Semilir angin berembus, menciptakan hawa dingin di kaki gunung Ciremai pada dini hari. Sungai bermata air dari gunung mengalir ke hilir melalui kali Cikeruh yang melintasi Kerajaan Sindangkasih. Rakyatnya banyak bergantung dari air sungai tersebut.
Seorang gadis belia tengah mencuci di antara bebatuan di tepi sungai tersebut. Tubuh moleknya basah kuyup ditutupi oleh selembar kain samping. Kedinginan, tapi apa daya. Mencuci telah menjadi tugasnya. Ia bersyukur masih diberi pekerjaan oleh keluarga pembesar itu.
Semenjak kedua orang tuanya meninggal karena takbisa membayar upeti kepada Raja Diraja, Citrik Byapari harus mengubur mimpinya sehingga terpaksa menjadi seorang budak di kediaman Panglima Curaweda Baiksa. Keluarga pembesar yang dekat dengan Nyi Ratu.
Panglima Curaweda Baiksa yang memandu Nyi Ratu dari keraton Prabu Siliwangi menuju kemandalaan Sindangkasih. Saat itu, rakyat begitu antusias menerima Nyi Ratu di wilayah kaki gunung Ciremai, wilayah kekuasaan Kerajaan Pakuan Pajajaran. Seringkali wilayah itu diperebutkan oleh Majapahit sehingga Nyi Ratu berinisiatif untuk datang membantu.
Citrik merasa senang atas kedatangan Nyi Ratu yang begitu mengayomi rakyat. Orang tuanya meninggal ketika begundal kerajaan memeras abahnya. Ketika itu, ia masih kanak-kanak. Belum memahami situasi Sindangkasih. Beruntung ia langsung bersembunyi jauh dari rumah, kemudian diketemukan oleh dayang abdi panglima.
Sekarang Citrik tinggal di kediaman panglima tersebut. Sesekali ia akan sembunyi-sembunyi belajar kepada Gusti Pangeran Muhammad, seorang utusan Kerajaan Cirebon untuk menyebarkan agama Islam di kaki gunung Ciremai.
Citrik berharap bisa mendalami agama yang dianutnya itu. Keluar dari kediaman sang panglima, dan membantu pekerjaan Nyai di padepokan Gusti Pangeran Muhammad. Namun, impiannya lesap. Tatkala, Nyi Ratu menerapkan peraturan baru bagi para pengawal kerajaan dan abdinya. Mereka harus beragama Hindu.
Pupus sudah impian Citrik. Ia takbisa keluar lagi secara diam-diam menuju padepokan. Namun, bukan Citrik namanya kalau tak menemukan akal.
Seperti pagi itu, Citrik pergi mencuci pagi-pagi sekali. Bahkan, mentari belum juga menyinari bumi. Ia ingin cepat menyelesaikannya, lalu menyeberang sungai Cikeruh menuju padepokan.
Niat hati hendak menyembunyikan terlebih dahulu bakulan pakaian, Citrik justru terpergok oleh putra sang panglima. “Keur naon?” (Sedang apa?)
Seketika wajah Citrik memucat. Ia jelas tak menyangka bertemu putra ke-7 panglima di dekat kali Cikeruh pada pagi buta. Biasanya putra panglima yang bernama Agah Parta itu masih terlelap di buaian.
“Neng, teu tiris?”(Neng, tidak dingin?) tanya Agah, keheranan melihat seorang gadis berbasah ria dengan masih berbalut samping.
Citrik menyeringai antara malu, takut ketahuan, dan kesal. Ia menutupi bagian dadanya dengan tangan agar mata Agah tak jelalatan. Agah malah tertawa mengejek dirinya.
“Kunaon isin, ai tadi teu isin, Neng?”(Kenapa malu, tadi tidak malu, Neng?)
Citrik semakin gelagapan. Ia kebingungan, bingung hendak melakukan apa terhadap Agah yang berjalan menghampirinya. Ia mundur beberapa langkah hingga menabrak pohon di belakangnya. Terpojok sudah. Agah berdiri tepat di depannya, menguncinya dengan salah satu tangan bersandar pada pohon yang ditabrak Citrik.
