Masih pagi ibu sudah meminta tolong ini dan itu tetapi tetap saja aku mangkir dari perintah ibu, lebih memilih ponselku dari pagi hingga malam keluar hanya kalau lagi makan atau minum.
Ibu tak banyak bicara lagi dan membiarkan aku begitu saja hingga di suatu hari ibu mendatangiku di kamar.
"Hari ini Ibu akan ke rumah Nenek selama dua minggu dan maaf Ibu juga belum memasak ataupun bersih-bersih tetapi masih ada sayur kemarin, mie dan telur nanti bisa, 'kan bikin sendiri?" tanya ibu sembari mengecup keningku dan berangkat tetapi aku masih sibuk dengan ponselku dan hanya menjawab seperlunya saja.
"Ya,Bu." Hanya itu dan kembali melanjutkan gameku.
Sehari, dua hari hingga seminggu aku merasa nyaman tinggal di rumah sendiri sebebas-bebasnya tanpa berpikir untuk bersih-bersih rumah.
Hingga pada akhirnya semua persediaan makanan habis bajuku tinggal sepasang yang kupakai saja dan akhirnya mau tidak mau aku mulai beberes sembari terus mengomel.
"Huuffff ... andaikan semua peralatan di rumah ini dan perabot dirumah ini bisa bicara dan bergerak sendiri mungkin aku tinggal duduk memerintah," ucapku sembari melempar baju kotor dimesin cuci
"Jangan melemparku atau membating taruh pelan-pelan, beruntung aku masih mau kau pakai mencium bau tubuhmu sungguh aku ingin muntah," ucap beberapa baju secara bersamaan.
Aku masih belum percaya dengan apa yang kudengar seperti sulap dan sihir ternyata kata-kata yang
kuucapkan begitu mujarab sehingga semua perabot bisa berbicara.
"Ayo, cepat isi airnya di sini aku hanya bisa berbicara tak bisa bergerak, cepat ... aku segera ingin menghilangkan bau tubuhmu," kembali baju-baju ini bersuara.
Setelah mengisi air dan sabun aku memutar mesin cuci ini. "Mesin cuci berputar dengan lembut ya, agar kainku tak terkoyak, wih ... kini kainku mulai wangi."
Aku masih terbengong mendengar suara ini. Hingga aku mendengar suara berisik di wastafel belakang.
"Cepat cuci aku! Lihatlah,badanku lengket dan sebagian lagi sudah ada belatungnya, hey ... cepat cuci aku!" teriak piring dan gelas di wastafel belakang.
Kini aku kembali mencuci piring piring ini. "Ternyata kau gadis yang sangat jorok lihat kau sudah membuatku kotor dan menimbulkan bau bilas aku dua kali kalau tidak aku akan terus meronta," ucap piring dan gelas bersamaan.
Semua sudah selesai. "Hey, lihatlah bekas sabunmu masih menempel di sini, cuci aku dan lap bersih jika tidak aku akan menuntut dan berteriak memanggilmu."
Aku dengan cemberut membersihkan washtafel. "Jangan cemberut itu tanda tidak ikhlas," kembali benda ini berceloteh.
Baru aku melangkah ke luar terdengar lagi suara sapu di dapur.
"Hey,mau kemana coba lihat kau telah mengotori lantainya. Ayo, bersihkan! Bersihkan!" teriak sapu ini.
Akhirnya aku pun menyapu semua lantai rumah.
"Jangan kasar-kasar menggunakan aku, aku akan mogok enggak mau kau pakai," ujar sapu.
"Huuufff, rewel," ucapku sembari meletakkan sapu ini asal.
"Hey... hey, hey, hey." Kembali sapu memanggilku. "Letakkan aku dengan baik dan pada posisi tadi!" teriak sang sapu.
Kini dengan bersungut aku menaruhnya lagi ke posisi awal.
Menuju ruang tengah kulihat rice cookker kutergeletak begitu saja terdengar suara orang muntah tetapi tak ada orang.
"Hey... hey, tolong bersihkan aku lihat disini baunya sangat tidak sedap dan huek ... huek." Kembali terdengar mengeluarkan suara.
Dengan sedikit geram aku menuju meja makan dan melihat rice cookker saat aku melongok ke dalam seketika perutku mual.
"Hueek ... huek." Dengan segera aku bawa ke wastafel dan mencucinya hingga bersih karena nasi nya sudah basi menguning berjamur dan keluar belatung.
kini tanpa di minta dua kali aku segera membersihkan wastafel hingga kulap bersih. Setelah mencuci wastafel selesai kini giliran mesin cuci berteriak.
"Hey ... keluarkan dia dari sini supaya aku tak berat lagi. hey ...." Suara mesin cuci. Segera aku mengeluarkan baju baju itu dan segera menjemurnya.
Semua sudah selesai hingga adzan dhuhur terdengar dan suara suara itu kembali ramai berteriak ini dan itu hingga membuat kepalaku pusing.
"Diam!" teriakku kencang.
"Ya, mulai hari ini aku tak akan malas lagi aku berjanji tetapi aku mohon kalian diam dan jangan bersuara lagi!" teriakku kencang.
Setelah semua terdiam kini aku mengingat ibu tangisku pecah seketika. "Bu maaf, maafkan aku akhirnya aku sadar Bu." Di sela-sela tangisku.
END