita tunggu sampai malam tiba, disitu lah waktu kita akan keluar dari tempat ini. Untuk sementara kita bersembunyi dari sini” kata Nara. “papa, Laihan lapar” kata Raihan “raihan tunggu di sini papa cari cemilan untuk Raihan” kata ayah Raihan. Ayah Raihan pun menelusuri mini market itu, setelah kepergian ayah Raihan, Nara pun bertanya ke Raihan “Raihan, nama papa kamu siapa sih” tanya Nara “nama papa, Malio tante” kata Raihan “oh Mario, Sila aku titip Raihan aku mau nyusul Mario kita gak tau toko ini aman atau tidak dari orang terinfeksi” kata Nara di jawab angukan oleh Sila.
Nara pun menyusul Mario, mario yangsibuk memilih cemilan yang sehat untuk anaknya tak menyangkah bahwa dari belakang nya ada zombie yang ingin mengigitnya. Untung Nara datang di waktu yang tepat, tanpa basa basi Nara berlari dan menendang zombie itu sampai mundur beberapa langkah dan Nara menyambar tali yang ada di dekatnya untuk mengikat zombie itu.
“terima kasih, kau telah menolongku untuk kedua kalinya” kata Mario “lain kali amati dulu tempatnya baru mencari sesuatu” kata Nara sambil mencari makanan ringan untuk dia makan dan Sila. Tak lama Nara dan Mario kembali membawa makanan ringan “Nara, apakah di sini ada susu formula untuk Naisa” tanya Sila “aku sudah membawakan nya dengan dotnya sekalin” kata Nara sambil menyerahkan 1 kantong plastik. Sila segera membuat susu untuk anaknya.
“papa, Laihan takut ada di sini” kata Raihan “kita akan keluar dari sini” kata Mario menenangkan Raihan “tante, boleh laihan tidur dekat tante Nara” tanya Raihan “boleh sayang, sini” kata Nara. Raihan pun berjalan ke ara Nara dengan wajah ceria dan tak lama Raihan pun tidur di dekat Nara. Sedangkan Sila dan Mario memutuskan untuk menidurkan dirinya supaya mempunyai energi untuk pergi dari tempat ini. Nara yang melihat semuanya telah tertidur pulas, Nara berdiri dari duduknya dan berjalan ke pintu toko untuk mengamati keadaan di luar supaya nanti kalau dia akan keluar dari toko akan aman untuk semuanya.
Nara pun melihat celah yang dapat mereka lewati nanti untuk pergi. Nara kembali ke tempat duduknya dan memenutup matanya. Tak lama Nara menutup matanya tapi suara yang sangat berisik membangunkan Nara, dan benar saja salah satu zombie berusaha membuka pintu toko itu. Nara segera menahan pintu itu, dari kebisingan yang di sebabkan oleh zombie itu membuat Sila, mario dan Raihan terbangun dari tidurnya.
Sila segera membantu Nara menahan pintu “mario, cepat cari jendela atau pintu yang dapat kita lewati untu keluar dari tempat ini” kata Nara “papa Laihan ikut papa laihan takut” kata Raihan. Mario dan Raihan mencari jalan keluar dari dari tempat itu dan men dapatkan pintu yang menghubungkan stasiun dengan jalan raya. Mario dan Raihan segera kembali dan memberitahukan kepada Nara. Sementara Nara dan Sila yang sedang menahan pintu “Nara bagaimana ini, aku sudah tidak tahan lagi, zombie ini sangat banyak sedangkan kita hanya berdua” kata Sila.
Sedangkan Mario sambil menggendong Raihan terus saja mencari celah yang bisa di lewati untuk keluar dari toko itu, tak berapa lama mereka pun mendapatkan jendela yang yang dapa di lalui. Mario pun memeriksa keadaan di luar jendela, suasana di luar sana cukup aman untuk di lalui. Mario pun segera menghampiri Nara dan Sila “aku menemukan jalan keluar bereskan barang kalian” kata Mario sambil mengambil barangnya.
“Sila cepat kemasi barangmu biar aku yang menahan menahan pintu” kata Nara “ta..tapi Na…” kata Sila terpotong “cepat, kita tidak punya waktu lagi” kata Nara sedangkan Mario yang selesai membereskan barangnya memandang ke arah Nara “biar aku yang menahannya kamu bereskan barang-barangmu” kata Mario sambil berjalan ke arah Nara “tidak usah barang cuma tas ransel itu saja, kamu dan yang lain pergilah dari” kata Nara “baiklah” kata Mario sambil mengambil tas Nara dan bergegas menujukkan jalan keluar dari toko itu.
