Di sebuah pelosok desa, hiduplah seorang pria tua bersama kedua putrinya. Istrinya meninggal saat kedua anaknya masih kecil. Pria tua itupun menghidupi kedua putrinya sendiri dengan bekerja di kebun pedoagang kaya di desa tersebut.
Hingga kedua putrinya dewasa, pria tua itu masih bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun suatu hari,sang ayah sudah merasa tidak kuat lagi.
"Anakku.. ayah sudah semakin tua. Entah sampai kapan ayah kuat bekerja untuk memenuhi kebutuhan kita. Kalian sudah dewasa, sudah saatnya kalian mencari pekerjaan."
Si rajin, yang setiap hari selalu mengerjakan pekerjaan rumah tampak berpikir. Ayahnya memang semakin renta. Mungkin sekaranglah saatnya dia untuk membalas budi sang ayah.
"Ayah..jika ayah mengijinkan, aku akan pergi mencari pekerjaan. Semoga saja bisa mengubah hidup kita suatu hari nanti."
Mendengar keinginan putrinya yang rajin, sang ayah sangat bahagia. Dia pun mengijinkan putrinya untuk mencari pekerjaan. Berbeda dengan putri satunya yang pemalas,boro boro cari pekerjaan di luar rumah. Membereskan rumah sendiri saja malasnya minta ampun.
"Biar saja si rajin yang mencari pekerjaan, aku di rumah saja menggantikan pekerjaan nya membersihkan rumah,sekalian merawat ayah"
Mendengar perkataan saudaranya, si rajin merasa lega. Dia jadi semangat untuk mencari pekerjaan, dan tidak khawatir karena ayahnya ada yang ngurus.
"Ayah..aku pergi cari kerja dulu ya.."
"Hati hati nak, bersikaplah sopan pada siapapun. Jika ada yang minta pertolongan, bantulah tanpa pamrih. Ingat! bekerjalah dengan hati.."
"Baik ayah.."
Si rajin pun berangkat meninggalkan ayah dan saudaranya untuk mencari pekerjaan.
Di sepanjang jalan, si rajin tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Setiap bertanya, tak ada seorangpun yang memberikan pekerjaan. Hingga malam tiba, si rajin tak sadar jika sudah masuk hutan.
"Aduh bagaimana ini? Bagaimana caraku mendapatkan pekerjaan?"
Akhirnya si rajin bermalam di hutan. Hingga keesokkan paginya, si rajin melanjutkan perjalanan nya kembali. Dia tak pantang menyerah, dan berjanji tak akan pulang sebelum mendapatkan hasil.
Semakin masuk ke dalam hutan, si rajin bertemu dengan pohon tua yang sedang kesakitan.
"Wahai manusia..tolonglah aku. Dahanku kering, daunku berguguran. Bisakah kau memberikanku sedikit air?"
Si rajin pun ingat pesan ayahnya untuk menolong siapapun yang membutuhkan bantuannya Dia pun memberikan bekal airnya dan menyiramkannya ke bohon tersebut.
"Terimakasih..jasamu pasti akan terbalaskan"
"Sama sama.."
Si rajin melanjutkan perjalanannya kembali. Kini dia bertemu dengan perapian batu yang tak terurus.
"Wahai manusia..bisakah kamu membantuku merapikan dindingku yang hancur ini?"
"Oh..tentu saja!"
Si rajin mencari tanah liat dan mencoba merekatkan kembalibbatu yang telah jatuh dari tempatnya.
"Terimakasih..kamu sungguh baik hati!"
"Sama sama"
Si rajin kembali lagi melanjutkan perjalanan nya. Hingga dia sampai ke sebuah sungai, si rajin ingin membersihkan diri. Namun dia dihampiri domba kecilbyang sangat kotor dan meminta bantuannya.
"Wahai nona cantik, maukah kamu menolongku untuk membersihkan diri di sungai itu? aku sudah mencobanya, tapi takut hanyut.."
"Aku akan mnolongmu membersihkan diri. Kebetulan aku juga ingin mbersihkan diriku."
Si rajin pun membersihkan domba kecil dan juga dirinya tentu saja.
"Terimakasih..semoga apa yang kamu inginkan segera terlaksana"
"Terimakasih kembali, aku pergi dulu!".
Si rajin meninggalkan domba itu dan kembali melanjutkan perjalanan. Hingga dia melihat sebuah istana yang sangat megah di depannya. Karena hari mulai gelap, si rajin pun berniat berteduh dan mungkin akan numpang tidur di depan pintu istana.
Namun sebelum dia beristirahat, pintu istana pun tetbuka dan muncullah tujuh peri yang menyapanya.
"Wahai gadis muda, apa yang kamu lakukan disini?" tanya ratu peri.
"Maafkan saya, saya hanya ingin berteduh disini malam ini. Bolehkah?" jawab si rajin.
