The White Death. Urban legend dari Scotlandia ini tengah marak dibicarakan oleh murid-murid SMA Tunas Bangsa. Namun, tak satu pun yang berani mencari tahu tentang legenda ini. Karena menurut cerita, siapa pun yang mencari tahu tentangnya akan dibunuh oleh seorang gadis kecil dalam cerita. Tak satu pun, kecuali Sinta. Murid kelas XI IPA I ini tidak percaya dengan cerita itu. Dia ingin membuktikan bahwa itu hanya cerita karangan yang dibuat orangtua dulu agar anaknya tak sembarang membuka pintu untuk seseorang.
“Kalian ini seperti anak kecil saja. Masa percaya dengan cerita ini?” Ucap Sinta enteng.
“Kamu gak percaya? Kan sudah ada buktinya. Anak kelas XII Ipa sudah menjadi korbannya,” Ucap salah seorang temannya takut.
“Alah.. Paling dia kekurangan obat-obatan saja,”
“Jelas-jelas dia tewas dibunuh. Banyak luka di tubuhnya.”
“Terus, kalau dia tewas dibunuh, itu pasti perbuatan gadis itu gitu?”
“Kata teman-temannya dia diceritakan tentang legenda ini. Tapi dia tidak percaya,”
“Dia mencari tahu lewat situs internet. Saat malam, tubuhnya sudah ditemukan tak bernyawa dan penuh dengan luka. Mengerikan,”
“Itu artinya dia pintar karena tidak mau percaya cerita bodoh itu. Tentang dia yang tewas dibunuh, mungkin saja itu perbuatan orang yang membencinya,”
“Kau ini. Sulit diberitahu,”
“Gini aja. Aku akan mencari tahu tentang gadis itu. Kalau besok aku masih hidup, artinya cerita itu hanya omong kosong.”
“Jangan macam-macam deh.”
—
Saat sang rembulan muncul menggantikan sang mentari. Hanya suara suara binatang dari lebatnya hutan yang terdengar. Terdengar merdu namun cukup membuat merinding yang mendengar. Seperti alunan lagu kematian. Sinta tengah sibuk dengan laptopnya mencari tahu tentang gadis itu. Dia ingin membuktikan bahwa itu hanyalah sebuah karangan tak berguna.
“Kenapa sedikit sekali informasi yang bisa didapat. Apa orang-orang percaya dan gak berani membuat artikel tentangnya? Bodoh!” Sinta sedikit bosan melihat artikel yang itu-itu saja. Sampai akhirnya ia menemukan artikel yang berisi cerita lengkap mengenai White Death. Ia membaca dengan serius. Ia mencoba menenangkan dirinya yang sedikit merinding karena membaca ceritanya.
Tok, tok, tok
“Siapa yang malam-malam gini bertamu? Apa jangan-jangan itu White Death? Jadi cerita itu benar? Matilah aku. Apa yang harus aku lakukan? Mama.. Papa.. Tolongin Sinta. Sinta takut!” Sinta menangis memegangi bonekanya. Dia benar-benar ketakutan.
“Sinta? Kamu di dalam, Nak? Ini Bibi. Buka pintunya,”
Sinta merasa sangat lega mendengarnya. Untuk ada yang melihatnya. Dia bisa mati karena malu atas kelakuannya.
“Bibi? Bikin kaget saja. Ada apa malam malam gini bertamu?”
“Maafkan Bibi. Bibi hanya mengantarkan titipan dari Mama kamu. Katanya dia belum bisa pulang sekarang. Mungkin minggu depan.”
“Oh, ya udah, Bi. Makasih ya..”
Sinta memperhatikan bibinya yang berjalan pulang. Sebelum akhirnya bibinya hilang dalam kegelapan. Sinta kembali ke dalam untuk membenahi laptopnya.
Tok, tok, tok
“Pasti ada yang lupa dia ucapkan. Dasar pelupa.”
Tok, tok, tok
Suara ketukannya semakin kencang.
“Iya, sebentar”
Saat Sinta membuka pintu, bukan bibinyalah yang ada di depan pintu. Melainkan seorang gadis kecil yang memakai gaun kerajaan. Wajahnya pucat pasi. Matanya menatap tajam. Seluruh tubuh terlihat sangat kotor. Gadis yang aneh. Pikir Sinta.
“Ade ke sini sama siapa?”
Gadis itu tidak menjawab. Dia menatap Sinta dengan tatapan seperti ingin membunuh. Tak lama kemudian gadis itu tersenyum dan mengacungkan pisau di hadapan Sinta. Membuat Sinta ketakutan dan berlari menuju kamar. “White Death.. Tolong aku!” Gadis itu bergerak dengan cepat. Seolah ada banyak White Death di rumah itu. Sinta tak lagi bisa lari. Kini White Death berada tepat di hadapan Sinta. Tersenyum manis. Sebelum ia mendorong Sinta ke luar jendela. “Maafkan aku, White Death.” Setidaknya itulah yang bisa ia ucapkan sebelum ia menghembuskan napas terakhirnya.
—
Kejadian malam itu membuat gempar seisi sekolah. Tidak terkecuali para guru. Mayat Sinta ditemukan di teras rumahnya dengan kepala hancur. Sepertinya White Death melemparnya dari lantai atas. Polisi memeriksa rumah Sinta dan menemukan laptop yang masih menyala dan menunjukkan bahwa Sinta sedang membaca The White Death Urban Legend. Pemerintah akhirnya menyuruh untuk memblokir situs itu dan mengahpus semua artikel tentang The White Death.