Agah menatap mata bulat Citrik dengan tatapan menelisik. Ia merasa yakin bahwa budak perempuan itu menyembunyikan sesuatu. Namun, hati Agah tersentuh melihat wajah bulat telur itu menutup matanya, dan memalingkan wajah dengan ekspresi ketakutan. “Saha namina?”(Namanya siapa?) tanyanya, lembut.
Citrik kembali membuka mata mendengar suara lembut Agah menanyakan namanya. Dengan ragu-ragu, ia menjawab, “Amba ... Citrik, Gusti.”(aku untuk seorang budak atau bawahan kerajaan)
Agah melepaskan tangannya, lalu mengangguk puas. Dibukanya pakaian hitam yang dikenakan, kemudian memberikannya kepada Citrik. Tentu saja itu menambah kebingungan gadis belia itu.
“Teu kenging, Gusti. Amba budak anu nyeuseuhan kain, teu pantes narima ha’at.” (Tidak boleh, Tuan. Aku seorang budak yang mencucikan pakaian, tidak pantas menerima kebaikan.)
Agah terperangah melihat perilaku gadis yang berani menolak kebaikannya. Ia mengambil kembali pakaiannya. “Aku tak tahu apa yang kamu lakukan sampai ketakutan seperti itu, tapi jangan diulangi. Kalau tidak, aku yang akan melaporkan kamu kepada Abah.”
Citrik paham siapa “Abah” yang Agah maksud. Ia kembali menunduk, merasakan ketakutan. Bila ketahuan, ia akan kehilangan pekerjaannya.
“Amba mohon pengampunan ti Gusti.” (Aku mohon pengampunan dari Tuan)
“Aku akan ke sungai, kembalilah segera ke rumah.”
Citrik mengambil bakulan yang dibawanya tadi. Kemudian, ia memikulnya pada pinggul dan berjalan secepat yang ia bisa. Sampai Agah takbisa lagi melihat sosoknya.
Agah mendengkus. “Kalau ada yang mau berbuat jahat bagaimana coba? Gadis bodoh!”
***
“Ai kamu ti mana?”(Kamu dari mana?) tanya dayang abdi ketika melihat Citrik berjalan tergesa-gesa kedinginan.
“Ti kali, Nyi.” (Dari kali, Bu)
Dayang abdi yang usianya lebih tua darinya itu mendelik kebingungan. “Ka kali isuk-isuk?” (Ke kali pagi-pagi?) Di bukanya kain samping yang menutupi bagian atas tubuhnya. Kemudian, dibungkusnya tubuh Citrik yang sudah menggigil. “Kaditu aya jahe di dapur.” (Sana ada jahe di dapur)
Citrik mengangguk, bergegas menuju dapur untuk mencari kehangatan. Sudah berkerumun para budak yang bekerja di dapur dekat dengan perapian. Mereka saling berimpitan agar tubuh terasa lebih hangat.
“Citrik, kadieu. Ti mana tadi?” (Citrik, ke sini. Dari mana tadi?)
“Ti walungan, Ceu.” (Dari kali, Kak)
“Atuh isuk-isuk teuing?” (Kenapa pagi-pagi sekali?)
“Ambeh salse,” (Biar cepat selesai) jawab Citrik seraya menunduk, menghindari tatapan menyelidik dari dayang abdi dapur tersebut.
Dayang abdi tersebut mendengkus kasar. “Bahaya nyaho!” (Bahaya tahu!)
Citrik mengangguk, kemudian menghela napas lega. Setidaknya, takada yang tahu niatnya untuk menyeberang kali menuju padepokan Gusti Pangeran Muhammad. Kalau sampai mereka mengetahuinya, mungkin saja ia akan dihukum cambuk oleh Panglima Curaweda. Teringat hukuman itu, ia bergidik ngeri.
Ketika sinar mentari memasuki celah-celah dapur, Citrik segera keluar untuk menjemur kain yang telah dicucinya. Ia hanya budak cuci di kediaman Panglima. Pekerjaannya mencuci pakaian para dayang yang bekerja di bagian dalam keraton. Sementara dayang abdi keraton lah yang bertugas mengurusi keluarga panglima, termasuk putra ke-7.
