Aku berlari dengan semangat menuju pohon besar. Tempat favoritku untuk beberapa bulan terakhir. Batang pohon itu sangat besar, daun-daunnya bisa menjadi payung sempurna, membuat siapa pun yang duduk di sana merasa teduh. Aroma khas rumput dan tanah tercium begitu aku mendekati pohon.
Sepucuk surat sudah tergeletak rapi di bawah pohon. Berwarna putih dan dilipat sedemikian rupa. Aku membuka surat dengan antusias. Tulisan buruk rupa segera muncul. Mataku dibuat sakit dan perih melihatnya. Meski tulisannya sulit dibaca, aku tetap bisa memahami isi surat tersebut, hasil dari beberapa bulan membaca tulisan buruk rupa ini.
“Hei, Tania. Abi memiliki kabar baik. Bagaimana kalau 1 Februari kita bertemu? Di tempat biasa Abi meletakkan surat ini. Nanti, jika kita bertemu, kita bisa membahas hal-hal menarik. Seperti betapa jeleknya tulisan Abi dan betapa hebatnya Tania menghina tulisan Abi. Harusnya Tania mengakui betapa indahnya tulisan Abi.
Abi sangat senang bisa bertemu dengan Tania! Begitu pula dengan Tania ‘kan? Abi tahu kalau Tania pasti sangat penasaran dengan wajah tampan Abi. Abi juga tahu kalau betapa merindukannya Abi
untuk Tania.
Jangan lupa dandan dengan cantik ya! Abi juga akan terlihat tampan untuk Tania!
Abigael.”
Wajahku memerah. Semangat meluap-luap di tubuhku. Akhirnya aku bisa bertemu dengan Abigael. Teman yang kutemukan di bawah pohon ini. Melalui surat putih, kami saling bercerita dan memberi kabar. Saling tidak mengenal dan sama-sama tidak memiliki teman.
Aku mengeluarkan secarik kertas dan pulpen. Bersandarkan pohon besar, aku menatap langit yang tertutup awan. Setelah memilih kata-kata yang tepat, aku mulai menulis.
“Hai, Abi. Seperti biasa kamu layaknya anak kecil yang akan menurut kalau kuberi permen. Atau sebenarnya kamu ini anak berumur 10 tahun?
Aku sangat senang mendengar kabar baik itu. Aku juga sangat menantikan kita bertemu dan mari kita bahas hal-hal menarik. Akan kubuktikan kalau tulisanmu itu buruk rupa!
Asal kamu tahu saja ya, aku sama sekali tidak merindukanmu. Untuk apa merindukan anak kecil sepertimu? Tanpa berdandan pun aku tetap terlihat cantik. Harusnya kamu yang berusaha terlihat keren agar aku menyukaimu, Abi.
Sampai bertemu esok, Abigael.
Tania.”
Aku melipat kertas tersebut serapi mungkin. Lantas meletakkannya di bawah pohon, tempat yang sama saat aku menemukan surat dari Abigael. Setelah memastikan surat tersebut tidak terbang ditiup angin, aku beranjak pergi. Berharap akan menemukan jawaban sore nanti.
Sesuai dugaanku. Aku menemukan surat dari Abigael sorenya. Ketika matahari bersinar lembut dan mulai turun. Tanpa basa-basi, aku segera membuka surat tersebut. Tulisan buruk rupa entah mengapa terlihat rapi. Tetapi tetap saja mataku perih melihatnya.
“Hallo, Tania. Apa kabarmu? Di sini Abi baik-baik saja. Maaf Abi memberimu kabar buruk hari ini. Besok, 1 Februari Abi tidak bisa bertemu denganmu. Abi memiliki urusan penting di hari esok. Bagaimana kalau hari lain? Seperti tanggal 3 Februari? Abi yakin hari itu Abi bisa menemuimu.
Maaf sudah memberimu kabar buruk Tania.
Abi.”
Aku terdiam. Sepertinya masalah yang dihadapi Abigael cukup sulit. Bukan hanya membatalkan pertemuan kami. Ia juga mengubah gaya bicaranya. Abi yang layaknya anak kecil itu berubah menjadi Abi yang cukup dewasa, meski ia masih memanggil dirinya sendiri Abi.
Surat ini terlalu pendek. Aku menggenggam erat kertas tersebut. Aku kembali mengeluarkan secarik kertas dan pulpen.
“Hai, Abi. Tidak apa kalau besok kita tidak bisa bertemu. Padahal aku cukup menantikan pertemuan kita esok. Hanya untuk aku menghina tulisanmu yang buruk rupa itu.