Sila yang pertama keluar sedangkan Mario menggendong Raihan dan menyerahkannya ke Sila selanjutnya Naisa yang dia keluarkan barulah Mario. Mereka menunggu dengan harap cemas apakah Nara selamat. Tak berapa lama, Nara pun muncul di jendela dengan napas yang memburu “cepat kita pergi dari sini tempat ini tidak aman untuk kita, pintu toko telah terbuka dan zombie telah memasukki toko” kata Nara.
“tapi kita harus kemana” tanya Sila, Nara pun membuka handphonenya dan melihat maps jarak tempatnya dengan 10 km lagi untuk bisa sampai ke kota Chiang Rai “kita harus berjalan ke arah timur, jarak kota Chiang Rai dari tempat kita 10 km lagi” kata Nara “kita harus mencari kendaraan untuk menuju kota itu” kata Mario. “kita tinggalakn dulu tempat ini masalah kendaraan pasti kita akan mendapatkannya” kata Nara. Mereka pun bergegas meninggalkan tempat itu, mereka terus berjalan ke arah timur mengikuti arah matahari hingga mereka memasuki hutan yang lebat.
“Nara kau yakin kata harus melewati hutan ini” tanya Sila “iya” jawab Nara dengan singkat, mereka pun telah berada di tengah hutan tersebut. “Nara, bisakah kita beristirahat sebentar aku lelah” kata Sila, Nara pun mengawasi sekitar dan menyetujui kata-kata dari Sila “baiklah kita istirahat sebentar” kata Nara. Mereka mengistirahatkan diri, Mario dan anaknya Raihan meminum Air botol yang tersisa sedikit “ayah, laihan masih aus”kata Raihan “air minumnya udah habis Rai” kata Mario, Nara yang baru saja selesai minum ingin mendudukkan dirinya berhenti sejenak dan melihat kearah Raihan dan Mario.
Nara pun menghampiri Raihan “Raihan masih Haus” tanya Nara di jawa anggukan oleh Raihan. Nara pun mengambil satu botol air minum yang masih tersegel “ini untuk Raihan” kata Nara sambil menyerahkan botol itu ke Raihan “makasih tante, tapi Laihan idak isa buka” kata Raihan, Nara pun membukakannya untuk Raihan. Mereka semua beristirahan sambil memakan cemilan sempat meraka ambil dari toko.
Tak berapa lama terdengar suara aneh membuat mereka saling melirik satu sama lain, Nara pun memberi kode untuk diam. Nara beranjak dari tempat duduknya dan mencari sumber suara tersebut dan ternyata itu suara gerombolan zombie yang menuju ke arah tempat istirahatnya. Nara pun bergegas kembali ke tempat istirahatnya “ayo kita segera meninggalkan tempat pat ini” kata Nara “kenapa kita harus meninggalkan tempat ini” kata Mario.
“tidak jauh dari tempat kita berada, segerombolan zombie bergerak ke arah kita” kata Nara, mereka pun meninggalkan tempat itu dan melanjutkan perjalanan. Tak terasa hari pun semakin gelap “kita cari tempat untuk beristirahat karena hari sudah gelap, kita lanjutkan perjalanan esok Hari” kata Mario. Nara pun menyetujuinya karena tubuhnya terasa sakit membawa tas yang berisi cadangan makanan.
Mereka menemukan satu rumah, dan memutuskan untuk istirahat disana, Sila membuka pintu rumah itu tanpa mengawasinya tersebut hampir tergigit oleg satu zombie yang berasal dari rumah itu. Untung saja Nara dengan lincahnya membunuh zombie itu “Sila apakah kau baik-baik saja” tanya Nara di jawan anggukan oleh Sila karena masih syok akan kejadian tadi. Nara memasuki rumah itu dengan perlahan dan mengawasi rumah itu. Setelah di rasa aman Nara pun menyuruh semuanya untuk duduk, tak lupa Nara menutup kembali pintu rumah itu.
Mereka memutuskan untuk membersihkan diri dengan cara bergantian memasuki kamar mandi setelah selesai, mereka pun menyiapkan makan malam. Makan malam berlangsung tanpa ada ganggu dari zombie, mereka semua bergegas tidur agar mempunyai tenaga yang cukup untuk melanjutkan perjalanan besok.
Pagi pun menyapa, mereka telah selesai membersihkan diri “apakah semua sudah siap” kata Mario di jawab anggukan oleh semua orang. Mario pun membuka pintu tanpa mereka sadari ada tiga zombie yang menghadang, Mario pun memundurkan langkahnya karena tidak memungkinkan dia melawan zombie dengan keadaan sang anak ada di dalam gendongannya. Nara yang melihat itu langsung menghajar ketiga zombie itu dan meneruskan perjalan.
