Setelah 6 tahun menjalin kasih, akhirnya hari itu datang juga.
Tanpa ada adegan romantis seperti cerita yang kubuat di setiap novelku, atau sekedar kalimat-kalimat yang dipenuhi dengan kata cinta.
"Besok Ibu kamu sibuk?"
Pertanyaan yang membuatku sempat bingung, "Apa mungkin pertanyaannya salah? atau pendengaranku yang tidak berfungsi dengan baik?" batinku.
"Maksud kamu ibuku? Kamu nanya ibuku besok sibuk?"
Aku bahkan mengulang pertanyaan itu dan keduanya dijawab dengan anggukan.
"Tidak, seperti biasa ibuku paling nyantai dirumah," Jawabku.
Setelah itu suasana di dalam mobil kembali senyap. Memiliki kekasih yang tak banyak bicara memang harus ekstra sabar, dan aku sudah melaluinya selama 6 tahun.
Hingga tak kusadari jika mobilnya telah menepi tepat didepan rumahku.
"Tolong sampaikan ke ibu, jika besok mama akan datang kerumah yah," pintanya.
"Mama kamu ingin ke rumahku?" ulangku dan sekali lagi Ia hanya berdeham menjawabnya.
"Untuk -" Sengaja aku menjeda ucapanku, biarkan Dia yang melanjutkannya.
"Untuk obrolin pernikahan," lirihnya.
"Pernikahan?"
"Pernikahan kita," jawabnya singkat.
"What???????" pekikku.
Pernikahan, apa mungkin pendengaranku sudah tak berfungsi baik.
"Turunlah, istirahat, dan siapkan dirimu untuk besok," ucapnya.
Bagai robot, aku pun turun dari mobilnya. Berjalan dengan gontai masuk kedalam rumah.
"Huuuuaaaaaaaa ... aku baru saja dilamar ... lamaran paling ... paling ... ah, sudahlah," batinku.
Ibuku yang tengah asik menonton sinetron merasa terusik dengan kehadiranku yang langsung duduk disampingnya dan menyandarkan kepala pada pundaknya.
"Bu, besok mamanya Mas Miko mau datang ke rumah," ucapku.
"Mau ngapain?" respon Ibu masih biasa saja.
"Mau bahas pernikahan katanya, " jawabku acuh.
"Dan ... apa kamu sudah punya jawabannya?" tanya Ibu.
Seketika pikiran ku melayang-layang, menimbang dengan seksama apa jawabanku besok.
Terlalu tiba-tiba dan penuh kejutan.
Miko, pria yang tak banyak bicara dan tak suka keramaian.
Miko, pria yang sangat simpel dan tak suka kerumitan.
Miko, pria yang tak romantis dan jarang mengucapkan cinta.
Miko, pria yang masih sulit untuk mengendalikan sifat cemburu dan posesifnya.
Apa aku sudah siap menerima itu semua? Apa aku siap memulai hari bersamanya dan mengakhiri hariku juga bersamanya?
Rasanya kurang pantas jika aku tidak ikut menyertakan kelebihannya yang membuatku bertahan selama 6 tahun.
Miko, pria dengan sikap santun yang mampu memikat hati kedua orang tuaku.
Miko, pria yang selalu mengusahakan segala cara untuk mewujudkan keinginanku.
Miko, pria yang pekerja keras dan tak pernah malu selama hal yang Ia kerjakan halal.
Miko, pria yang tak pernah mengeluh sekalipun dengan sikap menyebalkanku.
Dan yang terpenting dari itu semua,
Miko, pria yang hormat dan patuh pada kedua orang tuanya.
Pertimbangan terakhir yang membuatku yakin dengan keputusanku esok hari.
Benar saja, 3 bulan setelah aku menyampaikan keputusanku untuk menerima lamarannya kami pun disatukan dalam sebuah janji pernikahan, janji setia, sehidup-semati, baik dalam suka maupun duka.
Dan kini 7 tahun sudah usia rumah tangga kami dan kami telah dikaruniai 2 orang anak. Semuanya berjalan baik-baik saja, meski tetap ada sesekali kerikil yang menghiasi jalan rumah tangga kami.
Mas Miko tetap dengan kepribadiannya yang pendiam, tak romantis, sederhana, tak banyak yang berubah.
Termasuk hormat dan patuhnya Mas Miko pada kedua orang tuanya dan kini juga kedua orang tuaku.
Mas Miko tak pernah sekalipun melakukan hal-hal aneh yang bisa menyakiti aku-istrinya ataupun kedua buah hati kami, baik hati maupun fisikku.
Karena Ia tahu menyakitiku sama saja berati menyakiti anak dan kedua orang tua kami yang sangat Ia hormati.
Suamiku, kau pilihan yang tepat.
meskipun aku harus merelakan karirku yang cemerlang.
Suamiku, kau pilihan yang tepat.
meskipun kini aku harus rela tinggal di desa bersamamu, meninggalkan gemerlapnya kehidupan kota besar.
Suamiku, kau pilihan yang tepat.
Meskipun tak romantis, sedikit cemburu dan posesifmu akan kuanggap sebagai pemanis.
Pernikahan kita mungkin jauh dari pernikahan yang ada dalam impian masa remajaku, atau pernikahan para putri dalam negeri dongeng.
Tapi,
Pernikahan kita, dirimu, juga putra dan putri kita, adalah hal nyata yang paling berharga dan terbaik yang kudapatkan sepanjang usiaku.
Semoga Allah SWT meridhoi senantiasa rumah tangga kita.
Terima kasih cinta. ♥️