Hari valentine katanya adalah hari spesial untuk para pasangan. Dimana mereka saling bertukar makanan manis semacam coklat lalu memakannya bersama. Ada juga yang bilang jika ini hari paling romantis setahun sekali.
Saat mereka berbagi cinta dan kata manis, Stella lebih memilih untuk mengurung diri di ruang kerja. Perempuan itu sangat workaholic. Ia jarang memikirkan soal cinta, katanya belum pernah memiliki pasangan atau orang yang disukai, ia adalah single sejati. Bahkan diusianya yang hampir kepala tiga.
Masih jam tujuh malam, pekerjaannya sudah selesai. Karena stok cemilan di ruangan nya habis, ia memutuskan untuk keluar sebentar. Berjalan kaki ke minimarket untuk membeli persediaan cemilan. Ia tidak bisa bekerja tanpa cemilan.
Sepanjang jalan, kebanyakan yang ia lihat adalah keromantisan pasangan. Dating mereka diisi dengan dinner atau jalan-jalan, tidak terlewat barang couple yang mereka kenakan.
Didalam minimarket pun sama, semuanya terlihat berpasangan. Paket couple dimana-mana. Dengan berbelanja dengan paket pasangan, ia juga mendapat sedikit keuntungan atau bisa dikatakan lebih banyak. Beli satu gratis satu, diskon barang couple, dan lain-lain.
Setelah keluar dari minimarket itu, ia merasa sedikit enggan untuk pulang. Stan makanan yang berjejer rapi menarik minatnya. Namun sepertinya, ia tidak mudah mendapatkan semua itu. Entah ada aturan yang mengharuskan membawa pasangan, atau adanya permainan bersama sebelum mendapatkan barang yang diinginkan.
Ayolah ia lebih suka membayar lebih daripada mengajak seseorang. Kerena aturan tak tertulis disetiap stan, Stella hanya bisa berkeliling. Ia tidak memperoleh banyak barang.
Karena lelah, ia memutuskan untuk beristirahat sebentar di salah satu bangku. Duduk sendirian sambil menikmati marshmellow bakar yang ia beli tadi.
Tak lama, seorang pria muncul dan duduk disebelahnya tanpa permisi. Ia Rion, si sekertaris paling menyebalkan. Tanpa izin ia mengambil beberapa cemilan yang Stella beli tadi. Tentu juga memakannya.
"Perhatikan table manner." peringat Stella. Rion tidak menggubris nya, makanan manis adalah favoritnya, apalagi serba-serbi stroberi.
"Ngapain keluar mblo? Mau cari pasangan?" inilah yang Stella benci, pria itu selalu mengingatkan tentang pasangan. Sudah kayak tantenya saja. "Gak, stok cemilan habis," ia menjawab sekedarnya dan dijawab 'Oh' saja.
"Ngga keluar sama istri Lu?" Stella heran, ini anak kenapa malah masih berseragam rapi? Dan tidak menghabiskan valentine bersama istrinya seperti orang-orang itu.
"Gue disuruh kerja, katanya lumayan tambahan gaji." istri Rion memang sedikit aneh, katanya suaminya sendiri ia lebih cinta uang. Stella memutar bola matanya dengan malas, "Enak bener tambahan gaji." Rion terkekeh awkward.
"Kagak laku-laku ngab?" diluar pekerjaan, kami adalah sahabat karib semasa SMP. Jadi tidak ada salahnya jika sedikit kasual dan santai, "Lu pikir gue barang jualan apa?!"
"Cari suami sono, udah jadi aunty rich tuh.. Cari perjaka muda yang gudluking," Ucapannya yang begitu santai membuat Stella ingin menampolnya.
"Gue masih segel btw, dan daripada cari suami lebih mudah cari anak." Stella sudah mengangkat tiga anak yang ia lihat disalah satu panti asuhan yang didirikannya.
"Trio kembar itu udah jadi baby sitter dirumah saya," Rion berucap tanpa sadar, yang tentu memicu kemarahan sang boss.
"M-mereka c-cuma de-ngan se-senang hati mengasuh Rara.." ia buru-buru menjelaskan walau dengan dengan terbata-bata. Stella mendengus gemas, untung Rara begitu lucu.
Aurora, atau dipanggil Rara, anak Rion yang usianya masih balita. Rupanya sangat mirip dengan Rion, cukup imut di versi kecilnya. Tiga kembaran dua putra dan satu putri, Seil, Sara, Sion, anak-anaknya biasanya senang berkunjung kerumah Rion. Tentu saja untuk bermain bersama sikecil. Ah, memikirkan anak kecil memang membuat siapapun rindu.
"Lexa apa kabar?" Stella segera mengubah arah pembicaraan, ia akan semakin rindu dengan Rara.
"Alexa ya? Baik sih, tapi akhir-akhir ini ia sering meminta hal aneh.." Rion menghela napas pelan, "..tengah malam kemarin request martabak, kemarin lusa ngotot pergi ke Korea buat nonton konser."
"Nyidam tuh," Stella bersandar acuh, kasus awal mengandung bisanya seperti ini. "Yakali anak lagi."
Stella memukul kepalanya cukup keras, anak ini tidak bisa menjaga perkataannya kah? "Hehh! Kaga bersyukur!"
"Aduhh, ga gitu.. Rara loh masih kecil,"
"Menurut gue sih gitu, cek ke dukun sana!" Stella berpikir jika firasatnya benar. "Dokter kehamilan kek, atau minim bidan gitu, yakali recommend dukun."
Rion merenung sejenak, dan segera berdiri, "Yoshh, mau jemput kanjeng ratu tercintah dulu! Keknya cenayang mu itu jarang meleset soalnya." ia berlari tanpa menunggu jawaban Stella.
"Jangan lupa cari calon!" saat lumayan jauh, Rion berteriak seperti itu dengan melambaikan satu tangannya.
"Gamau cari yang lain, maunya kamu." Stella bergumam miris, "Salah pilih, udah jadi jodoh orang lagi."