Tatapan tajam mata rubah itu terus mengarah pada musuh bebuyutannya Park Jisung, yang sekarang telah resmi menjadi saudara tirinya. Renjun terus menatap Datar pria jangkung yang duduk tepat di depannya itu.
Sedangkan pria jangkung itu hanya tersenyum seakan mengatakan 'aku menang' pada Renjun. Renjun mendengus kesal pada ibunya. oke, seminggu lagi marganya akan berubah menjadi Park.
"nah, sekarang kalian boleh berkenalan, Renjun! sapalah Jisung dengan sopan" tegas ibu Renjun. Renjun mendengus kesal pada ibunya yang sepertinya memihak musuhnya itu.
"Huang Renjun..." ucap Renjun dengan nada malas dan tatapan datar "Park Jis---" belum selesai Jisung berkenalan, Renjun langsung pergi meninggalkan mereka. membuat jisung menyeringai tipis.
Ibu Renjun yang merasa tak enak pada Jisung membungkuk. "maafkan Renjun...dia memang kurang sopan...mohon maklumi" kata Ibu Renjun sambil menggaruk tenguknya tak gatal.
"tidak apa, ini pertemuan pertama mereka, mungkin mereka akan membaik setelah beberapa hari" ucap ayah Jisung memaklumi "Nah Jisung, lebih baik kamu susul Renjun" lanjut ayah Renjun.
Jisung tersenyum, ia keluar cafe tempat pertemuan itu dan menyusul Renjun yang sedang duduk di salah satu kursi taman sambil memasang wajah masam. Jisung hanya terkekeh melihat musuh kesayangannya memasang wajah masam.
"Hey, aku menang..." Ucap Jisung, Renjun menoleh kepada pemilik suara itu, ia menatap datar Jisung yang ada di depannya.
"aku mengaku kalah" lirih Renjun, ia berdiri mendekati Jisung. Jisung yang didekati hanya menatap heran sang musuh tersayangnya "tapi...permainan belum berakhir PARK JISUNG" bisik Renjun sembari melewati Jisung. Jisung yang mendengarnya terkekeh kecil.
"aku tau..." gumam Jisung menyeringai.
Jisung meninggalkan taman kembali ke cafe, terlihat Renjun yang kesal sambil melipat kedua tangannya didada duduk dikursi dekat ibunya. Jisung tambah gemas dengan Renjun yang sedang kesal.
"Jadi bagaimana?" tanya Ayah Jisung sambil menatap Jisung dan Renjun bergantian. Jisung hanya tersenyum sambil mengangguk sedangkan Renjun hanya diam.
"Syukurlah, kami senang kalian semakin dekat" Ucap ibu Renjun bahagia.
Renjun ikut bahagia melihat ibunya bahagia dengan ayah barunya, tapi kenapa calon ayah barunya adalah Ayah Jisung? apa tak ada yang lain?
"ibu...aku ada janji dengan Jaemin, aku harus pergi" Renjun pergi, Jisung menatap datar Renjun ia tak suka Renjun menyebut nama pria lain. secara Renjun adalah miliknya, miliknya seorang.
SEMINGGU KEMUDIAN
Ayah Jisung dan Ibu Renjun resmi menjadi pasangan suami istri hari ini, marga Renjun juga sekarang telah berganti menjadi 'Park'
Menjengkelkan, apalagi Jisung yang terus tersenyum menatapnya. ukh! Jisung gila hari ini. Renjun hanya acuh tak peduli pada senyum dan tatapan Jisung.
"Park Renjun..." panggil Jisung. Renjun dengan tatapan malasnya mendekati Renjun lalu memutar bola matanya seakan berbicara "apa lagi?!".
"sebentar lagi sesi foto keluarga, bersikaplah sopan" ucap Jisung. yang membuat Renjun menatap datar Jisung.
"aku tau...dan jangan memerintahku! aku benci diperintah oleh seseorang kecuali ibuku!" tegas Renjun.