"Memangnya apa yang kamu lakukan di tengah hutan malam malam begini?"
"Saya dari desa yang jauh hendak mencari pekerjaan. Tapi malah masuk ke dalam hutan dan tak tahu jalan pulang."
"Apakah kamu bersedia bekerja di istana ini? kamu boleh bekerja disini selama satu tahun. Setelah itu kami akan mengantarmu pulang ke rumah."
"Benarkah? dengan senang hati saya akan bekerja di istana ini!"
Si rajin sangat senang mendapatkan pekerjaan. Para peri pun membawa si rajin ke dalam istananya yang sangat luas.
"Pekerjaanmu hanyalah membersihkan enam kamar kami di lantai dua. Dan ingat! kamu tidak diijinkan membukan kamar ketujuh. Apa kamu sanggup?"
"Tentu saja..saya akan melaksanakan perintah peri."
"Ingat ya..Kamu harus membersihkannya setiap hari. Kamar kamu ada di sudut sana dekat dapur Jika kamu lapar, tinggal pergi saja ke dapur,"
"Baik..terimakasih!"
Si rajin pun akhirnya bisa beristirahat dengan layak. Keesokan harinya si rajin mulai dengan pekerjaannya. Dia hanya membersihkan kamar sesuai dengan perintah peri.
Satu tahun berlalu, si rajin masih dengan kegiatannya. Hingga para peri heran dan memanggil si rajin.
"Kamu memamg sangat rajin. Pekerjaanmu juga bagus. Tapi kami penasaran, mengapa kamu tidak mbuka kamar ke tujuh seperti yang kami perintahkan?"
"Ayah saya selalu berpesan agar saya bekerja dengan sungguh sungguh. Anda memerintahkan saya untuk tidak masuk ke kamar nomor tujuh. Jadi tidak mungkin saya lancang masuk kesana"
"Baiklah! Karena haru ini sudah satu tahun kamu disini. Sekarang kamu sudah boleh pulang. Tapi sebelumnya ikutlah dengan kami"
Para peri pun mengajak si rajin ke kamar nomor tujuh dan membukanya. Si rajin sangat terkejut dengan isi kamar tersebut yang ternyata isinya emas dan perak.
"Masuklah dan berguling-guling lah disana. Berapapun emas dan perak yang menempel di tubuhmu akan menjadi milikmu dan bisa kamu bawa pulang." perintah peri.
Si rajin langsung menggulingkan tubuhnya di tumpukan rmas dan perak. Setelah mendapatkan emas dan perak, peri pun mengantar si rajin sampai ke pinggir sungai.
"Berjalanlah lurus ke depan dan kamu akan mendapatkan petunjuk jalan pulang"
"Terimakasih.."
Si rajin melangkahkan kakinya menyusuri sungai dengan senang hati. Hingga dia bertemu dengan seekor domba yang cantik berhiaskan mutiara di sekujur tubuhnya.
"Wahai gadis cantik, masih ingatkah kamu padaku? Aku yang waktu itu sudah kamu bantu mandi di sungai ini."
"Benarkah? bagaimana kamu bisa memiliki banyak mutiara di tubuhmu?"
"Ini adalah bajuku. Karena kamu pernah menolongku, sekarang ambillah beberapa mutiara di tubuhku sebagai hadiah."
Si rajin pun mengambil beberapa untaian mutiara untuk dibawa pulang. Dia segera pamit untuk melanjutkan perjalanan. Hingga beberapa langkah di depannya, si rajin bertemu dengan perapian yang sangat bagus dan ada beberapa roti yang telah matang.
"Wahai manusia apa kamu lapar? ambil lah rotiku untuk kamu makan dan bisa kamu bawa pulang karena dulu kamu pernah menolongku."
Si rajin pun ingat dulu pernah menolong perapian yang rusak. Karena lapar si rajin memakan beberapa roti dan membungkusnya untuk dibawa pulang.
Si rajin melanjutkan perjalanannya kembali. Kali ini dia menjumpai pohon anggur yang berbuah lezat. Dibawahnya juga ada jus anggur dalam botol.
"Wahai manusia, jika kamu masih ingat. Kamu pernah memberiku sebotol air untuk mbasahi dahanku. Kini aku sudah berbuah. S bagai tanda terima kasih, ambillah buahku dan minuman anggur ini."
"Terimakasih.."
Setelah mengambil beberapa anggur dan minumannya, si rajin kembali pulang. Dia sangat bahagia karena akan bertemu kembali dengan ayahnya.
Sampai di depan rumah, terlihat sang ayah yang semakin renta sedang duduk menunggu kepulangan anaknya yang rajin. Rumah tampak kotor karena ternyata saudaranya yang malas tidak pernah membersihkan rumah seperti yang sudah dijanjikannya.
"Ayah.."
