Aku melihat ke luar jendela kamarku, hujan sangat deras. Rumah bertingkat di seberang rumahku itu hampir tak terlihat.
Ya, aku sedang menunggu kode dari Kak Fariz, laki-laki yang menyewa rumah itu. Kak Fariz, adalah tetanggaku, aku tidak tahu apa pekerjaannya, tetapi setiap hari dia akan keluar pagi-pagi dengan pakaian rapih dan pulang menjelang sore. Usianya mungkin sekitar 30an tahun. Kalau istilah kerennya, dia ibarat mangga mateng dipohon. Manisnya pas.
Hampir enam bulan ini, Kak Fariz menjadi penyewa rumah besar itu dan laki-laki tampan ini adalah salah satu pelanggan rumah laundry milik ibuku.
Aku memeriksa baju yang kupakai dengan gugup, gaun selutut berwarna maroon ini terasa pas di badanku, entah mengapa Kak Fariz bisa mengira ukuran badanku. Tadi pagi dia mengantar sendiri pakaian kotornya Biasanya dia memintaku untuk mengambil pakaian kotor dari rumahnya, seperti biasa. Tapi, beserta pakaian kotornya pada hari ini dia menitipkan gaun cantik ini lewat ibu untuk ku pakai. Tak ada hubungan yang istimewa antara kami tetapi kami sering ngobrol kalau bertemu.
Kak Fariz, lelaki dengan kacamata itu terlihat dewasa dan dia juga sangat baik serta sopan. Wajahnya mirip sekali dengan sekretaris Cha Seung-Hun di drama korea Business Proposal. Apalagi kalau dia tersenyum, Ya Allah, itu lesung pipitnya mengalahkan lesung pipit Kim Namjoon BTS.
Dan yang paling membahagiakan aku, Kak Fariz sering membayar lebih untuk jasa laundry bajunya.
"Ini lebihnya dua kali lipat, kak..." Tolakku.
"Tidak apa-apa, ambil saja Vin, menambah uang jajanmu, besok kamu kuliah, kan?" Fariz selalu tersenyum. Aku selalu menyukai senyum Fariz ini, dia terlihat dewasa, dan aku selalu mengagumi orang-orang yang terlihat dewasa. Rasanya adem jika berada di dekat mereka.
"Apa kabar pacarmu? Si motor Scoopy itu?" Tanyanya sambil menyambut bungkusan lipatan pakaian yang terlipat rapih dari tanganku.
"Sudah putus, kak." Jawabku masam.
Kak Fariz tahu aku punya pacar, temanku satu angkatan, karena kalau malam minggu Doni dengan motor scoopy putihnya itu akan menjemputku sekedar keluar makan atau nongkrong di alun-alun.
Gaya pacaran mahasiswa bokek, seadanya saja.
"Kok Putus? Rasanya baru lima kali aku liat kamu di jemput si scoopy." Kak Fariz mengernyit dahinya dengan lucu.
"Wah, kak Fariz sampai ngitung ya berapa kali dia datang ke rumah?" Aku terbelalak, diantara malu dan terpesona.
"Kak Fariz ini tidak ada kerjaan kalau malam minggu, jadi duduk di depan rumah, khusus ngintilin anak komplek yang di jemput pacarnya hang out." Kak Fariz terkekeh lucu.
"Akh, Kak Fariz bikin Vina malu aja." Aku hampir menutup mukaku yang terasa panas dengan kedua telapak tanganku, rasanya malu sekali.
"Kenapa putus? Dia selingkuh atau Vina yang selingkuh?" Todong kak Fariz.
"Dia yang selingkuh!" Sahutku dengan muka masam.
"Sok sekali melarang-larang aku temenan dengan Giska, dia bilang anaknya gak baiklah, mulitnya emberlah, ahlaknya gak jelaslah. Eh, tahu-tahu ternyata, dia ketahuan ngedate sama Giska." Aku nyerocos kesal, rasanya puas mengeluarkan uneg-unegku beberapa hari ini yang kutahan-tahan rasanya seperti mau meledak.
"Astaga, si Scoopy itu memang buaya gak tanggung-tanggung..." Seperti biasa aku sangat menyukai ekspresi kak Fariz dengan mata melototnya yang penuh perhatian itu, seakan begitu total mendengarkan curhatanku yang tak jelas. Tapi yang paling menyenangkan adalah, kak Fariz tak pernah menjudgeku, itu yang membuatku nyaman ngobrol dengannya.
"Makanya, ih...rasanya mau ku bejek-bejek keduanya, mainnya manis di depan, nusuk sampe jantung dari belakang."
"Yang mereka lakukan itu...jahat!" Kak Fariz menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tetapi semakin cepat ketahuan semakin bagus, biar kamu tidak buang-buang waktu sama laki-laki yang tidak tepat. Kamu baik Vin, cantik lagi. Banyak kok laki-laki di luaran sana yang menunggumu. Kamu cuma belum ketemu yang pas saja."
