#Ramadhan
Ramadhan Pembawa Jodoh
Ramadhan tahun ini sangat-sangat berbeda dari tahun sebelumnya. Karena apa? Karena tahun ini aku berada di perantauan, dan tak mungkin aku kembali saat ini karena tuntutan pekerjaan. Baru sekitar dua bulan yang lalu aku bekerja disini. Memang bukan sebagai orang penting atau apa, tapi aku harus menghargai pekerjaanku, lebih tepatnya pekerjaan pertamaku.
Aku hanyalah seorang anak dari orangtua yang sederhana, sekolahku hanya tamat SMP. Aku masih mempunyai adik yang masih harus terus sekolah, jadi aku memutuskan untuk bekerja meskipun umurku belum genap tujuhbelas tahun.
Dan sekarang aku bekerja di sebuah toko ponsel. Bagaimana ceritanya aku bisa bekerja di counter hape kalau aku sendiri saja tidak memiliki hape? Ya aku hanya bermodalkan tekad saja bekerja disini, tekad untuk meringankan beban orangtuaku.
Tak terasa sudah memasuki bulan ramadhan lagi, betapa senangnya diriku menyambut bulan yang suci ini. Tapi sejenak aku tersadar, aku tak berada dirumah. Aku seorang diri disini, tanpa ada siapa-siapa yang akan menemani.
Ramadhan yang biasanya aku selalu dibangunkan ibuku berulang kali karena aku sangat susah untuk bangun petang hari. Dan begitu bangun biasanya aku akan langsung menyantap makanan yang sudah tersaji di meja, meskipun sederhana tapi begitu terasa nikmat karena aku berada di tengah-tengah keluargaku.
Tapi sekarang, siapa yang akan membangunkan aku? Siapa yang akan memasakkan menu sahur untukku?
Aku sadar, aku harus bisa melakukan semuanya sendiri. Dari mencoba untuk bangun tanpa menunggu di bangunkan, dan menyiapkan menu sahur sendiri, bahkan bersantap sahur sendiri.
Sendiri..
Snediri..
Kenapa kata sendiri terdengar begitu menyedihkan, karena sendiri artinya seorang diri, hanya diri kita sendiri.
Bagaimana aku busa beribadah seperti bulan ramadhan pada umumnya di tempat ini, tempat asing yang lumayan jauh dari tempat tinggal orangtuaku.
Aku yang biasanya berbuka puasa bersama keluargaku, teman-temanku di masjid selepas mengaji sore. Tarawih bersama teman-teman sebayaku, lalu bermain petasan saat pulang dari mushola.
Sekarang semua itu hanya menjadi bayangan dalam ingatanku. Di samping jam kerjaku yang sampai malam, aku juga tidak tau letak masjidnya. Karena sesama teman penjual disini tidak ada yang pergi ke masjid.
Tak terasa air mata menetes di pipiku saat aku mengingat ingat kenangan ramadhan tahun lalu di kampungku.
"Mbak.. Mbak.. mau beli pulsa.."
Lamunanku buyar manakala ada seorang pembeli.
Aku tersenyum dan segera melayani pembeli itu.
"Mbaknya kenapa melamun? Malem-malem nggak baik melamun, Mbak.." ucap orang itu mengingatkan.
"Nggak papa, Mas.." jawabku sambil memberikan uang kembalian untuknya.
Ingin aku bertanya dimana masjidnya, karena sepertinya pembeli itu baru saja dari masjid jika dilihat daei penampilannya yang masih mengenakan sarung, baju koko dan juga peci. Tapi aku urungkan karena ku fikir percuma juga aku tau jika aku tidak bisa pergi ke masjid.
Belum juga pembeli tersebut pergi dari toko, ada beberapa orang juga yang sepertinya pulang dari masjid, ada yang menaiki sepeda, ada juga yang berjalan kaki beramai-ramai. Membuatku kembali teringat keseruanku bersama teman-temanku di kampung dulu.
"Mbaknya ngalamun lagi kan.. kenapa sih Mbak? Nglihatin orang abis dari masjid gitu banget." Tanyanya kepo.
"Emm.. emang masjidnya dimana sih, Mas kalo boleh tau? Kok banyak juga yang lewat sini abis dari masjid." Akhirnya pertanyaan itu lolos juga dari mulutku.
"Oo, itu gang depan masuk Mbak, nggak jauh kok." Jawabnya menunjuk gang yang memang tak jauh dari toko tempatku bekerja.
"Oh, pantesan suka denger adzan kayak deket tapi nggak tau letak persisnya dimana."
