Aku memiliki kisah cinta yang terbilang aneh. Aku mencintai seorang penyiar radio tanpa aku melihat dirinya.
Suaranya yang lembut dan indah sedikit serak dan itu menambah keseksiannya sebagai seorang wanita. Suara itu mampu menyentuh hatiku yang telah lama kosong.
Nessa Ghozal, namanya. Selama dua tahun ini aku sering mengirim pesan saat wanita itu sedang siaran live. Terkadang dia membawakan acaranya yang bertema Zona Curhat. Dari situlah aku memulai kedekatan dengannya.
Aku belum pernah bertemu dengannya, kami hanya berkomunikasi lewat radio dan pesan lewat messanger online. Dia tidak memberiku nomernya.
Suatu hari aku menembaknya bukan dalam arti kata tembak dengan sebuah alat, no! Haha...Aku menyatakan perasaanku. Tepat saat dia sedang siaran.
"Hai Nessa, aku Evan. Ya kau pasti sudah mengenal suaraku. Entah dari mana memulainya. Tapi aku ingin mengatakan sesuatu padamu....Aku mencintaimu saat aku mendengar pertama kali mendengar suaramu. Ini mungkin terdengar aneh, tapi tidak bagiku. Aku selalu merindukanmu, menantikan mu saat siaran. Mau kah kau menjadi kekasihku?" Tanya ku, saat aku diberi kesempatan untuk bercerita yang langsung terhubung ke radio.
Semua orang mendengarnya.
Gila....
No...ini tidak gila. Aku benar-benar mencintainya. Aku tidak melihat fisiknya, dia terlihat ramah, baik dan aku suka caranya menanggapi curhatan para pendengar radio.
Tapi yang terjadi, Nessa hanya menjawab, "Wow, terimakasih Evan, kamu ternyata penggemar beratku ya haha, ok karena kamu sudah menyampaikan perasaan mu padaku, maka aku akan berikan hadiah. Sebuah lagu special song for Evan, A Thousand Year, dari Christina Perry...,"
Setelah itu sambungan teleponku terputus dan hanya lagu yang terdengar.
Cintaku sepertinya tidak berjalan mulus. Setelah itu dia tidak membalas pesan chat ku, dia mengangkat teleponku saat siaran on airnya tapi tidak pernah menanggapi dengan serius.
Ok Fiks... aku mundur perlahan, melupakan cinta....
.
.
.
Brummm
Siang itu, sebuah mobil truk pengangkut barang, berhenti di depan rumahku. Suara mesinnya sangat berisik dan mengganggu tidur siang ku hingga aku beranjak dari tempat tidur dan mengintip dari kaca jendela.
Aku mengintip dengan membuka sedikit gordyn yang menghalangi pandanganku. Setelah itu aku dapat melihat dengan jelas, bidadari yang turun dari khayangan.
Cantik, tapi tidak menyentuh hatiku. Perasaanku masih sangat kacau dan hanya terisi dengan nama Nessa.
"Ya Tuhan bantu aku melupakannya," gumamku berharap mengeluarkan suara Nessa yang terus bergema di ruang kepalaku dan menyelimuti seluruh inkubator jantungku.
Plak
Seseorang menyentuh bahu ku, aku tak sengaja sedikit terkejut dan melompat kecil.
"Ibu, ngagetin aja," ucapku
"Siapa?"
"Gak tahu, kayaknya orang baru pindahan deh Bu. Soalnya itu barangnya pada dibawa masuk," ujarku yang masih mengintip dari balik jendela.
Rumah depan telah lama kosong, dan baru-baru ini rumah itu sudah direnovasi, mungkin pemiliknya yang baru sudah menempatinya sekarang.
"Cantik, tapi kok jalannya pincang ya? Itu Bapaknya atau suaminya ya, masih muda," ucap Ibuku
"Hemm mulai deh Bu, kalo lihat cowok cakep dikit aja matanya itu loh haha," ucap ku sedikit bercanda dengan Ibu. Ibuku telah lama menjanda sepatutnya dia pantas mempunyai pasangan lagi untuk menemaninya di usia senja nanti.
"Halah kayak kamu enggak, kamu kan juga gitu kalau lihat yang bening langsung mlengos, gak kedip-kedip tuh mata," cibir ibuku membalas.
"Haha...aku laki-laki Bu, masih muda masih pantas. Lah Ibu udah emak-emak wekekeke,"
"Oo bocah semprul," ucap Ibu yang langsung melempar ku dengan bantal, kemudian aku berlari keluar kamar menghindari kejaran Ibu.
.
.
.
Malam harinya, aku dan beberapa pemuda disana sedang mengobrol di warung kucing dekat rumah. Wanita yang baru saja pindah itu menghampiri kami. Oh tidak lebih tepatnya menghampiri Ibu pemilik warung.
"Bu saya beli nasi bungkusnya dua ya, sekalian sama gorengan," ucap wanita itu, namun hatiku terus berdegup kencang
Deg deg deg
Seperti ada genderang yang mau perang, keras dan menusuk. Suara itu, suara yang ku kenal. Suara yang selalu bergema diruang kosongku. Suara yang mampu membuat ku mengatakan. 'Aku cinta kamu'
Aku berdiri dari kursi depan dan masuk menghampiri wanita itu.
"Nessa Ghozal," sapa ku sedikit ragu.
