Pernikahan bukanlah ending dari sebuah kisah cinta manusia. Pernikahan justru adalah sebuah awal dari dimulainya babak baru dalam kehidupan.
Keputusan menikah merupakan keputusan terbaik dalam hidupku. Rasa manisnya selalu kujadikan pegangan bahwa aku tidak akan pernah menyesalinya sampai kapanpun.
Namun, rasa manis itu dapat kurasakan di tahun pertama pernikahan saja. Badai-badai rumah tangga mulai berdatangan satu persatu, silih berganti, sebagai cobaan dengan apa yang disebut sebagai rumah tangga.
Oke, aku masih mampu mengatasinya. Karena menurutku, asalkan pasanganku tetap memegang teguh cinta seperti juga aku, maka segala masalah tidak akan terasa berat. Kekuatan saling mencintai yang begitu dalam sudah lebih dari cukup untuk menghadapi apapun cobaan yang datang.
Aku percaya diri. Mencintainya dengan amat sangat sudah lebih dari cukup untuk menbuat hatiku tenang.
Hingga aku melupakan satu hal....
Tuhan.
Mestinya, aku mencintai pasanganku karena Tuhan. Mestinya, aku menyerahkan segala urusan duniaku itu kepada Tuhan.
Tuhan yang maha membolak-balikkan hati manusia, suatu ketika menunjukkan kuasanya dengan merubah hati suamiku.
Aku menyadari bahwa cintanya tak lagi sebesar aku mencintainya. Hingga membuat goncangan dahsyat yang menjadi puncak dari segala badai pernikahan yang datang.
Aku meratapi. Aku merasakan kehilangan cinta itu. Cinta yang amat besar kepada pasangan yang selama ini kujadikan pegangan setiap harinya.
Mengapa dia berubah? Mengapa dia membiarkanku putus asa dalam banyaknya masalah? Mengapa dia tak lagi semanis dulu?
Aku bertanya-tanya dalam ketidakberdayaan. Aku menangisi nasibku yang merasa salah dalam memilih pasangan. Dan bagian terburuknya adalah sampai aku tidak lagi menginginkan dunia sebagai keputusan akhirnya.
Lalu...
Suatu ketika aku menyadarinya.
Ada yang salah dalam memilih landasanku untuk bertahan dengan yang namanya kehidupan pernikahan.
Bukan. Nyatanya bukanlah cinta kepada pasangan di atas segala-galanya. Karena ketika Tuhan membolak-balikkan hati manusia, tiba-tiba cinta kepada pasangan itu luntur seketika.
Apa hikmahnya?
Mestinya aku mencintainya karena Tuhan. Mestinya tahta tertinggiku dalam hidup ini adalah Tuhan. Melakukan segala sesuatunya karena Tuhan ternyata adalah jawaban dari segala masalah hidupku. Lalu ketika akhirnya aku menyadari itu semua ...
Aku seperti terbang.
Bebanku terasa ringan.
Dan percayalah, Tuhan pun mengembalikan cinta pasanganku lagi seperti sedia kala.
Di situ aku banyak bersyukur bahwa Tuhan masih memberiku kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Kehidupan pernikahanku.
Maka sudah seharusnya aku tidak lebih mencintai dan meninggikan makhluk manapun dibandingkan Tuhanku. Karena apabila aku mengejar Tuhanku, maka dunia juga akan mengejarku.
Mencintai pasangan karena Tuhan, merupakan rumus bahagia baik itu untuk kehidupan dunia maupun akhirat.
Pernikahan yang bahagia itu dengan selalu melibatkan Tuhan di dalamnya.
***
-Kaka July-