"Di depan rumah saya Mbak masjidnya, Mbaknya mau kesana? Ayo tak temenin. Paling pada baru siap-siap buat tadarusan."
"Ah enggak, Mas. Jam kerja saya juga belum selesai kok,"
"Emangnya nggak di bolehin buat tarawih ke masjid Mbak sama bosnya?"
"Nggak tau Mas, nggak pernah nanya juga sih.." jawabku
"Coba besok tak tanyain sama yang punya ni counter,"
"Emang Masnya tau yang punya?"
"Tau, ono no orangnya kan?"
Terlihat sesosok orang laki-laki berpakaian sama dengan pembeli di depanku berjalan mendekat.
"Iya Mas, kok tau?"
Belum lagi dia menjawab, orang itu sudah sampai di hadapan kami. Aku kira ada hal apa sampai beliau malam-malam seperti ini datang ke counter. Ternyata..
"Den.. di tunggu daritadi nggak balik-balik. Udah mau mulai tuh tadarusnya, malah asyik ngobrol sama cewek disini.."
"Eh, enggak gitu, Bos-"
Ucapanku terputus dengan ucapan laki-laki di depanku yang bahkan aku juga belum tau namanya.
"Ah Mas nggak seru.. punya karyawan cantik gini di umpetin," ucapnya membuatku tersipu. Jujur saja selama ini belum pernah ada laki-laki yang bicara seperti itu terhadapku.
Bentar-bentar, dia tadi manggil si bos 'Mas' kan ya, apa dia kakaknya?
"Emang duit di umpetin! Kamu juga baru pulang dari kota kan. Baru juga sam- eh sebentar, apa maksudnya karyawan cantik di umpetin? Kamu..."
"Udah Mas, nanti ada yang mau aku omongin sama Mas, "
"Yaudah ayo balik, di cariin anak-anak yang lain. Suaramu yang menjadi andalan kalau gak ada pada heboh semua."
"Oke,"
"Mbak, kalau toko lain udah pada tutup mending tutup aja juga ya, udah sepi juga." Ucap Si Bos padaku sebelum berlalu.
"Iya, Bos"
"Mbak, boleh minta nomer hapenya nggak?"
"Udah ayo.. masih aja usaha," Si Bos menarik paksa pembeli itu dari hadapanku.
Singkat cerita, esok paginya Si Bos menemuiku dan bilang kalau aku boleh menutup toko sebelum isya tiba jika aku ingin pergi ke masjid untuk ikut tarawih.
Aku terkejut sekaligus senang mendengar perintah itu. Entah apa yang terjadi sampai tiba-tiba Si Bos ngasih perintah sepeeri itu. Yang penting nanti malam aku bisa pergi tarawih meskipun bukan di kampungku, setidaknya bisa mengobati kerinduanku terhadap suasana ramadhan.
Setiap malam aku tak absen untuk sholat tarawih di masjid yang katanya dekat dengan rumah Si Bos dan pembeli yang kemarin itu. Karena ternyata mereka memanglah kakak beradik. Dan hampir setiap malam pula aku bertemu dengan adik Si Bos.
Meskipun hanya sekedar basa dan basi tapi hal itu cukup membuatku merasa aneh, apa ya.. aku yang masih bocah dan tak tau apa-apa hanya mengangkat bahu acuh, biarlah semua berjalan apa adanya pikirku.
Tak terasa ini ramadhan ketiga aku lalui dengan tarawih dan bisa selalu bertemu dengan Mas Deno, ya nama pembeli alias adik dari bosku Deni namanya Deno. Ramadhan yang dua minggu awal pertama kali aku berada di kota ini sangat asing dan terasa menyedihkan untukku, kini terasa menyenangkan karena ada keseruan dari Mas Deno dan kawan-kawan yang lain karena kami sudah akrab.
Esok hari adalah hari raya idul fitri, hari kemenangan bagi seluruh umat islam di bumi. Aku memang biasa mudik saat sudah mepet lebaran seperti sekarang ini, karena jarak tempat bekerjaku ini hanya berkisar tiga jam perjalanan jika naik bus.
Seperti bulan-bulan ramadhan sebelumnya, Si Bos menemuiku untuk memberikan gaji sekaligus THR dan memberitahu berapa hari aku diijinkan libur lebaran. Beliau datang bersama Mas Deno yang wajahnya nampak berseri-seri dengan senyum merekah membuat jantungku sedikit dag dig dug melihatnya. Perasaan apa ini..
Setelah memberikan gajiku Bos Deni juga mengatakan jika beliau ingin bersilaturahmi ke kediaman orangtuaku. Katanya sudah tiga tahun aku bekerja padanya, tapi beliau belum pernah bertegur sapa dengan orangtuaku. Tentu saja aku mengiyakan karena silaturahmi itu kan baik.
