Pada suatu hari ada seorang gadis lugu dan polos dia selalu menunggu seorang pria yang bernama Saad yang selalu berjanji akan segera menikahinya setelah dirinya lulus kuliah, tiga tahun sudah Ersa menunggu lamanya namun berita baik tak kunjung datang dari pria yang bernama Saad yang berjanji.
Janji adalah sebuah hutang dan gadis yang Ersa pun selalu menunggu kabar dari pria tersebut namun kenyataan pahit harus Ersa terima karena di dunia jaman sekarang tidak semua manusia memegang teguh janji serta prinsipnya, waktu yang berlalu sia sia, air mata dan penyesalan tiada guna lagi kini hanya ada kecewa terluka dan penyesalan.
Pada akhirnya semua laki laki sama saja dimata Ersa yang selalu kecewa setiap kali di janjikan oleh seseorang yang mengatakan ingin menikahinya, dan kesabaran untuk selalu menunggu dan percaya pun kini semakin menipis karena tidak menemukan kebenaran dan jodohnya yang sejati, yang tidak suka berjanji namun bertindak dan membuktikan kesungguhan serta keseriusan dalam menjalin hubungan, karena terlalu banyak sakit hati dan kecewa akhirnya Ersa memutuskan semua kontak dan mengubah pola pikir serta sudut pandangnya dan menganggap bahwa semua laki laki itu sama.
"Ersa kamu kapan nikah tuh teman teman mu sudah punya keluarga dan anak semua" ucap salah seorang teman dan sering bertanya kapan.
"insyaallah jika memang sudah waktunya" ucap Ersa yang memang tidak punya kata lain.
"udah cepat cari laki laki, nunggu apalagi anak saya aja saya jodohin" ucap ibu Ijah seorang tetangga yang bertemu Ersa saat pulang dari melaksanakan shalat tarawih berjamaah di sebuah masjid.
Dengan mudah mereka berbicara dan berkata tanpa mengetahui hati dan perasaan yang merasa, apakah mereka tahu sebesar apa rasa ingin Ersa dan setinggi apa harapannya pada setiap orang yang mendekatinya namun lagi lagi kecewa dan sakit hati yang sering kali di dapatkan dari setiap pria yang berjanji akan menikah dengan Ersa.
Sudah sering terluka sejak kecil dan kecewa dari remaja dan kini seolah olah beban dan penderita tiada henti menghampiri Ersa, sudah terlalu banyak sakit hati kecewa dan terluka, air mata tiada henti dan penyesalan yang selalu menghantui Ersa bagai ujian dan cobaan yang tidak kunjung selesai dalam hati yang sudah rapuh dan rasa percaya yang hilang
Harus kemana lagi dan harus apa Ersa sungguh tidak tahu, yang dirinya tahu bahwa ini semua belumlah berakhir mungkin tidak ada lagi rasa percaya diri dan keyakinan pun semakin menipis.
Berdoa disetiap hati tersakiti dan terluka menangis terisak-isak dan tersendu, mata membengkak dan air mata tidak lagi menetes dan akhirnya pusing yang datang menghadang nya dari kesedihan sampai Ersa pun tertidur dengan pulas berharap semoga disaat dirinya terbangun semua yang terjadi itu hanya mimpi sehingga ia tidak harus mengingat apa yang telah terjadi padanya itu.
"assalamualaikum.. kak boleh saya bertanya" ucap Ersa melalui pesan WhatsApp, mengirim pesan pada seseorang yang menjanjikan dirinya
Banyak yang berjanji namun pada akhirnya mereka pergi meninggalkan Ersa dengan rasa penasaran karena menunggu janji yang diberikan oleh pria itu.
"waalaikumsalam.. kenapa" pesan balasan dari WhatsApp dari pria yang bernama Ahmad.
"seperti apa istri idaman kakak kalo boleh tahu" pesan yang dikirim oleh Ersa ke pada Ahmad
Ahmad adalah pria yang kesekiannya yang menjanjikan Ersa dengan kata ta'aruf namun sudah enam bulan lamanya tidak ada kata maju ataupun mundur, Ahmad tidak merasa sedikit pun bersalah karena telah menggantung jawaban yang diharapkan Ersa, hingga saat ini Ersa selalu mengingat setiap kata dan janji yang di dapatinnya.
"yang menjaga sholat nya dan yang menutup auratnya dan berakhlak baik" pesan balasan WhatsApp dari Ahmad ke pada Ersa.
"adakah keinginan untuk menikah dengan saya" balasan dari Ersa, yang ingin tahu seperti apa jawaban yang didapat karena dari sana Ersa dapat memahami dan mengerti seperti apa pria yang sedang memberinya harapan itu.
