Dring! dring! driing....
Oh Tuhan ada apa dengan bunyi alarm itu! benar-benar sangat menggangguku. aku membuka mataku, dan sial! ada apa dengan jamnya?
aku telat, dengan cepat aku bergegas menuju kamar mandi, bersiap-siap untuk berangkat kerja. dengan terburu-buru aku menuruni tangga, " Hey Zara apa yang kau lakukan? hati-hati Nak, kamu bisa jatuh." ya, aku memang paling ahli membuat mamaku khawatir dengan tingkahku. dengan cepat aku meyerumput segelas susu dari atas meja makan, "maaf mam, Zara buru-buru. Zara duluan ya, assalamualaikum!!"
"waalaikumshlam, dasar anak itu."
"papa heran deh sama dia, kenapa juga dia sibuk-sibuk kerja ditempat orang lain sementara papanya sendiri punya perusahaan yang besar!!" heran Tuan Hanafi.
"ya udahlah Pa, mungkin Zara mau cari pengalaman."
Diperjalanan, tiba-tiba Desi, rekan kerjaku mengirimiku sebuah pesan singkat.
_loe dimana kampret? loe pastinya ingat 'kan, kalau hari ini CEO baru kita bakal datang ke kantor untuk pertama kalinya!!_
Gila! aku bahkan lupa kalau hari ini adalah hari pertama CEO baru kami datang kekantor, dan pastinya dia akan ke devisi kami.
Aku mempercepat laju mobilku, hingga akhirnya tanpa sengaja aku melihat seorang pria berdiri diluar mobilnya, sepertinya mobil pria itu sedang mogok. kira-kira siapa ya dia? entahlah, yang jelas dia cukup rapi dan tampan. akupun memilih menghentikan mobilku, dan keluar untuk bertanya padanya.
"permisi!"
"iya."
Buset dah, ni orang tampan benar sumpah.
"Saya rasa mobil Bapak mogok, jadi--"
belum sempat aku melanjutkan ucapanku, dan dengan songongnya dia langsung masuk dan duduk di kursi mobilku. Oh Tuhan, kegilaan macam apa ini?
"ayo cepatlah, apa kau ingin tetap berdiri disana hah?"
tampan di iya, songongnya juga banget. didalam mobil tak ada perbincangan diantara kami, dia sibuk dengan ponselnya, sementara aku sibuk melirik arlojiku, aku tau pasti hari ini aku akan terlambat kekantor, tapi tidak papalah, sesekali bantuin orang ganteng, sapa tau jodoh. Masyaallah, apa yang kau pikirkan Zara??
"Bapak mau kemana?" tanyaku datar.
"Luzy Company," ucapnya lebih datar.
What? Luzy Company? itu adalah tempatku bekerja, apa dia juga bekerja disana? tapi baru kali ini aku melihatnya. ya baguslah, setidaknya tujuan kami sama.
akhirnya kami tiba di depan Luzy Company, "sudah sampai Pak," ucapku sopan. pria itu keluar dari mobil tanpa menoleh ke arah ku, tangannya terus saja menempel pada ponselnya itu. gila, gak ada terima- terima kasihnya gitu? akupun ikut turun dari mobilku, dan aku melihat di berbalik badan.
"Hey Kau--"
"iya, saya pak."
"terimakasih, kau benar-benar menolongku hari ini." dia bahkan menyunggingkan sebuah senyuman, Oh Tuhan, bagaimana aku harus mengontrol detak jantungku sekarang?
dengan hati yang masih berbunga-bunga akupun masuk kekantor, dan aku melihat semua anggota departemenku sudah berbaris rapi.
"apa yang kalian lakukan?" tanyaku tak mengerti.
Dan anehnya mereka seolah mengisyaratkan padaku bahwa ada seseorang dibelakangku, tentunya aku menoleh, dan apa-apaan ini?
"kemarilah, dia CEO kita!!" dengan cepat Desi menarik tanganku supaya aku ikut berbaris seperti mereka, dan membungkukkan badan.
jadi, yang kutolong tadi... adalah Bosku?
Ya, akhirnya hari ini berlalu begitu saja. Akupun pulang kerumah dengan keadaan yang lumayan kacau, aku lelah. "Assalamualaikum!" ucapku, "waalaikumsalam," jawab mamaku segera membukakan pintu. "Sayang, ayo! ada yang sedang menunggumu Nak."
Ada apa lagi ini, entahlah, aku rasa ini adalah hariku. dengan wajah malas akupun mengikuti ajakan mama.
"Mereka datang untuk melihat calon menantu mereka Zara."
WHATT??? calon menantu apanya? mama bahkan tidak pernah mengatakan ini sebelumnya padaku. aku langsung melihat siapa kiranya yang dimaksud mamaku, "Kemarilah Zara," suruh papa.
Dan di- dia adalah, " Zean Cristy Fansuri, dia yang akan menjadi calon suamimu Sayang," ujar mama terlihat sangat bahagia.
Dengan perasaan yang super-duper kacau akupun duduk disebelah Zean, dia menatapku, dan mengulurkan tangannya. " senang bertemu denganmu Zara."ujarnya dengan manis. "ya, aku juga senang bertemu denganmu Zean," jawabku yang setengah sadar. "Aku harap hubungan kita akan membawa kebaikan dalam keluarga kita." Ya, akupun berharap seperti itu.
"sebenarnya kalian itu memang sudah kami jodohkan sejak kalian kecil Zara, lagipula orang tua kamu sama kami itu juga sudah lama berteman Nak. jadi kami rasa memang kalian itu cocok."
ya, cocok. mereka bahkan tidak pernah bertanya tentang pendapatku sebelumnya, bagaimana mereka bisa seenaknya dengan masa depanku? Tapi sepertinya biasa, orang-orang bilang orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya.
tentu aku terkejut dengan keadaan ini, tentu saja sangat terkejut. namun tidak mengapa karna selain terkejut aku juga merasa bahagia, seolah hari ini aku mendapatkan kenaikan gaji 3 kali lipat, Oh Tuhan, betapa beruntungnya diriku ini!!
"jadi bagaimana Zean, apa kau setuju dengan pernikahan ini Nak?" tanya papaku.
Dan Zean tersenyum, " aku bahkan sudah setuju semenjak pertama kali melihatnya tadi paman."
sejak pertama melihatnya? Oh tuhan jadi dia sudah tau soal perjodohan ini sejak awal? dan dia juga sudah tau kalau aku bekerja di perusahaan yang sama dengannya?
ya, mungkin saja ini sebuah kebetulan, tapi aku yakin kalau kebetulanpun tidak akan datang dalam sehari secara beruntun, aku rasa inilah takdir yang diciptakan sang Illahi untukku dan Zean.
"Lalu bagaimana denganmu Zara?" tanya papa Zean.
dan tanpa sadar akupun menjawab, " Tentu Zara bersedia Tante."
entah apa yang merasukiku, sehingga aku menyetujui pernikahan ini? intinya aku memang telah jatuh cinta padanya semenjak pandangan pertama kami.