Jisung hanya mengangkat bahu sambil tersenyum. mungkin setelah ini ia akan menyelenggarakan pesta kemenangan bersama teman temannya.
Akhirnya, acara pernikahan yang membosankan itu selesai. Renjun ingin pulang lebih awal tadi, tapi Jisung menahan dan mengancamnya.
"Jisung, tolong tunjukan kamar Renjun kepada Renjun" Ucap Ayah Jisung.
Jisung mengangguk, mengisyaratkan Renjun untuk mengikutinya. Mereka sampai di kamar bertuliskan Park Renjun, Renjun membuka pintu kamar. melihat kamar barunya yang dipenuhi boneka Moomin. ia menatap malas Jisung.
"ibumu yang memberi tahuku kau sangat menyukai boneka kudanil ini" Jisung menunjuk semua boneka Moomin yang ada di kamar baru Renjun.
"oh, dan kau juga sangat berusaha mencari informasi pribadiku kan? Park Jisung?"
Jisung menyeringai, memang selama seminggu ini ia sibuk mencari tahu tentang informasi pribadi Renjun.
"aku ini saudaramu, aku berhak mengetahui dirimu" Jisung memojokkan Renjun ke dinding.
Wajah Renjun dan Jisung hanya berjarak beberapa cm saja. Sekarang Renjun bisa melihat jelas wajah musuhnya itu setelah 2 tahin bertemu. 'Tampan' kata itu terbayang di benak Renjun.
"sekarang kau hanya milikku Park Renjun, jangan berharap untuk melarikan diri dari sisi ku" bisik Jisung sambil meniup bagian sensitif telinga Renjun yang membuat Renjun merasa geli sekaligus merinding, pasalnya suara Jisug begitu berat.
"Fvck! menjauh dari sisiku!" umpat Renjun yang berusaha mendorong bidang dada Jisung.
Bukannya menjauh, Jisung malah semakin nakal. ia menjilati leher Renjun lalu mengusap paha Renjun dengan sensual. Renjun yang berusaha menahan desahan sudah benar benar tak kuat dengan sentuhan yang diberikan Jisung.
"sialan! Ber-berhen-ahh" satu desahan lolos dari mulut kecil Renjun. Jisung yang mendengar desahan Renjun menatap Renjun dengan penuh nafsu. Park Jisung sialan! shit! sekarang dia melumat bibir cerry milik sang musuh tercintanya.
Renjun berusaha mendorong Jisung, tapi sayang tenaganya tak lebih besar daripada pria yang sedang melecehkan bibir sucinya itu.
Merasa ciumannya tak dibalas oleh Renjun, Jisung menggigit bibit bawah Renjun, membuat Renjun membuka sedikit mulutnya. Tak mau menyia nyiakan kesempatan, Jisung langsung memasukan benda lunak basah kedalam mulut hangat Renjun.
Benda lunak itu mulai menelusuri mulut hangat yang menjadi candunya sekarang. Tanpa sadar Renjun mulai terbelai ciuman yang diberikan Jisung untuknya. ia mengalungkan tangannya di leher Jisung membalas setiap gerakan lidah yang Jisung berikan.
Beberapa menit kemudian, Jisung akhirnya melepaskan tautan mulut keduanya. memperhatikan saudaranya yang sedang meraup oksigen dengan tatapan sayu yang menggoda Jisung.
"Shit! kau sangat menggoda Park Renjun" Keluh Jisung, Renjun yang mendengar hanya menatap tajam mata Jisung. Sialan pria itu sudah mengambil ciuman pertamanya.
"jangan berharap lebih" Renjun mendorong bahu Jisung dengan sekuat tenaga. yang membuat Jisung akhirnya menjauh dari Renjun.
Renjun menutup pintu kamarnya meninggalkan Jisung sendiri. mendengar ucapan Renjun Jisung bukannya menyerah ia malah memasang tampang gila.
"hihi, perlakuanmu padaku membuatku Gila, aku pastikan kau akan menjadi milikku secepatnya" Gumam Jisung.
END