oleh: Rudi Hendrik
Novel serial Wiro Sableng karya novelis legendaris mendiang Bastian Tito adalah novel pertama yang aku baca saat kelas 6 SD di Lampung Selatan. Dari situlah kemudian aku menggemari membaca novel silat.
Ketika di masa SMP tahun 1990-an, mulailah aku mencoba menulis cerita yang menceritakan kisah anak sekolah.
Di masa ini, aku sering menyewa novel silat dan horor di sebuah tempat penyewaan novel. Sedemikian gemarnya membaca novel, sampai-sampai semua novel silat dan horor yang ada di tempat penyewaan itu habis aku lahap. Untuk menyewa lagi, aku harus menunggu terbitan baru, sepekan atau dua pekan kemudian.
Aku memang suka menulis. Ketidakmampuanku untuk membeli buku paket saat sekolah, membuatku rajin meminjam buku teman lalu menyalin buku itu ke buku tulis secara keseluruhan. Hal itu membuatku menulis setiap hari untuk menyalin.
Saat itu, novel buatanku ditulis di buku tulis. Satu per satu novel aku buat di buku tulis, lalu aku simpan.
Saat itu, jelas tulisanku hanya sekedar cerita tanpa memiliki kualitas yang memadai untuk disebut novel, atau sudah mengerti norma-norma penulisan secara lengkap. Namun, untuk aturan dasar, aku sudah paham karena aku termasuk siswa yang suka pelajaran bahasa Indonesia.
Di masa SMP ini pula aku mulai menulis novel serial silat pertamaku yang berjudul “Pendekar Langkah Jagad”.
Pendekar Langkah Jagad berlanjut di masa SMA hingga hampir 20 episode. Namun, semuanya dalam bentuk buku tulis biasa.
Orang-orang yang mengetahui bakat menulisku, banyak yang menyarankan agar karyaku dikirimkan ke penerbit atau majalah. Namun sayang, aku tidak tahu caranya atau tahu jalurnya. Hingga aku lulus sekolah, karyaku tetap dalam kondisi di buku tulis.
Aku tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah, tetapi melanjutkan menjadi kuli pabrik.
Buku-buku novelku terus menumpuk dan menjadi barang yang sangat berharga, meski tidak ada orang yang membaca. Bagiku, menyelesaikan novel sebanyak satu buku tulis 200 halaman adalah karya yang begitu memuaskan.
Selain bekerja dan menjadi kepala keluarga setelah menikahi gadis asal Salatiga, Jawa Tengah, aku aktif dalam kegiatan keagamaan seperti pengajian-pengajian.
Hobi membaca buku-buku agama membuatku suka membuat tulisan artikel tentang agama. Jadi, selain terus menulis novel di waktu-waktu senggang, aku juga menulis artikel agama yang kemudian aku bagikan ke sesama jemaah pengajian.
Suatu hari, aku mengikuti pelatihan jurnalistik untuk cikal bakal sebuah media Islam. Ternyata, aku yang hanya lulusan SMA bisa lolos seleksi dan diminta untuk menjadi salah satu wartawannya.
Meski media baru itu tidak komersil, dalam arti lain bahwa upah yang diberikan jauh di bawah UMR, tapi karena media perjuangan tersebut untuk membela agama dan bekerja di sana termasuk amal saleh, maka aku memutuskan untuk berhenti dari kuli pabrik menjadi kuli tinta atau wartawan.
Pada kemudiannya, kegiatanku lebih banyak menulis berita dan artikel. Menulis novel sempat terhenti.
Setelah dua tahun menjadi wartawan dan aku dibekali laptop sebagai alat kerja, aku memiliki ide untuk menulis novel islami yang berjudul “Muslimah Bintang 7”.
Saat itu, teman-teman menyarankan naskahku aku kirim ke penerbit besar dengan berbagai iming-iming keuntungan. Aku melakukan saran itu, tapi tidak semudah perkiraan. Tidak ada hasil atau tidak ada jawaban dari penerbit.
Akhirnya aku memutuskan untuk menerbitkan sendiri karyaku di sebuah penerbitan di Yogyakarta. Aku memutuskan berutang uang demi mewujudkan impianku tersebut.
Mengapa aku sampai harus berutang demi itu? Alasan pertama, menerbitkan sebuah buku bagi seorang wartawan adalah pencapaian karya yang tinggi. Alasan kedua, memiliki novel dalam bentuk buku cetak, bukan novel buku tulis, adalah impianku sejak SMP.
Setelah sebulan, akhirnya karyaku terbit dalam jumlah puluhan eksemplar saja. Aku harus menjualnya sendiri kepada seluruh kenalan. Hanya sebatas itu.
Setelahnya aku kembali bersemangat menulis novel, meski pada akhirnya beberapa karya baru itu hanya tersimpan dalam bentuk file di laptop.
Suatu hari setelah beberapa tahun kemudian, temanku yang bernama Rendy Setiawan menyarankan agar karyaku dimasukkan ke sebuah platform novel. Sebenarnya aku malas, karena aku tidak suka dengan syarat-syarat yang terkadang aku tidak mengerti. Namun, demi tidak mengecewakan temanku itu, aku pun menuruti.
Naskah novel “Muslimah Bintang 7” yang sudah berhak cipta milik penerbit, aku masukkan sekaligus ke dalam aplikasi novel tersebut. Setelah itu, aku tidak buka-buka lagi aplikasi tersebut, bahkan aku uninstall dari hp-ku.
Lima bulan kemudian. Temanku Rendy kembali menyarankan aku untuk mencoba memasukkan karyaku ke sebuah platform lagi. Seingatku, dia pernah menyarankan hal yang sama beberapa bulan lalu, tetapi aku lupa nama platform-nya.