"kamu yakin sama saya" pesan balasan dari Ahmad
"saya percaya karena selama ini anda yang ada dan bertahan dengan saya" balasan dari Ersa yang memang sudah mempercayai jika jodoh pasti bertemu dengan sendirinya, namun Ersa butuh kepastian dari setiap pria yang mendekati dan berkata ingin ta'aruf namun pada akhirnya mereka semua pergi perlahan lahan tanpa meninggalkan pesan atau mengatakan kata akhir.
"lebih baik kita mengenal dulu jangan menerka nerka seseorang" pesan balasan dari Ahmad.
Sesuai dengan pemikiran Ersa pada dasarnya pria yang berpikiran seperti itu pasti sama saja, Unjung Unjungnya mereka bukanlah laki laki sejati yang berani berkata langsung pada intinya, oleh karena itu Ersa mengerti dan paham akan seperti apa orang yang dirinya harapkan, sebenarnya Ersa tidak pernah berharap apapun pada siapapun namun mereka yang datang dan menjanjikan dirinya tapi mereka juga yang pergi meninggalkan tanpa kata.
Disini takdir seperti bermain main dengan hati dan pikiran Ersa sampai dirinya tidak mempercayai ada janji sejati dan ada pria sejati yang tidak suka berkata ataupun mengumbar janji janji manis.
Mau tidak mau suka tidak suka kenyataan pahit ini harus diterima dengan lapang dada, ihlkas dan sabar menjalani segalanya dengan hati yang rapuh.
Hari demi hari berlalu, minggu berganti bulan dan kini hadirnya seorang pria yang tidak tahu dari mana asalnya dan tidak tahu apa tujuan, tiba tiba ada seorang pria yang datang dan berkata dengan suara yang lembut halus dan merdu bagaikan alunan syair yang menyentuh hati dan menenangkan jiwa raga.
"assalamualaikum ukhti bolehkah saya ber ta'aruf dengan ukhti" ucap seseorang yang datang menghampiri Ersa di tepi pantai yg indah nan sejuk
"waalaikumsalam apa yang anda katakan tadi" jawab Ersa dengan gemetaran dan deg deg gan.
"saya bertanya apakah ukhti bersedia ta'aruf dengan saya" ucap seorang pria yang berdiri di hadapan Ersa, dengan gagah dan beraninya bicara.
"apa kamu tidak salah bicara" jawab Ersa yang belum percaya sepenuhnya pada pria itu.
"saya bersungguh-sungguh dan saya berniat memperistri seorang wanita yang bisa meluruskan pandangan saya terhadap seorang wanita" ucap pria yang belum diketahui namanya ini.
"boleh saya tahu apa tujuan Ikhwan dalam berumah tangga dan bagaimana pendapat Ikhwan" tanya Ersa yang ingin mengetahui jawaban pria ini.
"tujuannya untuk beribadah dan membangun sebuah keluarga yang sakinah mawadah warohmah serta mendidik putra-putri agar menjadi anak anak yang Sholeh dan Sholehah, mengajarinya mana yang baik dan benar mana yang dosa dan tidak baik, sebuah keluarga tidak akan harmonis tanpa adanya rasa percaya diri dan yakin akan ketentuan Allah dan rasul-nya mari kita sama sama berjalan dan meraih ridho Allah dan rasul-nya"
ucap seorang pria yang rupawan dan indah ini.
"maaf Ikhwan saya tidak sesempurna yang terlihat dan saya tidak seperti perempuan modern, saya punya banyak kekurangan apa Ikhwan mau bersanding dengan perempuan seperti saya"
ucap Ersa, yang mengatakan kebenarannya.
"tidak ada satu pun manusia yang terlahir dengan sempurna karena kesempurnaan hanyalah milik Allah semata, dan saya mencari sosok istri yang bisa menjaga hati, pikiran serta pandangannya"
ucap pria ini dengan bersungguh-sungguh.
"Alhamdulillah yaa Allah engkau telah mengabulkan doa doa hamba untuk menikah dan punya suami, bismillah allahuma yassir wala tua'ssir. boleh saya meminta syarat kah Ikhwan agar saya lebih yakin"
ucap Ersa yang benar benar bersyukur dan senang.
"insyaallah saya bisa memenuhinya ukhti, apakah syaratnya itu" jawabnya dengan tenang.
"nikahi saya bada waktu isya satu hari setelah hari raya Idul Fitri apakah Ikhwan bersedia" ucap Ersa yang memberikan syarat menikahi dirinya.
"baiklah ukhti saya terima syaratnya, insyaallah nanti saya kabari setelah keluarga setuju" ucap pria ini memberikan kartu namanya sebagai tanda keseriusan dan kesungguhannya dalam menikahi.
Selesai 😊🙏
Terimakasih sudah membaca cerita ini