Hari raya ke empat adalah hari yang katanya Bos Deni dan juga Mas Deno akan bersilaturahmi ke rumah orangtuaku. Dengan menyiapkan makanan, juga masakan khas hari raya untuk memyambut tamu orang kota kata ibu. Padahalkan emang biasanya begitu kalau pas hari lebaran.
Tepat jam 9 pagi, nampak sebuah mobil hitam memasuki halaman rumahku. Ibu keluar untuk menyambut tamunya, tangannya yang basah karena habis mencuci kubis langsung di lap di gamisnya karena saking gugupnya.
"Lah ibu kenapa segirang itu," batinku
Mataku membulat sempurna manakala melihat Bos Deni datang lengkap beserta anak istrinya, tapi bukan itu yang membuatku kaget. Melainkan ada satu mobil lagi yang datang menampakkan wajah familiar dari dalamnya. Mas Deno yang keluar dari mobil bagian kemudi langsung berlari ke belakang untuk membuka pintu. Aku sedikit ternganga melihat Mas Deno menggandeng lengan kedua orangtuanya.
"Kenapa mereka nggak bilang kalau mau dateng sama Pakde Bude," batinku menelan ludah.
Aku memanggil orangtua Mas Deno dengan sebutan pakde dan bude karena aku juga lumayan kenal akrab dengan mereka karena sering ke masjid.
"Assalamu'alaikum.." ucap tamu kami serempak.
Kami menjawab 'waalaikum salam' tak kalah kompak pula.
Setelah lumayan puas berbasa basi, kini suasana yang semula riuh dengan obrolan dan tawa menjadi hening seketika manakala Pakde bicara dengan raut wajah seriusnya.
"Ehem, mohon perhatiannya sebentar.."
Kami semua memfokuskan padangan pada beliau, "pertama-tama maksud kedatangan kami kemari untuk bersilaturahmi."
"Dan kedua kami juga memiliki tujuan tertentu,"
Aku mengerutkan kening dan masih setia diam menyimak.
"Ini anak saya yang kedua, Deno." Lanjut Pakde menepuk pundak Mas Denonyang ada di samping kanannya, sedangkan Bude di samping kiri beliau.
"Dia ingin bertaaruf secara serius dengan Nak Dina," Pakde melihat kearahku dan Mas Deno secara beegantian, lalu beliau melanjutkan.
"Tapi sepertinya mereka sudah akrab, sebaiknya kita lanjutkan ke tahap selanjutnya saja."
"Maksudnya tahap selanjutnya itu apa," lagi-lagi aku hanya bisa bertanya dalam hati.
"Saya ingin melamar putri Anda Dina untuk putra kedua saya, Deno. Apakah Nak Dina menerima Deno?"
Aku mengerjapkan mataku berkali-kali, merasa tak percaya dengan kalimat yang baru saja aku dengar. Apakah ini mimpi, sepertinya bukan karena aku sedang terjaga.
"Din, gimana? Kamu terima nggak lamaran Nak Deno?" Tanya Bapak menyadarkan aku kalaulah semua ini memang nyata.
Kulirik sekilas wajah Mas Deno yang nampak harap-harap cemas. Sangat terlihat kekhawatirannya karena dahinya sangat berkeringat.
Aku memantapkan hati dan berdoa pada Sang Pencipta hati, semoga semua ini karena Ilahi.
"Bismillahhirrohmanirrohiim...." gumamku
"Saya terima," ucapku sambil mengangguk mantap.
Dapat kutangkap raut kelegaan dari wajah lelaki yang semula sangat tegang di hadapanku yang hanya terhalang meja kecil tempat cemilan berada.
"Alhamdulillah.." seru semua orang yang ada.
Lalu kedua orangtua kami segera mencari hari baik untuk segera melangsungkan pernikahan kami berdua. Bukan karena kami yang sudah ngebet nikah atau takut kami akan berbuat hal-hal yang mengkhawatirkan. Tapi karena suatu niat yang baik lebih baik segera dilaksanakan katanya. Dan kami hanya bisa menurut saja.
Du minggu kedepan adalah haei yang di sepakati oleh kedua belah pihak. Jujur kami berdua terkejut tapi juga ada rasa bahagia terselip. Jika secepatini, mungkin ramadhan tahun depan sudah akan ada anggota keluarga baru dalam keluarga kami. Amin Allohumma Amin.
Siapa yang akan menyangka bahwa ramadhanku adalah pembawa jodohku.