Aku pun mengunduh aplikasinya dan ternyata, aku sudah memiliki akun di dalam aplikasi tersebut. Saat aku lihat, ternyata di dalamnya sudah ada satu karyaku yang lima bulan lalu pernah aku masukkan ke platform tersebut, yaitu novel “Muslimah Bintang 7”.
Rupanya, Rendy lupa bahwa dia pernah merekomendasikan platform tersebut lima bulan lalu. Dan ternyata pula, novelku tersebut sudah mendapat penghasilan sebesar 20 rupiah.
Aku jadi berpikir bahwa jika ditekuni berkarya di platform ini, mungkin bisa menghasilkan uang lebih besar dari 20 rupiah. Maka sejak itu, mulailah aku mempelajari aturan main di platform tersebut dan memasukkan karya-karyaku.
Platform tersebut bernama Mangatoon.
Sebagai pemula di dunia novel digital seperti ini, aku harus bersabar, karena aku harus memulai dari nol. Dan di dalam platform ini aku sempat terkejut mendapati novel-novel yang berantakan norma-norma penulisannya. Bahkan anak SD pun bisa membuat karya di sini.
Aku merasa novel karyaku termasuk bagus. Namun ternyata, bagusnya karya tidak menjamin kesuksesan di Mangatoon. Terbukti banyak karya-karya yang laris masih memiliki gaya cerita atau aturan penulisannya buruk, menurut versiku. Namun sekali lagi, jika barang bagus tapi tidak digemari, tetap sulit bersaing.
Ternyata, “Muslimah Bintang 7” tidak memenuhi kriteria untuk kontrak. Karya yang aku bangga-banggakan akhirnya hanya menghiasi rak pribadiku di Manggatoon.
Akhirnya aku pun memasukkan novel silatku yang lama terpendam di buku tulis berpuluh tahun lamanya. Novel serial “Pendekar Langkah Jagad” aku masukkan ke Mangatoon dengan judul baru “Pendekar Sanggana”. Aku harus menyalin ulang dari buku tulis ke laptop. Perbedaan isi kepala ketika usia remaja dan ketika usia dewasa, membuat aku memilih untuk merombak sebagian besar alur ceritanya.
Aku memilih alur dengan ide-ide yang spontanitas muncul dan mengalir apa adanya mengikuti alur yang sudah aku tulis.
Kesabaranku harus teruji ketika novel Pendekar Sanggana pertama dikontrak. Memang ada uangnya setelah dikontrak oleh platform, tapi hanya Rp40, Rp30, atau Rp10. Jika setiap hari hanya dapat kisaran seperti, lalu kapan dapat Rp 1 juta?
Setelah bersabar, pada akhirnya aku mendapat bonus pendapatan sebesar Rp 2 juta. Sungguh itu menjadi sangat menggembirakan, karena itu akan sangat membantu ekonomiku yang termasuk miskin. Ingat, aku hanya seorang wartawan yang beramal saleh dengan upah bulanan di bawah dari setengah UMR DKI Jakarta.
Namun, masa jaya yang aku anggap, akhirnya berakhir saat karyaku tidak bisa mendapat bonus pendapatan minimum lagi seusai aturan. Aku harus mulai lagi perjuangan dengan karya baru, yaitu “8 Dewi Bunga Sanggana”.
Namun, pada karya inilah aku merasa pihak Mangatoon mempermainkan author. Ada sejumlah kasus yang menurutku pihak platform berbuat curang. Aku pun hanya bisa marah-marah kepada admin dengan sejumlah protes keras.
Karena merasa terzalimi, aku pun memutuskan pindah platform dengan meninggalkan janji kepada para pembaca fanatikku bahwa aku akan menamatkan cerita novel “8 Dewi Bunga Sanggana”.
Akhirnya aku merasakan perjuangan di platform lain tersebut. Memang ada sejumlah kemudahan, terutama dalam mendapatkan “cuan”. Namun demikian, aku merasakan hampa. Karyaku yang banyak dipuji oleh author lain, tapi sepi pembaca dan sepi interaksi dengan pembaca. Sangat berbeda ketika di Mangatoon, karyaku benar-benar dibaca oleh pembaca murni serta aku bisa berinteraksi dan bercanda dengan para pembaca fanatikku itu.
Setelah dua bulan, akhirnya aku kembali ke Mangatoon karena aku rindu dengan atmosfir interaksi antara aku dengan para readers. Aku berpikir, biarlah sulit mendapatkan rupiah di sini, tapi aku memiliki kepuasan karena karyaku setiap hari dibaca oleh banyak pembaca yang selalu menuntut update setiap waktu. Biarlah karyaku tidak booming seperti karya author yang lain, tapi aku puas bisa berkarya dan dibaca oleh banyak orang.
Aku pun berasumsi bahwa dulu, mungkin aku yang kurang memahami aturan di Mangatoon atau Noveltoon, sehingga aku salah mengerti dan merasa dicurangi. Aku yakin bahwa dulu akulah yang salah karena tidak mengerti aturan mainnya.
Kini, aku pun terpaksa memulai dari awal. Banyak pembacaku yang hilang, meski tidak semuanya. Beberapa pembaca fanatikku masih ada setia ketika aku berkarya lagi di platform ini.
Memulau dari awal, bersabar, tapi terus berkarya, dan setia di platform ini. Itulah pedoman yang aku tanam di dalam pikiranku saat ini.
Sejumlah ajakan untuk pindah ke platform novel yang lain selalu aku tolak, meski menawarkan sejumlah kemudahan. Di sini, aku merasa karyaku benar-benar dibaca oleh orang lain, meski mereka tidak bayar seperti di platform lain.
Pada akhirnya aku berharap, akan semakin banyak karyaku terpampang di platform ini, di Mangatoon. (RH)