Wajahku seketika memerah mendengar pujian dari Kak Fariz. Entah mengapa dadaku berdenyut-denyut ketika di bilang cantik sama kak Fariz.
itu adalah obrolan kami dua minggu yang lalu sebelum tiba-tiba Kak Fariz hilang begitu saja. Rumahnya tertutup, mobil Pajero sportnya yang biasa terparkir di pekarangan rumah berpagar pendek itu sama sekali tidak kelihatan.
Entah mengapa aku sering melongok lewat jendela kamarku yang di lantai dua ini demi mengintip keberadaan Kak Fariz, rasanya kangen melihat senyumnya yang manis itu.
Aku punya nomor ponselnya karena dia sering menchat aku untuk minta diambil pakaian kotornya atau di antar kembali semua pakaian bersihnya, tetapi aku malu menchatnya jika hanya untuk menanyakan kabarnya.
Kami hanya tetangga yang terikat hubungan bisnis, sebagai salah satu pelanggan rumah laundry kami yang sederhana ini.
Dan tadi pagi Pajeronya sudah nongkrong tepat saat aku bersiap berangkat ke kampus untuk mendaftar seminar proposalku. Mungkin tadi malam dia tiba, aku pernah tanya sebenarnya kak Fariz tinggal di kota mana sebelum menyewa rumah di seberang rumahku. Katanya keluarganya tinggal di Jakarta dan setengah tahun ini di mutasi untuk bekerja ke kota Palangka Raya ini.
Dan sebuah WA masuk saat aku sedang bersiap memanggil grab untuk pulang,
'Vin, kak Fariz bisa minta tolong tidak sama Vina?'
'Iya, kak. Apa yang bisa Vina bantu?'
'Kamu mau gak jadi pacar sewaan kak Fariz?'
Degh!
Jantung serasa berhenti berdetak, pacar bayaran? Baru kali ini aku mendengar istilah seperti itu.
'Maksud kak Fariz?'
'Vina jadi pacar kak Fariz satu malam ini saja, dan kak Fariz siap membayar Vina'
'Maaf kak Fariz, Vina bingung'
'Vina berpura-pura jadi pacar kak Fariz, satu malam ini saat menghadiri pesta resepsi pernikahan sepupu kak Fariz.'
'Aduh, Vina gak ngerti Kak😟'
'Kak Fariz bayar dua juta gimana?'
'😧'
' Kurang? Tiga juta, ya...?'
'Bukan begitu, kak'
'Lima juta, bagaimana? Tapi kalau lebih terpaksa kal Fariz perpanjang jadi seminggu nih masa kerjanya. Itu sudah separuh gaji bulanan kak Fariz. Kak Fariz makan apa coba kalau di naikin lagi?'
Aku tak tahu harus membalas apa, rasanya tak percaya, kak Fariz bersedia membayarku sebegitu besar untuk jadi pacar satu malamnya. Padahal, tidak di bayarpun aku rela, ikhlas lahir batin jadi pacarnya kak Fariz yang tampan itu. Hirung-hitung healing dari masa idah patah hatiku di selingkuhin si monyong Doni itu.
'Vina acting aja, pura-pura jadi pacar kak Fariz, cukup diem aja pas perkenalan. Terus habis itu kak Fariz antar pulang.'
'Segitu aja, kak?'
'Iya, segitu. Memangnya Vina minta di lebihin? Gak masalah kalau Vina mau langsung check in😅'
'Waaaa....sembarangan🤧🤧🤧'
'Ok, deal ya?'
'Vina fikirin dulu'
'Gak ada waktu fikir-fikir. Itu baju untuk nanti malam sudah kak Fariz titipin sama ibumu. Ku jemput malam nanti jam Tujuh teng. Gak pakai telat, gak pakai dandan lama.'
Hah!
Aku serasa melotot, bahkan tak sadar jika sudah berada di depan rumahku. Dan si abang sopir berkali-kali memanggilku dan menanyakan apakah alamatnya sudah bener karena aku sibuk sendiri membalas chat kak Fariz.
"Aduh, neng...masih muda padahal." Si abang itu geleng-geleng kepala saat aku menyodorkan sejumlah uang sesuai yang di sebutkannya.
"Memangnya kenapa, pak?" Tanyaku sambil keluar.
"Masih muda tapi agak budeg." Jawaban si abang sopir itu hampir menuai emosiku, untung saja si abang sopir grab yang berkumis tipis itu segera tancap gas begitu aku menutup pintu mobilnya.
Begitu aku keluar dari grab, ibuku sudah berdiri di depan ruko depan rumahku, menyusun baju-baju yang habis di setrika oleh tiga orang karyawannya. Biasanya aku akan turun tangan membantu jika sedang tidak ada mata kuliah.
"Itu, pak Fariz titip baju untukmu, katanya malam ini, ada acara kawinan temenmu yang juga temennya. Dia sudah ijin sama ibu, katanya kalian pergi bersama-sama "
Aku melongo mendengar keterangan ibuku. Dan sekarang aku terjebak di dalam kamarku dengan gaun maroon ini, sementara hujan di luar dan tak ada tanda-tanda kak Fariz menghubungi lagi.
Jangan-jangan kak Fariz sedang mempermainkan aku?
(BERSAMBUNG KE PART 2, YA☺️ silahkan cari sambungannya di dalam laman ini atau klik nama penulis😍)