Namun, sekarang tulisanmu mulai rapi ya. Sebagai teman yang berhasil membaca tulisan buruk rupamu, aku bangga. Bisa melihat perkembanganmu dari tulisan buruk rupa ke tulisan layak dibaca.
Untuk saat ini, aku hanya akan menantikan pertemuan kita tanggal 3 Februari. Jangan membatalkannya!
Tania.”
Aku menghela napas. Suasana hatiku seketika muram. Langit terlihat mendung, seakan memahami perasaanku saat ini. Sebelum hujan, aku buru-buru meletakkan suratku di bawah sana. Aku membuat semacam tenda kecil dari ranting pohon dan daun, agar surat itu tidak basah. Tak lupa, aku juga memberi alas. Bisa gawat jika Abigael mengira aku tidak membalas suratnya.
Waktu itu aku pernah lupa membalas surat dari Abigael. Esoknya ia tidak membalas suratku untuk beberapa hari. Aku tertawa kecil, sifat Abigael selalu berhasil membuatku tertawa di saat suasana hatiku muram. Akan lebih baik jika orangnya saat ini berada di sisiku.
***
Entah apa yang membuatku ke pohon besar ini lagi. Aku juga memakai baju terbaikku saat ini. Suratku masih ada di sana. Terlihat menyedihkan karena terkena hujan. Tentu saja Abigael tidak akan datang demi membaca suratku malam-malam, hujan juga turun dengan deras.
Aku mengeluarkan secarik kertas, surat balasan yang sudah kusiapkan karena tahu hal ini akan terjadi. Ketika aku hendak meletakkan surat, aku menemukan sosok di balik pohon. Dengan cepat aku melihat sosok tersebut. Pemuda dengan rambut hitam legam berdiri diam. Kedua tangannya menutup wajah, tampak seperti anak kecil yang bersembunyi.
“Maaf,” ucapku pelan. Pemuda itu diam lantas mengintip dari sela-sela jarinya. Bola mata hitamnya berkilau ditimpa matahari pagi. Aku menelengkan kepala. “Siapa ya?”
“Tania?” katanya sambil membuka wajahnya dari jari-jari tangan. Bola mata hitam itu terlihat lebih jelas sekarang. Bibir tipisnya tampak pucat, begitu pula dengan wajah tampannya. Alis tebalnya tertaut, heran melihatku. “Tania ‘kan?”
Aku mengangguk perlahan. Pemuda itu, yang aku yakini sebagai Abigael, tersenyum. Seketika wajahnya terlihat ramah dan bersemangat. Syukurlah, karena tadi aku sempat melihat wajahnya lelah, ditambah dengan wajah pucatnya, sekilas ia tampak sakit.
Abigael menghela napas lalu duduk bersandarkan pohon besar. Ia melihatku yang hanya diam berdiri, menatapnya. Abigael tersenyum jahil. “Kaget ya lihat ketampanan Abi?” ucapnya. “Jangan ditatap terus dong. Nanti Abi terbakar.”
Aku melotot ke arah Abigael dan duduk di sebelahnya. Kami sama-sama menatap langit biru. Ternyata Abigael menetapi janjinya. Ia tetap datang ke sini meski memiliki urusan penting. Mungkin wajah lelahnya tadi karena memikirkan urusan penting tersebut.
“Akhirnya Abi datang ke sini juga. Awalnya Abi kira Abi tidak akan bisa datang ke sini.” Aku menatap Abigael. Wajahnya dari samping benar-benar menarik. Seolah Abigael adalah pahatan paling sempurna yang pernah dibuat. Atau bisa jadi ia adalah manusia yang ada di dalam lukisan. Abigael memiliki tubuh tinggi nan ramping. Kulitnya seputih Putri Salju. Aku tersenyum, senang karena Abigael ternyata memiliki umur yang sama denganku. Jujur saja, aku mengira dia adalah bocah berumur 10 tahun.
Sesuai dugaan, kami membahas hal-hal menarik. Membahas betapa jeleknya tulisan Abigael dan betapa hebatnya aku dalam menghina. Abigael juga bercerita banyak tentang dirinya. Abigael memiliki satu saudara laki-laki, lebih tua dari Abigael. Kedua orang tua Abigael sangat sayang padanya.
Aku juga menceritakan tentang diriku. Namun, Abigael tiba-tiba berdiri. Tatapannya fokus menatap langit biru. Aku ikut berdiri, cemas apa yang akan terjadi atau apa yang dilihat Abigael. Ketika aku hendak bertanya. Abigael menghela napas. Tatapannya seketika berubah. Putus asa dan sedih.