Mereka telah lama berjalan di bawa teriknya matahari, nara melihat ke arah Sila yang kelelahan menggendong sang bayi, Nara menghampirinya “apakah kau lelah” kata Nara “iya, aku sangat lelah” kata Sila “berikan bayimu kepadaku aku akan menggendongnya” kata Nara “apakah tidak akan menyusahkan mu” kata Sila “tidak akan” kata Nara. “lebih baik kita cari toko untuk mengambil gendongan bayi supaya kalian tidak kesusahan” kata Nara. Mereka pun menyetujuinya.
Tak jauh dari tempat mereka ada sebuah toko membuat mereka segera menuju tempat itu. Sebelum mesauki toko itu. Nara menyerahkan Naisa ke Sila dan memasuki toko itu. Setelah di rasa aman Nara pun menyuruh Mario dan Sila untuk masuk. Mereka tak menyia-yiakan waktu segerah mencara apa yang mereka butuhkan. Tak lama mereka mencari akhirnya apa yang mereka cari pun ketemu. Dua buah gendongan anak, Mario segerah memakainya ke punggung.
“nara bisa aku meminta tolong” kata Mario “iya, mau minta tolong apa” kata Nara “taruh Raihan di gendongan yang ada di punggungku” kata Mario tanpa banyak bicara Nara pun membantu Mario menaruh Raihan di gendongan itu. Nara juga membantu Sila untuk menaruh Naisa ke gendongan Sila.
Mereka melanjukkan perjalan “Nara, apakah masih jauh” kata Sila “iya masih jauh, kamu cape” kata Nara “iya sangat cape” kata Sila “kita istirahat disini, pohon cukup lebat untuk menghindari kita dari panas matahari” kata Nara. Mereka pun istirahat, Nara yang terus saja mengawasi tempatnya beristirahan melihat ada sebuah mobil yang terpakir tidak jauh dari tempat mereka beristirahat “tidak juah dari tempat kita beristirahat ada sebuah mobil yang bisa membawa kita ke tempat tujuan” kata Nara. Mereka yang mendengar itu merasa lega, tak perlu cape-cape untuk berjalan kaki lagi.
Tanpa mereka sadari ada segerombolan zombie mendekati mereka, Nara tak menyadarinya. Mario yang menoloh kebelakang terkaget melihat zombie yang berada dekat dengannya “cepat lari banyak zombie di belakang kita” kata Mari. Kata Mario otomatis membuat Nara menoleh kebelakang dan benar saja salah satu zombie itu telah beradah di depan mata. Nara menarik Sila tapi naas, kaki sila di gigit oleh zombie itu tanpa pikir panjang Nara pun menghajar Zombie itu.
Nara memapah Sila menuju mobil “Nara, berhenti. Aku tidak bisa ikut dengan mu itu akan membahayakan bagi kalian” kata Sila “tidak Sila, kamu harus ikut dengan kami aku yakin kau tak akan berubah seperti mereka, kamu harus pikirakan bagaimana nasib Naisa tanpa ada dirimu” kata Nara “tidak, Nara aku pasti berubah seperti mereka, waktu ku tak banyak Nara. Aku berpesan pada mu jaga Naisa baik-baik, aku sangat sayang padanya melebihi diriku sendiri. Sayangilah dia seperti kau menyayangi anakmu suatu hari nanti Nara” kata Sila sambil melepas gendongan bayi dan mengikatnya pada Nara. Tak terasa air mata Nara turun dengan sendirinya.
Sila melihat kebelakan, ternyata telah banyak zombie berjalan kearah mereka “cepat pergi Nar, mereka berjalan menuju kita cepatlah dan ingat pesan ku tadi” kata Sila sambil mendorong Nara menjauh darinya. Sila merasakan sesuatu yang aneh terjadi pada dirinya, tak lama dia jatuh pingsan. Nara yang melihat itu ingin kembali ke arah Sila tapi hal yang mengejutkan terjadi, Sila bangkit dengan wajah yang menakutkan seperti Zombie.
Akhirnya Nara berlari menuju mobil yang di dalamnya terdapat Mario dan anaknya. Nara memasuki mobil dengan air mata terus jatuh di pipinya “Sila kemana” tanya Mario “Si… sila, telah terinveksi” kata Nara. Mario memijit keningnya, tanpa berpikir lama Mario menyalakan mobil dan meninggalkan tempat itu. Mario menjalankan mobil sampai di perbatasan kota Chiang Mai dan Chiang Rai yang telah di pasangkan portal besi berduri.
“kita telah sampai di perbatasan” kata Mario, Nara pun turun dari mobil begitupun dengan Mario sambil menggendong anaknya. Mereka berjalan perlahan menuju portal tersebut.
Sedangkan di tempat lain, seorang tentara terus saja mengawasi gerak gerik mereka. Mario merangkul Nara memasuki perbatasan, Mario yang melihat ada seorang tentara mengawasinya segera melambaikan tangan. Para tentara yang melihat itu segerah berlari menghampiri mereka dan membawanya ke tempat karantina.
TAMAT