~ Happy Reading ~
Malam hari ini entah kenapa terasa lebih dingin dari malam sebelumnya, dan sedikit lebih gelap dari biasanya. Doyoung yang masih lembur di kantornya hanya bisa memandangi layar monitor komputernya dengan tatapan berharap bahwa pekerjaannya segera selesai.
Setelah berjam-jam akhirnya Doyoung bisa menyelesaikan berkas penjualan yang dia kerjakan sedari tadi. Pria itu meregangkan tubuhnya yang terasa pegal.
Doyoung menatap kearah jam dinding yang terletak di arah utara "gak kerasa udah jam setengah 12" ucap Doyoung sambil sedikit menguap karna kantuk yang melanda.
"gue harus cepat pulang" Doyoung mengambil tasnya dan segera pergi dari sana. Saat di tengah perjalanan Doyoung merasa ada sesuatu yang menjanggal. Tubuhnya terasa sangat dingin, namun dia berusaha untuk mengubah semua pikiran negatifnya.
“Doyoung~"
Samar-samar dia mendengar suara wanita memanggilnya. Doyoung menoleh kekanan dan kekiri namun yang dia lihat hanya pepohonan yang menjulang tinggi, Doyoung sama sekali tidak menemukan sosok yang memanggilnya.
Tiba-tiba Doyoung teringat dengan ucapan bibinya bahwa di daerah sekitar sungai Han banyak sekali hantu penunggu yang bergentayangan. Mengingat ucapan bibinya Doyoung jadi sedikit takut, namun Doyoung tetap memberanikan diri berjalan melewati sungai Han.
~oOo~
Kini Doyoung berada di sebuah rumah kecil, entah kenapa rumah itu terasa tidak asing baginya seperti ada sebuah kenangan lama yang terlupakan. Doyoung berjalan mengamati setiap penjuru rumah itu, Doyoung melihat sebuah figura dengan foto keluarga di dalamnya dia melihat seorang wanita paruh baya dengan suaminya dan kedua anak mereka ? mungin.
Di sebelah foto tersebut Doyoung juga melihat seorang anak laki-laki dan anak perempuan tengah bertukar hadiah natal. "Lucu" guman Doyoung.
Doyoung kemudian berjalan keluar rumah kecil tersebut, Doyoung melihat halaman rumah itu yang terlihat bersih dan asri.
"Sebenarnya aku berada di mana ?" – Doyoung.
Doyoung terus berjalan tanpa sadar kini dia berada di daerah sekitar Sungai Han.
"Kak....! aku mohon belikan aku mainan robot yang baru keluar di iklan tv kemarin malam" Doyoung melihat anak laki-laki yang berada di dalam foto yang tadi tengah merengek ke saudara perempuannya.
"Bukankah ayah sudah memberikanmu uang ? seharusnya kamu rajin menabung agar bisa membeli apa yang kamu inginkan Doyoung !" Ucap saudara perempuan anak itu.
"Doyoung ? kenapa namanya sama denganku ?" – Doyoung.
Anak laki-laki itu memasang wajah penuh marah, tangannya mengepal dia benar-benar terlihat ingin meluapkan seluruh amarahnya.
"Kau tau, ayah dan ibu memberikanku uang sangat sedikit kak ! Ayah dan ibu selalu memberimu uang yang sangat banyak, seharusnya kau mau berbagi sedikit uang untuku !" Gadis perempuan itu terkejut melihat adiknya yang meneriakinya dengan perasaan yang marah.
"Tapi ayah memberikan itu karna aku menang lomba menulis cerpen, ayah yang menjanjikannya sedangkan kau ? kau hanya bermalas malasan di kamar Doyoung !"
"Kau terlalu banyak bicara kak, asal kau tau aku sangat membencimu. Ayah dan ibu selalu memberikan apa yang kau mau, ayah dan ibu lebih menyayangimu dari pada aku!" anak laki-laki itu terus menerus mengungkapkan kekesalannya.
"DOYOUNG CUKUP ! ayah dan ibu juga menyayangimu jadi berhenti menjelek-jelekan mereka berdua" ucap gadis itu, matanya sedikit meneteskan air mata namun segera dia usap agar adiknya tidak melihat bahwa sekarang dia tengah menangis.
"Itu bohong kak ! ayah dan ibu tidak menyayangiku" Tiba-tiba anak laki-laki itu menggengam bahu kakak perempuannya, dia sedikit mendorong tubuh kakaknya hingga kini mereka berada di tepi sungai Han.
"Apa yang kamu lakukan Doyoung !" Ucap gadis itu merengek, tubuhnya bergetar dia sangat takut sekarang.
"Kau bilang ayah dan ibu menyayangiku, jadi aku akan membunuhmu agar kasih sayang ayah dan ibu hanya tertuju kepadaku" anak laki-laki itu menyeringai menunjukkan gigi kecil yang tersusun rapi.
Tanpa aba-aba tangan kecilnya mendorong saudara perempuannya hingga terjatuh ke arus sungai Han yang dalam.
~oOo~
Doyoung terbangun dari mimpinya, badannya begetar dan tubuhnya penuh dengan keringat. Doyoung perlahan mengatur nafasnya kepalanya terasa sangat berat sehingga sulit untuk berdiri saat ini.
"Aku ingat.....kakak"
Hari semakin malam. Doyoung kini tengah berlari menuju ke sungai Han, udara hari ini sangat dingin sedangkan Doyoung hanya mengenakan kaos dan celana pendek.
Doyoung menangis sambil memegang ganggang pembatas jembatan Sungai Han, yang di mana dulu sama sekali belum ada pembatas antara sungai Han dan jalanan.
Doyoung terduduk di tanah, dia menutupi wajahnya dengan telapak tangannya yang besar
"kakak, maafkan aku....aku ingat, aku bersalah kakak aku mohon maafkan aku. kak.... aku sangat takut saat itu untuk memberi tahukan semuanya ke ayah dan ibu bahwa aku yang membuatmu terjatuh ke dalam sungai" Doyoung terus menerus meminta maaf dia sangat merasa bersalah dengan masa lalunya.
Kemudian Doyoung berdiri, pria itu mengusap pipinya yang di banjiri air mata.
"Kak setelah kau pergi, aku tahu bahwa orang tua kita sangat menyayangi kita berdua. setelah kau pergi ayah dan ibu sangat merasa kehilangan bahkan membuat pikiran mereka terganggu. Namun setelah itu ucapan bibi menyadarkan ku, bahwa ayah dan ibu sangat menyayangi kita berdua"
Doyoung mengatur nafasnya....
"Seharusnya saat itu kau bilang kepadaku bahwa ayah dan ibu serta dirimu sudah mengatur rencana ulang tahunku dengan menghadiahkan robot yang aku mau. aku sangat menyesal dan aku bertekad untuk menebus semua kesalahanku"
Doyoung berjalan mendekati arah Sungai Han dia bertekad untuk mengakhiri hidupnya dengan cara meloncat ke sungai seperti kematian saudari perempuanya yang terbawa arus sungai, dia pun ingin merasakan apa yang saudarinya rasakan.
Doyoung menarik nafas dalam dan pada akhirnya pria itu lompat ke sungai dan tubuhnya serasa mati rasa, seluruh hati dan perasaannya dipenuhi dengan perasaaan bersalah.....
"Kak mungkin setelah ini aku tidak akan bisa menemuimu, karna tempatku jauh berbeda dengan dirimu yang berada di surga...." Sebelum detik-detik kehilangan kesadarannya, Doyoung mengukir senyum di bibirnya.
TAMAT