Aku terkenal dengan sebutan playgirl. Bagaimana tidak aku ganti pacar dulu bisa seperti ganti tas satu bulan bisa tiga kali. Semua itu bermula dari tuntutan orang tua yang menyuruhku segera menikah benar benar membuatku pusing. Hingga aku selalu mencoba dan mencoba dekat dengan lawan jenis tapi tidak ada yang srek dihati, tidak ada debaran didada. Sudah ada 20 kali aku ganti pacar tapi tidak ada yang cocok aku merasa lelah hingga akhirnya aku memutuskan untuk berhenti. Mungkin memang aku harus menikmati hidupku dulu, menikmati masa muda. Hingga akhirnya sahabatku berniat mengenalkanku kepada kakaknya. Awalnya aku menolak karena dari yang aku tau kakaknya baru saja kandas percintaannya dengan kekasihnya yang telah dibina selama enam tahun karena kekasihnya selingkuh. Aku takut kalau aku masuk dikehidupan kakak sahabatku aku hanya jadi pelampiasan. Sahabatku selalu memberi dukungan padaku agar aku mau mencoba kenal dengan kakaknya. Menurut sahabatku kami memiliki kisah asmara yang mirip, sama sama dikhianati. Sebelum aku terkenal dengan sosok playgirl aku memiliki kekasih dia adalah cinta pertamaku, lelaki pertama yang menggandeng tanganku aku sudah pacaran selama dua tahun namun siapa sangka kalo aku akan mendapat penghianatan. Kekasihku meninggalkanku tanpa pamit, tanpa kata putus dia sudah menikah dengan selingkuhannya, dan yang lebih parah selingkuhannya sudah hamil empat bulan saat dia menikahinya. Setelah kejadian itu aku tidak bisa membuka hati untuk laki laki walau sudah aku coba tapi tetap tidak bisa. Dan akhirnya setelah berbagai pertimbangan aku menerima tawaran sahabatku untuk berkenalan dengan kakak sahabatku. Setelah tiga bulan saling mengenal kakak sahabatku mengajakku untuk menikah. Saat itu otaku mengatakan itu terlalu cepat tapi ragaku mengkhianati ku, aku mengangguk menerima ajakan kakak sahabatku. memang aku akui aku nyaman dengan dia untuk beberapa bulan yang telah kami lalui. Dan tiga tahun setelah menikah disitulah cinta, kesetiaan dan ketulusan kami diuji. Keluarga suamiku mulai menuntutku seorang anak, seorang pewaris. Kami menjalani pernikahan ini normal dan akupun tidak menunda, mungkin karena Tuhan memang belum mempercayakan seorang anak kepada kami. Hingga suatu hari Ibu mertuaku menyuruh suamiku menikah lagi dengan alasan agar cepat mendapat keturunan. Namun suamiku menolak keinginan orang tuanya dia meyakinkan orangtuanya kalau aku bisa hamil dalam waktu dekat. Disitu Aku merasa sangat dicintai dan disayang oleh suamiku. Kamipun mulai melakukan program hamil. Tak pernah lelah suamiku menemani aku cek kesuburan kedokter kandungan. Kami saling dukung saling menguatkan dan berkomitmen apapun yang terjadi akan kami hadapi bersama. Setelah Lima bulan konsultasi akhirnya aku hamil, pancaran kebahagiaan tak pernah lepas dari bibir kami. Dan kini kamipun sudah memiliki anak dua. Buah cinta kami berdua.