Abigael menatapku lamat-lamat. “Abi sudah harus pergi Tania,” ujar Abigael dengan nada bergetar. Ia tersenyum pahit. “Abi sangat senang bisa bertemu Tania. Abi tidak akan melupakan Tania sampai kapanpun.”
Aku menelan ludah. Apa yang terjadi? Kenapa Abigael mendadak seperti ini? Ke mana dirinya yang layaknya anak kecil? Kenapa saat ini ia menatapku dengan tatapan sendu? Aku memejamkan mata, berusaha menenangkan diri dan memahami apa yang terjadi. Saat aku membuka mata, Abigael telah hilang di hadapanku.
“Selamat tinggal Tania.”
Suara Abigael terdengar pelan di telingaku lantas suara itu menghilang. Namun, aku berpikir kalau ia buru-buru pulang karena urusan pentingnya itu. Atau ia sedang ingin buang air besar dan segera pergi ke hutan atau ke rumahnya. Atau ada hal lain yang lebih mendesak saat ini.
Aku mengeluarkan secarik kertas kosong beserta pulpen. Mengisinya dengan tulisan terima kasih atas hari ini dan berharap bisa bertemu kembali.
“Hei, Abi. Terima kasih karena telah menepati janjimu. Terima kasih karena telah mengisi hariku dengan bertemu denganmu.
Tania.”
Sebelum pergi, aku menatap pohon besar. Membayangkan diriku dan Abigael duduk di sana tadi. Membayangkan pertemanan kami yang sudah mulai sejak beberapa bulan lalu. Ketika pulang nanti, aku ingin membaca kembali surat-surat dari Abigael. Jika kami bertemu lagi, akan asyik jika membahas masa lalu.
Seperti biasanya, sore aku kembali ke pohon besar. Berharap menemukan surat balasan. Tetapi yang aku temui bukan surat. Melainkan seseorang yang duduk di bawah pohon. Aku segera berlari ke arah sana lalu berteriak, “Abi!”
Orang itu menatapku. Bola matanya cokelat tua, serasi dengan rambutnya. Langkah kakiku terhenti, sadar kalau orang itu bukan Abigael atau orang kukenal. Orang tersebut berdiri, kemudian berlari ke arahku dengan cepat.
Lumayan mirip Abigael, tapi tampak lebih tua. Mungkin dia kakaknya Abigael? Bisa saja karena mereka lumayan mirip. Aku tersenyum manis. “Halo, kamu kakaknya Abigael?”
Kakak Abigael memegang bahuku erat. Di tangan kanannya terdapat surat. Itu suratku. “Kamu bertemu Abigael? Kamu Tania ‘kan?”
Aku mengangguk untuk dua pertanyaan itu. Kakak Abigael melotot ke arahku, tampak sangat terkejut. “Jangan bohong!”
“Aku tidak bohong. Aku benar-benar bertemu dengan Abigael hari ini di sini."
Kakak Abigael menghela napas kasar. Ia merapikan rambutnya yang berantakan. Tampangnya kusut. Berkali-kali ia meniup kedua tangannya.
“Maafkan aku Tania.” Aku menatap kakak Abigael tapi ia menunduk dan tidak mau melihat wajahku. “Surat waktu itu, yang berisi membatalkan pertemuan. Surat itu dariku. Surat itu aku yang menulisnya.”
Aku tertegun. Pantas saja tulisannya terlihat sedikit rapi. Gaya bicaranya pun berbeda. Aku sangat kenal tulisan dan gaya bicara Abigael, karena dia sangat khas. Yang tidak kupaham adalah kenapa kakak Abigael menulis surat balasan itu? Kenapa tidak Abigael saja?
“Karena Abigael tidak bisa menulis surat itu lagi.” Tubuhku tersentak. Napasku segera tertahan. “Abigael telah pergi tepat ia menulis surat jawaban untukmu. Setelah itu, aku yang membawa suratnya kemari. Aku juga yang ....”
Aku tidak bisa mendengar kata-kata dari kakak Abigael. Otakku berusaha memahami apa yang terjadi. Berusaha mengartikan kalau kalimat itu memiliki arti lain. Bisa saja Abigael tidak menulisnya karena ia pergi ke pasar bukan? Atau tangannya keseleo atau apalah yang bisa membuang kenyataan menyakitkan itu.
Seketika aku mengerti. Apa yang dimaksud dengan ucapan Abigael tadi pagi. Aku benar-benar tidak menyangka, ia tetap menepati janjinya meski ia tak bisa menepati janji. Abigael tetap datang menemuiku padahal ia tak bisa menemuiku.