Brak!
Rara terkejut saat meja di depannya digebrak tiba-tiba, membuatnya reflek memegangi gelas es teh yang hampir tumpah.
"Kenapa sih lu?" tanya Rara sedikit kesal pada sahabatnya, Leni yang datang datang seenaknya itu.
"Sebel."
"Sama gue?"
"Bukan."
"Terus?"
"Siapa lagi, kalo bukan sama si kucrut itu."
Rara menautkan alisnya.
"Kucrut? Oh, Nando, maksud lo?"
"Iya lah," sahut Leni, menyambar es teh Rara lalu meminumnya.
"Yah, es teh gue.. " lirih Rara, menatap sendu es tehnya yang tinggal seperempat gelas.
"Gue gak habis pikir sama tu cowok. Padahal gue udah berusaha jadi pacar yang baik buat dia. Kenapa dia tiba-tiba putusin gue tanpa sebab? Salah gue dimana? Huaaa....."
"Eh, kok nangis?" Rara panik saat sahabatnya tiba-tiba histeris.
Untung saja kantin sedang sepi. Kalau tidak, mungkin mereka sudah jadi tontonan gratis di sana.
"Udah dong, Len. Jangan nangis. Mungkin belum jodoh kali. Nando-nya aja yang sedeng, gak bisa liat kebaikan lo," bujuk Rara mencoba menenangkan Leni.
Namun bukannya tenang, tangis Leni malah semakin menjadi.
"Aduh, Len. Lebay amat sih, lo. Kuping gue sakit ini," Rara menutup kedua telinganya dengan telapak tangan.
"Lebay? Hiks... Lo sih, jomblo abadi. Gak pernah ngerasain rasanya jatuh cinta," sarkas Leni.
"Gue pernah jatuh cinta kali, Len. Tapi gak se-alay lo juga," Rara mencoba sabar menghadapi mulut lemes sahabatnya.
"Lo kan, belum pernah pacaran. Mana tau rasanya patah hati? Hiks... "
Rara menarik nafas dalam, berusaha untuk tidak tersulut emosi pada sahabatnya itu.
Lama mereka tidak saling bicara, hanya terdengar suara isak tangis Leni yang lama-lama membuat Rara jengah juga.
Tiba-tiba Rara mengambil sebuah buku dan bolpoin dari dalam tasnya, lalu menuliskan sesuatu di bagian tengah buku. Setelah selesai ia mencabut dua lembar kertas itu dari bukunya dan memberikan pada Leni.
Set.
Leni menaikan alisnya melihat kertas itu terjulur. Tanpa bertanya lagi ia membaca isi surat itu.
Untuk sahabatku Leni :
Aku memang belum pernah pacaran, tapi aku tahu gimana rasanya patah hati. Tau gak? Patah hati sebelum memiliki itu lebih sakit tau.
Ayolah, Len. Kalian baru pacaran, belum menikah. Kalau udah nikah beda lagi ceritanya. Ini cuma patah hati, belum patah tulang, yang beuh, damage-nya gak ada lawan. Lo kayak bukan Leni yang gue kenal aja. Putus cinta bukankah udah makanan lo sehari-hari? Katanya, mati satu tumbuh seribu. Lo ingat?
"Tapi, Nando beda. Hiks... " gumam Leni, setelah ia selesai membaca surat singkat itu.
"Beda gimana? Dia kan manusia juga, cowok juga, sama kayak mantan lo yang lain. Dari pada lo galau mikirin dia, mending lo mikir deh gimana caranya lo bisa glow up. Biar lo bisa bikin nyesel mantan-mantan yang udah campakkin lo," ujar Rara yang emosi sudah mereda melihat sahabatnya mulai lunak.
"Gitu ya? Hiks.. "
"Makanya, sudahi sedihmu bestie. Mari kita nge-mall bersama," sahut Rara sambil menaikturunkan alisnya.
Leni menyeka sisa air mata di pipi.
"Sorry dah ngata-ngatain lo," ujar Leni akhirnya yang dibalas pelukan oleh Rara.
"Santai aja, sorry juga udah hampir kebawa suasana."
"Patah hati sebelum memiliki. Btw, lo suka sama seseorang, tapi dianya gak suka sama lo, gitu, artinya?" tanya Leni, berganti topik.
"Apaan sih, kok bahas itu?"
"Penasaran aja. Rara si jomblo abadi ternyata bisa suka sama cowok juga... Hihihi, " Leni memamerkan deretan giginya.
"Nah, gitu dong. Senyum. Kan enak diliatnya," Rara ikut tersenyum.
"Cerita dong, cowok itu siapa," pinta Leni, menunjukkan puppy eyes-nya.
"Udah deh, gak usah dibahas. Males gue. Mending kita langsung cus nge-mall aja," Rara sudah beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan mendahului Leni yang masih duduk manis.
Mau tak mau, Leni pun mengikuti sahabatnya dari belakang.
Netra Leni tak henti-hentinya melebar saat melihat harga berbagai macam skincare yang berderet di etalase.
"Ini gak kemahalan, Ra?" Leni menoleh ke arah bestie-nya yang sudah memasukkan beberapa barang ke dalam keranjang.
"Itu harga normal tau. Gue sering belanja di sini, kok."
"Mending gue beli online aja deh. Gue bisa milih harga yang paling murah."
"Pantesan muka lo masih gitu-gitu aja. Jangan-jangan lo beli skincare abal-abal, ya?" tebak Rara menatap wajah Leni sambil memicingkan mata.
"Gak tau, yang penting murah. Hehe," balas Leni sambil nyengir.
"Astaga," Rara menepuk jidatnya.
"Pulang aja yuk?"
"Ambil aja yang lo butuhin, gue bayarin deh," ujar Rara akhirnya.
Ia merasa tidak enak sudah mengajak sahabatnya kemari, namun yang diajak tidak membeli satupun barang.
"Serius?" tanya Leni dengan mata berbinar.
"Duarius malah."
"Makasih, Rara," ujar Leni, langsung memeluk sahabatnya.
Rara ikut senang jika melihat sahabatnya senang.
"Rara?" panggil Leni saat mereka sudah ada diperjalanan pulang menggunakan mobil Rara.
"AURA?!" Leni meninggikan suaranya, merasa tidak dihiraukan oleh Rara.
Rara sedikit tersentak mendengar nada cempreng Leni naik satu oktaf.
"Apa sih teriak-teriak? Kaget tau," omel Rara.
"Salah sendiri, dipanggil gak nyaut."
"Sorry, gue lagi fokus nyetir. Ada apa?"
"Soal pertanyaan gue tadi."
"Yang mana?" Rara mencoba mengingat-ingat.
"Gue penasaran sama cowok yang lo suka. Cerita sama gue, ya? Please?"
"Gue males bahas itu lagi."
"Ayolah, siapa tahu gue bisa bantu lo buat deket sama dia," Leni terus membujuk sahabatnya.
"Gimana, ya?" Rara nampak berfikir keras.
"Dia anak sekolah kita?"
Rara mengangguk.
"Siapa, Ra. Gue penasaran," desak Leni yang tak sabaran.
"Yakin lo pengen tau?"
Leni mengangguk mantap.
"Nando."
Deg.
Jantung Leni serasa berhenti.
"Si-siapa?" Leni berharap dia tadi salah dengar.
"Gue suka sama Nando, mantan kucrut lo."