Citrik tersipu ketika mengingat wajah jantan berahang tegas Agah. Wajahnya putih bersih dengan mata elang yang menatap tajam penuh tanda tanya terhadap Citrik. Tentu saja, hanya dirinya yang berani melewati hutan untuk sampai di kali saat hari masih gelap.
Citrik mendadak berwajah sendu kembali. “Bodo! Ai kamu teh saha, tong ngimpi jauh-jauh, Citrik!” serunya, menepuk keningnya sendiri. “Ayeuna, mah, kamu harus bisa mencuri waktu biar bisa ke padepokan. Tos eta wae anu tiasa dijangkau ayeuna mah. Ulah mikir nu sejen!” (Sekarang, kamu harus bisa mencuri waktu biar bisa ke padepokan. Sudah itu saja yang bisa dijangkau sekarang. Jangan berpikir yang lain!)
Usai menjemur kain, Citrik celingak-celinguk memindai sekeliling. Para budak telah melakukan pekerjaannya masing-masing. Para dayang abdi dalam sudah ke keraton untuk melayani keluarga panglima. Hanya dirinya yang telah selesai melaksanakan tugas.
Citrik berlari kecil dengan senyum menghias wajah bulat telurnya. Ia berjalan menuju hutan di mana kali Cikeruh berada. Kaki kecilnya melangkah lincah melewati rimbunnya hutan dan rerumputan tinggi. Namun, nahas. Ia menabrak seseorang lagi.
Citrik langsung menunduk setelah mengetahui siapa yang ditabraknya. Agah berdiri di depannya dengan kening berkerut. “Kamu?”
Wajah Citrik berubah pucat. Ia bertanya-tanya dalam hati, mengapa pagi itu begitu sial. Memang ia sempat berharap untuk bertemu kembali dengan Agah, tapi tidak saat ia sedang mengendap-endap keluar dari wilayah keraton.
“Kamu mau ke mana?” tanya Agah, membuat Citrik semakin menunduk.
“Teu ngajawab, kamu akan kutarik untuk menghadap Abah!” (Tidak menjawab, ....)
Citrik menggeleng seraya menangkupkan telempapnya. Wajahnya sudah memucat, dan hampir menangis. Agah menjadi tak tega ketika melihat wajah yang memelas di hadapannya.
“Ya, sudah. Kalau begitu jawab pertanyaanku, Ci ...?” Perkataan Agah menggantung. Ia tengah mengingat-ingat nama gadis yang ditemuinya tadi pagi buta. “Namina saha?” (Namanya siapa?)
“Citrik, Gusti.” Ia menunduk mengatupkan tangannya ke bawah.
“Citrik? Citrik saha?” (Citrik siapa?) tanyanya lagi seraya turut menunduk, mengarahkan telinganya ke bibir mungil gadis belia itu.
“Citrik Byapari,” jawabnya, pelan. Tepat di depan telinga Agah.
Agah mengulas senyum. Tangannya ia taruh di belakang, lalu berjalan memutari gadis belia yang ketakutan karena tertangkap basah lagi. Di benak Agah, bertanya-tanya hendak ke mana sebenarnya gadis yang ditaksir usianya belum berusia 17 tahun itu.
Citrik semakin mengkeret. Ia harus mencari cara agar terlepas dari jerat putra ke-7 tuannya tersebut.
Agah semakin penasaran dengan tingkah laku Citrik yang mencurigakan. “Kamu mau ke mana sebenarnya?”
Mendadak Citrik memperoleh ide. Ia segera bersimpuh di depan Agah. “Ampun, Gusti. Amba bade miceun ka kali.” (Ampun, Tuan. Aku mau buang air ke kali.)
Mendengar ucapan Citrik yang tak sopan, wajah Agah bersemu merah. Antara malu dan kesal dengan ulah gadis belia yang tengil itu. Agah segera berbalik untuk melanjutkan perjalanan menuju kediamannya.
Citrik terkikik tatkala melihat perubahan mimik wajah putra ke-7. “Rasakan! Makanya, jangan iseng ka Citrik, teh!”