Namaku Arshyla. Aku dikenal sebagai gadis yang periang dan multi talenta. Hobby ku lari, basket dan bermotor.
Aku menyukai semuanya. Semuanya ingin ku coba. Tingkat penasaran ku selevel dengan sakit yang ku sandang. Alhamdulillah nya, orang tuaku mendukung semua aktifitas ku. Apa pun itu, asalkan positif dan bermanfaat. Aku anak ke dua dari dua bersaudara.
Mereka sangat menyayangi ku.
Hari ini bu Imah pengasuh ku pulang kampung. Ibu nya sedang sakit, sebenar nya aku sangat sedih saat bu Imah pulang kampung. Tapi aku tak boleh manja, aku harus mandiri.
Papa, mama belum pulang dari kantor. Begitu juga dengan abang.
Saat ini aku hanya sendiri saja di rumah ku yang besar ini. Sunyii...sepi!!
Tiba tiba aku teringat dengan teman teman ku. Sedang apa mereka ya?
Tanya di benakku.
Kulirik jam dinding, menunjukan pukul 03.45 sore.
Mereka pasti sedang lari larian berebut si bulat yang bikin gemes itu.
Kaisar, Robby, Natalie dan semuanya, aku kangen kalian.
Tertawa, kejar kejaran, bercanda.
Aku rindu saat saat seperti itu.
Aaahh, sedangkan kini aku...
Aku hanya bisa duduk di kursi roda dengan ke dua kakiku yang lemas dan tak bisa di gerakan.
Namun aku masih bersyukur pada Tuhan. Aku masih di berikan nafas dan usia sampai detik ini.
Untuk melanjut kan kehidupan.
Alhamdulillah Wa Syukurillah.
Aku keluar dari kamar.
Kedua tangan ini memutar roda samping kursi rodaku. Rasanya sudah lama aku tidak keluar kamar sendirian seperti ini.
Biasa nya aku di bantu bu Imah, papa, mama ataupun abang.
Perlahan ku gerakkan roda kursi dengan ke dua tangan. Kursi roda menuju ruang foyer. Belum pernah aku sampai ke ruangan ini selama aku berada di kursi roda ini. Ruang foyer adalah sekat ruang tamu dan ruang keluarga di rumah ku.
Di ruang ini lah tempat piala, piagam dan medali tersusun rapi.
Sudah hampir dua bulan aku berada di kursi roda ini. Dan sekarang aku sudah mahir bergerak kemana pun dengan alat transportasi ku ini.
Aku melihat deretan piala piala itu dan menghitung nya.
Mmhh...banyak sekali.
Piagam piagam juga terpajang berjejer di dinding. Medali juga begitu, bergelantungan di lemari khusus.
Mataku tertuju pada satu trofi yang bertuliskan "Juara 1 Lomba Lari Marathon"
Lalu mataku melirik kursi roda. Dan kulihat kedua kaki ku.
Mataku perih.
Ku pejamkan mata untuk menahan tangis.
Aku tak ingin mengeluar kan mata.
Tapi ku tak bisa.
Ya Allah....kuat kan hambamu ini.
Butiran bening dari kelopak mata bawah ku keluar juga.
Air mataku mengalir begitu saja.
Dan...aku pun menangis.