Angel Smooth adalah nama lengkapku, aku tinggal di sebuah rumah mewah hasil kerja kerasku menjadi seorang hacker. Setiap ada kesempatan aku selalu meluangkan waktu untuk mengunjungi keluarga.
Pada suatu hari, aku menemukan sebuah aplikasi berbahaya yang di ciptakan oleh Resaykly. Pria tampan yang sempat membuatku terpana begitu aku telusuri identitasnya.
Aku terus melacak kegiatannya dan kutemukan titik kelemahannya yang ternyata begitu mudah menghancurkan sistem milik Re.
Ku atur waktu pertemuanku dengannya di sebuah rumah induk. Di sana adalah tempat berkumpulnya para hacker sejati.
Namun tak ku sangka, begitu aku bertemu dengannya untuk pertama kali secara nyata. Tubuhku seperti terseret oleh sebuah magnet yang membawaku dengan seribu kekuatan. Aku tak kuasa menahan diri dan aku malah terdampar di tubuh kekarnya.
Sraakkkk!
Grebb!
"Akh! I'm sorry, Mr." Aku berusaha melepaskan diri dari tubuhnya. Namun, tangan kokoh milik pria itu tak bergerak dari punggungku. Dia menatapku dengan tajam hingga aku terseret masuk ke dalam sebuah dimensi masa depan.
Kuamati setiap sudut ruang yang hampa serta gelap dan mulai ku langkahkan kaki menuju sebuah cahaya kecil. Sampailah aku di sebuah titik lalu ku sentuh titik tersebut dan terbuka lebar sebuah istana megah.
Seorang pria tampan yang pernah kulihat sebelumnya datang menghampiriku dan mengulurkan tangan untuk menyambut ke datanganku.
"Wellcome to the word, my Angel." Recaykly menarik jemariku dan dia mulai berlutut. Senyum menawan terukir dari sudut bibirnya yang tipis. Membuatku semakin teepesona padanya.
Aku menyambut ulurannya serta membalas senyumnya yang tak pudar dan tatapan yang menghipnotis.
"Will you mary me?" ucapnya sambil mengecup tanganku dengan lembut dan membuat hati ini meleleh.
Rasa senang yang mendera perasaan di hatiku membuat aku tak tahan untuk tidak berteriak karena rasa bahagia.
"Aaaaah! Yes, I do." Aku menjawab dengan suara keras.
Byurrrr
Wajahku basah hingga membuatku gelagapan hampir kehilangan napas. Kuusap wajah yang benar-benar basah dan aku terbelalak begitu mata ini menatap seseorang yang selalu mencerewetiku tiap pagi.
"Ibu?" gumamku.
"Banguunn! Cepat mandi dan sarapan, kamu mau kerja atau tidak?" omel ibu.
"Aihh, ternyata aku hanya mimpi!" celetukku.