Tetapi wanita itu menoleh tepat ke arahku, manik matanya menatap wajahku yang kucel dan berantakan karena habis patah hati. Setelah itu, ia mengerutkan alisnya dan dia terlihat berpikir.
"Ya, kamu tahu nama saya?" Ucapnya yang balas bertanya dan membuat aku hampir pingsan mendengar jawabannya.
Aku terpaku, bukannya langsung membalas pertanyaannya. Tubuh ini seketika kaku, tak dapat bergerak. Hingga ia terlalu lama menungguku dan mungkin menganggapku aneh
"Maaf, saya harus buru-buru karena Papa menunggu saya untuk makan malam. Permisi," ucapnya yang diakhiri dengan kalimat pamit.
Aku seperti seorang pengecut, entah kenapa bibir ini tak dapat bicara. Aku bertemu Nessa, pujaanku. Penyiar radio idolaku.
Setelah wanita biru menjauh, aku baru bisa bergerak. Dan memberiku sebuah pikiran. Apakah dia mengabaikan perasaanku karena dia malu dengan kondisinya yang pincang?
Aku tidak peduli dengan fisiknya, yang aku butuhkan adalah dirinya ada disampingku menjadi kekasihku dan menikah, merajut asa dengannya.
.
.
.
Aku menunggu beberapa menit memberikannya waktu untuk makan malam dengan Papanya. Setelah itu ku beranikan diri pergi kerumahnya. Tak lupa ku benahi rambutku dan ku rapikan pakaianku.
Tok Tok Tok
Tak berapa lama Pria paruh baya membuka pintunya.
"Ya, maaf mau cari siapa?" Tanya Pria itu
"Saya tetangga depan om, perkenalan saya Evan Perdana. Dan ini buat om sebagai tanda perkenalan," ucapku memberikan sebuah bingkisan buah-buahan entahlah aku sendiri bingung harus memberikan apa.
"Terimakasih nak Evan, Saya Ghozali. Eh kok ngobrol didepan aja nih, ayo masuk nak," ucap pak Ghozali sembari mengajakku duduk di dalam.
"Ness, Nessa, sini sayang....ini ada tamu," panggil pak Ghozali
Tak berapa lama Nessa keluar dari dalam dengan kaki sedikit terpincang, aku menunduk tak berani melihatnya. Tetapi saat ia mendekat, aku melihat satu kakinya bukanlah kaki asli. Satu kakinya terbuat dari replika kaki.
Aku memberanikan diri menatapnya karena tidak sopan jika aku terus menunduk.
"Ya Ayah,"
"Sini duduk, ini ada nak Evan tetangga depan dan Evan...ini Nessa, anak saya satu-satunya," ucap Pak Ghozali dan membuat raut wajah Nessa menjadi sedikit cemas.
Aku takut melihatnya, sehingga aku terus melihat pak Ghozali karena dialah yang sedari tadi berbicara.
Rupanya pak Ghozali dan keluarganya pernah mengalami kecelakaan dan menyebabkan istrinya meninggal. Sementara Nessa harus kehilangan kakinya dan memakai kaki palsu untuk berjalan. Itulah yang membuatnya sedikit pincang karena ketidakstabilan saat berjalan memakai kaki palsu.
Pak Ghozali banyak bercerita sementara aku dan Nessa hanya menjadi pendengar. Tak berapa lama Nessa buka suara.
"Pa, bukannya tadi papa mengantuk?" ucap Nessa
"Iya sih Papa mengantuk tapi kan ada tamu masa papa tinggal,"
Aku rasa Nessa sengaja mengatakan itu agar aku pulang dan Pak Ghozali bisa istirahat. Aku pun pamit setelah Nessa mengatakan itu.
"Hemm kalau begitu saya pamit pulang saja pak, maaf mengganggu. Saya permisi," pamit ku
"Evan sebentar, ada yang mau saya bicarakan," seru Nessa menahan kepergian ku.
Kami pun duduk di teras depan untuk tidak mengundang fitnah, karena pak Ghozali harus beristirahat di dalam.
"Kamu, Evan Perdana kan?" Tanyanya
"Iya, Aku Evan yang cintanya kamu tolak," ucapku kemudian dibalas senyuman oleh Nessa
Senyumnya sangat indah seindah suaranya, sungguh aku tidak tahan dan ingin terus menatapnya tanpa kedip. Tapi jika ku lakukan seperti itu yang ada, dia akan berpikir jika aku messum.
"Aku bukannya menolakmu, hanya saja keadaanku yang membuatku memilih bersikap seperti itu. Aku juga tidak tahu, apakah setelah ini perasaanmu masih akan sama setelah tahu keadaanku yang tidak sempurna," ucap Nessa
"Itu kan hanya pikiranmu saja, tapi tidak untukku Nessa. Aku masih mencintaimu, bahkan aku bisa mengenali mu hanya mendengar suaramu saja. Aku..." ucapan ku terhenti karena Nessa menyelanya
"Pulanglah. Jika kau mencintaiku sebaiknya lupakan saja perasaan itu," ucap Nessa yang kemudian masuk kedalam tanpa memberi ku sebuah kesempatan bicara.
Aku pun pulang, masih ada hari untuk meraih cintanya. Cinta ku pada seorang penyiar radio yang sangat ku idolakan, ternyata tetangga ku sendiri.