Si rajin berlari dan memeluk ayahnya karena bahagia. Si malas yang melihat kepulangan saudaranya dengan banyak harta, tentu saja menjadi iri hati.
"Dia bisa dapat emas dan perak. Aku pasti bisa dapat berlian." pikir si pemalas.
Si pemalas akhirnya pamit pada ayah dan saudaranya untuk bekerja. Dia langsung pergi setelah pamitan. Bahkan amanah sang ayah pun diabaikannya.
Setelah si pemalas pergi, si rajin langsung membersihkan rumahnya yang sangat kotor itu.
Dalam perjalanan mencari pekerjaan, si pemalas terus saja berangan-angan memiliki perhiasan yang lebih bagus dari milik saudarinya. Hingga dia bertemu dengan pohon gersang yang meminta bantuannya, tapi dia acuhkan.
"Enak saja minta air. Kalau aku sendiri yang haus bagaimana?"
Si pemalas mengabaikan pohon tersebut dan melanjutkan perjalanannya.Hingga dia bertemu dengan perapian yang kotor . Lagi lagi si pemalas mengacuhkannya.
"Aku tidak mau mengotori tanganku yang halus ini hanya untuk memperbaikimu. Minta bantuan yang lain saja!"
Si pemalas kembali memgacuhkan sesuatu yang meminta bantuannya. Hingga dia bertemu dengan kambing yang tubuhnya sangat koyor sekali.
"Wahai gadis cantik maukah kamu membantu memanfikanku fi sungai itu? aku sudah mencobanya, tapi takut hanyut!"
"Idih ogah..Kalau yang hanyut aku bagaimana? buang buang waktu saja!"
Si pemalas meninggalkann kambing itu dan menuju ke istana peri yang tak jauh dari sungai itu. si pemalas langsung mengetuk pintu istana.
"Pasti si rajin mendapatkan pekerjaan disini. Aku akan mendapatkan emas yang banyak dari sini."
Seperti yang terjadi pada si rajin, para peri memberikan pekerjaan pada si pemalas dan memberikan pesan agar tidak membuka pintu kamar nomor tujuh.
Hari hari berganti, sudah satu bulan si pemalas bekerja di istana peri. Karena di rumahnya sendiri malas, di istana peri pun si pemalas bekerja dengan seenaknya. Hingga akhirnya dia merasa bosan.
Setelah pekerjaannya selesai di kamar nomor enam, rasa penasaran akan isi kamar nomor tujuh itupun muncul di benak si pemalas. Dia ingin sekali melihat isi kamar nomor tujuh tersebut.
"Pasti kamar ini banyak emas dan Permata nya, makanya aku gak boleh masuk kesini. Mumpung para peri sedang bertugas, sebaiknya aku cepat!"
Si pemalas langsung membuka pintu tersebut dan betapa terkejutnya karena di dalam ternyata hanya ada sarang lebah yang banyak sekali. Karena merasa terusik, para lebah pun mengejar si pemalas dan menyengat ya. Si pemalas pun lari tunggang-langgang meninggalkan istana peri.
Sampai di sungai, si pemalas bertemu dengan domba yang berhiaskan mutiara Si pemalas langsung berusaha menangkapnya tapi selalu gagal, hingga si domba masuk ke dalam semak semak dan menghilang.
Si pemalas melanjutkan kembali perjalanannya, hingga dia bertemu dengan perapian yang banyak sekali produksi rotinya. Namun ketika si pemalas akan mengambil sebuah roti, perapian langsung menyemburkan apinya dan mengenai wajah si pemalas.
"Tolonggg..."
Si pemalas berlari sekuat tenaga. Hingga dia berhenti di bawah pohon anggur yang sedang berbuah. Karena haus dan lapar, si pemalas hendak mengambil buah anggur tersebut, tapi pohon itu bergoyang ke kanan dan ke kiri sampai si pemalas kelelahan dan akhirnya pergi.
Si pemalas pun pulang ke rumahnya tanpa membawa apapun juga. Justru keadaannya kini sangat memperihatinkan.
Di rumah, suasanq kembali seperti sedia kala. Rumah cantik, bersih dan rapi. Yang melihat pun merasa sejuk dan damai.
Si pemalas langsung menangis ketika bertemu dengan ayah dan saudarinya. Si pemalas merasa menyesal karena telah mengabaikan ayahnya. Si oemalas pun merasa malu dengan sifatnya.
Kini si pemalas sudah menyadari kekeliruan dalam hidupnya. Dia meminta maaf pada ayahnya dan juga si rajin. Si pemalas banyak belajar dari si rajin untuk selalu bersyukur dan selalu berbuat baik.
Kini si pemalas sudah tidak malas lagi Dia mau membantu si rajin mengerjakan pekerjaan rumah dan merawat ayahnya yang mulai sakit-sakitan.
Kini keluarga kecil itupun hidup bahagia, aman dan sejahtera.
TAMAT