"Bangun Rea, sudah sore. Buruan shalat ashar terus pergi ke Mesjid, ada pesantren kilat kata pak RT." Bu Minah terlihat menggoyang-goyangkan tubuh Rea, anak gadisnya yang berusia empat belas tahun.
"Iya, Mak." Rea mengucek matanya seraya turun dari tempat tidur.
"Elu pan udah beranjak remaja, jangan tiduran mulu. Ngga bae, puasa bukan untuk bermalas-malasan. Bulan puasa entu bulan berkah, bulan buat nyari pahala," cerocos Bu Minah.
"Iya, Mak," kata Rea seraya masuk ke dalam kamar mandi.
Melihat anaknya yang masuk ke dalam kamar mandi, bu Minah terlihat menyiapkan baju muslim untuk putrinya tersebut.
Lima belas menit kemudian, Rea keluar dari kamar mandi. Dia sudah terlihat segar dan juga wangi. Bu Minah menyuruh Rea untuk memakai baju dan juga melaksanakan shalat ashar, Rea menurut.
"Emangnya di sana Rea belajar apa aja si, Mak?" tanya Rea.
"Kaya biasanya, memperdalam ilmu agama. Cuma tahun ini ada yang beda, katanya mau belajar ngaji lagam juga," kata Bi Minah.
"Waah, asik dong ya? Bisa belajar ngaji sambil dilaguin," kata Rea.
"Iya, bener. Elu pan artis kamar mandi, pasti kalau ngaji lagam paling bagus," kata Bu Minah.
"Iya, Mak! Kalau begitu aku berangkat," kata Rea
"Ya," jawab Bu Minah.
Setelah mengucapkan salam, Rea berangkat menuju Masjid sesuai dengan keinginan ibunya.
Ya, walaupun Rea terkesan malas dan juga jarang bergaul dengan orang lain, namun jika Ibunya sudah berkata apa pun, akan Rea turuti.
Karena hanya Ibunyalah yang dia punya, hanya bu Minah yang selalu menyayanginya dan bekerja keras untuk menghidupinya.
"Assalamualaikum," ucap salam Rea ketika masuk ke dalam Masjid.
Semua orang yang ada di Masjid langsung menyahuti ucapan salam dari Rea.
Saat Rea duduk di dalam Masjid, ternyata di sana sudah banyak orang yang seusia dengan dirinya. Mereka sudah bersiap dengan Al-Quran dan juga Alkitab di tangannya.
Ada juga yang membawa buku dan pulpen untuk mencatat apa yang akan dikatakan oleh Ustadz nantinya.
Tak lama kemudian, seorang Ustaz yang terlihat masih muda masuk ke dalam Masjid tersebut dan langsung memulai acara pesantren kilat yang diadakan di kampung Selar.
Setengah jam Ustaz tersebut menyampaikan berbagai macam pengetahuan tentang bulan Ramadan, semua orang yang ada di sana nampak mencatat poin-poin penting yang disampaikan oleh Ustad tersebut.
Namun, ada yang Rea anehkan, setiap kali sebelum Ustad itu berucap tentang apa itu bulan Ramadhan dia selalu saja melihat dahulu buku yang ia pegang.
Ustad yang berada di hadapannya itu, terlihat belum menghapal apa pun. Dia lebih terkesan mencontek semua yang ada di buku tersebut.
"Baiklah, cukup sampai di sini dulu acara pesantren kilat kita. Besok kita sambung lagi, Ass--"
"Tunggu dulu Pak Ustad, kata emak selain berbagi ilmu tentang bulan Ramadan, kita juga akan diajarkan untuk ngaji lagam. Lah, belon belajar ngaji kok udah mau bubar jalan aja?" protes Rea.
"Eh, itu. Anu, belajar ngaji lagamnya besok aja. Pak Ustadznya buru-buru," kata Pak Ustadz.
"Ngga bisa gitu dong Pak Ustadz, lagian ini baru setengah jam. Masa udah mau bubar aja?" protes Rea.
"Saya belum siap, besok saja. Soalnya saya harus pergi, urgent!" tukas Pak Ustadz.
Mendengar apa yang dikatakan oleh pak ustaz tersebut, mata Rea nampak memicing. Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh pak ustad, Rea nampak maju dan mengambil buku yang dipegang oleh Pak Ustadz tersebut.
Mendapat perlakuan seperti itu dari Rea, pak Ustadz tersebut nampak kebingungan. Bahkan keringat dingin mulai mengucur di dahinya.
"Saya curiga kalau Bapak adalah Udtadz gadungan," kata Rea.
Sontak semua orang yang ada di sana langsung kaget dengan apa yang diucapkan oleh Rea, di dalam Masjid tersebut nampak riuh dengan orang-orang yang mulai berspekulasi.
Pak Ustadz tampan dan muda tersebut terlihat semakin cemas, bahkan wajahnya terlihat memucat.
*/*
🍎🍎🍎🍎🍎🍎End🍎🍎🍎🍎🍎🍎