Nala mencintai Arsa, begitupun sebaliknya. Saling mencintai dan saling bekerja sama untuk membunuh.
"Kejar dia dear," ucap Nala melalui walkie-talkie yang berada di telinga Arsa.
Hari ini Arsa dan Nala harus menangkap tikus kecil yang berkeliaran di dekat mereka. Membasmi satu-persatu agar tidak ada yang membuka mulut sedikitpun tentang Arsa dan Nala.
"Yes honey," balas Arsa.
Nala yang berkutat pada komputer, memastikan Arsa tetap aman melalui kamera yang terpasang pada drone kesayangan Nala.
komputer-komputer yang berisi data-data milik Nala begitu komplit. Nala adalah Hacker, sangat suka menghancurkan data-data milik orang lain tanpa pikir panjang. Tidak peduli sekalipun data itu sangat berharga karena bersenang-senang adalah tujuan utama Nala.
Terlalu lama berkutat dengan komputer, Nala memilih beranjak dan mengejar Arsa. Kekasihnya yang masih sibuk bermain kejar-kejaran.
"Mau sampai kapan kau berlari?" tanya Arsa dengan senyum mencemooh.
Alen sudah terpojok di gak sempit yang buntu. Pakaian hitam Arsa sudah basah karena hujan yang bahkan masih belum reda.
"Hai dear," sapa Nala.
"Mau bermain honey?" tanya Arsa, tangannya memeluk pinggang Nala dengan mesra.
"Of course," bibir Nala menyunggingkan senyum menyeringai.
"Your lips," bisik Arsa dan mengecup bibir Nala.
Bibir Nala semakin menyeringai dengan lebar, tangannya mengambil pisau lipat di saku pakaian Arsa dan mengecup pipi Arsa singkat.
"Wait, kita tidak bisa melakukannya di sini," tutur Arsa.
"Kamu benar. Mari kita bawa ke sana," dagu Nala menunjuk gubug kosong.
"Ku mohon jangan hiks..." mohon Alen.
Nala mendekati Alen dan berjongkok di depannya. Tangannya memegang pipi Alen dengan lembut, yang justru membuat laki-laki itu ketakutan setengah mati. Nala terlalu manis, senyumnya sangat menenangkan tapi menakutkan.
"Oh darl, aku minta maaf. Tapi aku tidak bisa," tutur Nala dengan logat manisnya juga senyuman yang terpatri di bibirnya.
"Tol...tolong... leph-lepasin aku," lirih Alen.
"Bagaimana menurutmu dear?" Nala menolehkan wajahnya dan bertanya pada Arsa.
"Kita seret saja sekarang," saran Arsa.
"Ahh, baiklah,"
Arsa dan Nala menyeret Alen memasuki gubug yang tak terpakai. Gubuk kecil dari beton yang cukup luas jika dilihat dari dalam saat memasukinya.
Tangan Arsa memeluk pinggang Nala dengan posesif. Bibir pemuda itu menyunggingkan senyum menawan pada Nala yang berdiri di sebelahnya.
Tangan Nala melepaskan pelukan Arsa dan memulai aksinya, bahkan senyum di bibirnya masih belum luntur. Pakaian hitam dan rambutnya yang basah. Juga tetesan air yang mengalir ke lehernya membuat Nala terlihat begitu cantik di mata Arsa.
Bukan saatnya untuk memuji, Nala langsung memulai aksinya dan mendekati Alen. Kaki Nala menendang tepat pada bagian sensitif laki-laki itu.
Argghhhhh!!!!!!!!
"Ouch, yah gimana dong, aku gak sengaja?" Nala meringis saat kakinya menendang. Apalagi menggunakan sepatu boot yang akan sangat terasa sakitnya.
"Tolong ber-berhenti," pinta Alen.
"But i can't," ucap Nala dengan suara yang dibuat cemberut.
"come on honey," ucap Arsa.
"Sorry Arsa aku tau kok," ujar Nala.
"Jangan terlalu banyak bermain Nala," tegur Arsa.
"Hm," Nala hanya membalas dengan gumaman.
Tiba-tiba tangan Nala menusukan pisau lipat di mata kiri Alen dan menusuknya berkali-kali hingga darah mengucur dengan deras.
argghhhhh!!!!!!
"Stop it," ujap Alen.
"Oh come on darl, ini baru awal," ucap Nala dengan enteng.
Pisau lipat di tangan Nala menggores di dahi Alen mengukir namanya dengan keras hingga tulang putih terlihat dan darah mengucur deras.
Argghhhhh!!!!!!
"Sakit!!!!!," pekik Alen.
"Namaku ketutup darah," adunya dengan manja pada Arsa.
"Biarin aja honey, lanjutkan sekarang,"
Nala kembali melanjutkan aksinya, menguliti wajah Alen, kecuali dahi pria itu agar tidak menghilangkan namanya. Erangan kesakitan dari Alen yang menggema membuat senyum main di bibir Nala menjadi semakin manis. Bahkan Arsa terlihat sangat puas melihat aksi kekasihnya.
Argghhhhh!!!!!!
"Berh-berhenti," lirih Alen.
Darah yang mengucur berbaur dengan air mata Alen, membentuk genangan lebar yang berwana merah namun menggairahkan bagi Arsa dan Nala.
Tangan Nala menusuk pipi Alen berkali-kali hingga koyak, belum ada niatan baginya untuk membunuh Alen.
Argghhhhh!!!!!
Tiba-tiba tangan Nala ditarik ke belakang oleh Arsa. Satu tangan Arsa memeluk tubuh Nala dan mencium bibir gadis itu. Satu tangannya menarik pelatuk pistol dan mengarahkannya pada kepala Alen.
Dorrrr!!!!!!
"Ich liebe dich," bisik Arsa disela-sela ciumannya.
Arsa melepaskan ciumannya dan membawa Nala keluar gubug. Arsa menyalakan korek api dan melemparnya ke arah gubug.
Boom!!!!!
Korek api meledak dan membakar seluruh gubug yang di dalam gubug masih ada mayat Alen. Tapi inilah cara mereka untuk menghilangkan jejak pembunuhan.
Nala menghadap Arsa dan mengalungkan tangannya di leher Arsa. Tangan Arsa memeluk pinggang mungil kekasihnya.
"Ich liebe dich auch," ucap Nala tepat di depan bibir Arsa dan menciumnya kembali.