aku sudah menyukainya sejak pertama melihatnya. tiga tahun yang lalu saat kami bertemu di aula kampus, tidak sengaja menabraknya dan dia dengan sedikit membungkuk sebagai tanda permohonan maaf kemudian berlalu bersama seorang temannya.
Senyum yang ia berikan saat setelah mengabrol menganai hal tadi dengan temannya, benar benar candu. senyum tulus nan hangat, namun ada kesan jahil didalamnya
setelah kejadian itu, ternyata dengan segala keberuntungan yang kumiliki kami berada di kelas yang sama, menjadi teman bahkan bisa dibilang sahabat.
"aku ingin lebih"
Dia Tuan Muda Namikaze dan seorang temannya, Nara Shikamaru. Kami selalu bersama sepanjang berada di area kampus. semua orang sudah mengenal kami sebagai tiga sahabat yang benar benar lengket
sikap perhatian dan juga lelucon yang sering Naru berikan seringkali membuatku salah paham. apa dia juga memiliki perasaan padaku sama seperti aku ke dia? atau dia bersikap seperti ini pada semua orang?
Beberapa kali Naru memang dekat dengan perempuan, dan itu membuatku tidak nyaman. lebih tepatnya tidak suka. aku tidak bisa mengontrol raut wajahku saat merasakan sesuatu, itu salah satu kelemahan yang kumiliki
Sama seperti saat tahun kedua di kampus, tidak seperti biasanya, Naru lebih dulu mendekati perempuan, namanya Sakura. saat itu Naru seperti benar benar jatuh cinta pada wanita itu. ia melakukan segala cara, membelikan apa yang Sakura inginkan, mengantarnya kemana mana seperti seorang babu. bodoh memang
apasih bagusnya perempuan itu?
"kau mau Kemana?" ucapku pada Naru yang buru buru mengambil tasnya
"ke Mall" buru buru
"Sakura lagi?" sautku dengan nada tidak suka
"ehem. katanya dia harus membeli hadiah untuk temannya"
aku tidak suka
"kau kenapa Sas?" Seru Shikamaru
"tidak apa apa. aku pulang duluan" aku pergi begitu saja.
aku pulang dengan wajah masam sambil sedikit menghentakkan kakiku di lantai saat berjalan. Naruto dan Shikamaru hanya saling melihat lalu mengangkat bahunya
untungnya saat itu Sakura ketahuan sering membohongi Naruto dengan pergi berkencan dengan beberapa pria kaya lainnya. Naru tidak lagi menemuinya sejak saat itu. dan sampai saat ini ia tidak pernah lagi dekat dengan wanita. yeeyy
"mau kerumahku? hari ini orang tuaku tidak pulang" saut Naru tiba tiba
aku yang sudah memasukkan semua buku kedalam tas dan bersiap untuk pulang, langsung mengembangkan senyum sumringah
"mau mau" tersenyum mengangguk
"setiap kali diajak Naru, kau selalu sesenang itu" ucap Shika sedikit tersenyum
aku hanya tersenyum kemudian berdiri
Naru mengusap pucuk kepalaku, lebih ke mengacak acak rambutku. dia sering melakukan itu dengan tangan besarnya yang bisa langsung membuat rambutku seperti seseorang yang baru bangun tidur.
untung suka
"kau suka makanan dirumahku kan?" tanya nya
"heheheee"
kami bertiga menuju kerumah besar kediaman Namikaze. sesampainya disana, kami disambut seoarang pelayan
"sudah pulang Tuan muda" membungkuk singkat
Naruto hanya mengangguk sambil tersenyum
ia selalu melakukan itu
haaahh aku suka senyum itu
"mau dibikinkan apa?" tanya mba pelayan dengan ramah
sebelum Naru menjawab, aku lebih dulu menyela
"tidak perlu, aku yang akan membuat makanan" Naru dan Shika melihatku
sebenarnya ini bukan pertama kali, sudah cukup sering aku memakai dapur disini untuk membuat beberapa cemilan atau bahkan lauk untuk makan
"terserah tuan Sasuke saja" ucap Naru menirukan nada bicara mba pelayan
aku tersenyum senang
Naru dan Shika hanya duduk di sofa dengan masing masing handphone ditangannya. sibuk dengan dunianya sendiri
sementara aku masih berkutat dengan dapur, berusaha membuka tutup botol acar sialan ini.
apa pabrik pembuat acar memang sengaja ingin menyusahkan kami para pelanggan?
kenapa setiap membuka botol selalu sesulit ini
melihatku masih berusaha membuka tutupnya dengan tangan yang sudah merah, Naru menyimpan hapenya, berjalan kearahku dan mengambil botol acar ditanganku
"masih tidak bisa membukanya sendiri?" tanya nya
aku mengangguk dengan sedikit cemberut
"klop"
dan botol acar itu terbuka dengan sekali percobaan. Naru kemudian meletakkannya
"tanganmu tidak apa apa?" dia memegang tanganku dan melihat jari jariku yang memerah
"ti-tidak apa apa, aku ini kuat hehee" huh jantungku berdegup kencang
"kau ini... lain kali kalau tidak bisa langsung minta tolong saja"
hal seperti ini yang membuatku makin menyukai Naru. dia benar benar pandai membuatku orang berdebar
dia tidak bersikap selembut ini dengan shikamaru, tapi dia selalu memperlakukan aku seperti barang yang harus dijaga. sangat perhatian
apa karna aku memang terliha lemah?
yah ku akui memang laki laki pendek dan kulit pucat sepertiku terlihat lemah, tapi tidak selamanya ko, walau aku memang belum bisa buka tutup botol acar
"Burger chicken cheese udah jadiii" kataku semangat sambil membawa tiga porsi burger yang aku susah payah buat. kejunya yang meleleh benar benar menggiurkan
Naru suka Keju btw
"makasih Sas" ucap Shika
"makasih Baby mungil" Naru menambahkan dengan nada bercanda
blusss
aku suka itu, lanjutkan
"sama sama Tuan Muda" sautku bergurau berusaha menutupi rasa senang
kalian lihat itu? aku jatuh cinta stadium akhir pada pria pirang satu ini. rasanya dianggap sahabat oleh orang yang disukai memang bikin cenat cenut, tapi tidak apa apa. setidaknya ini membuat kami jadi lebih dekat
aku ingin sekali mengatakan pada Naru kalau aku menyukainya, tapi takutnya itu akan membuat hubungan kami merenggang atau bahkan menjauh. pasalnya selama ini yang kutahu kalau Naru itu straight. sakit sekali jika harus melihat kenyataan pahit satu ini
cukup aku selalu berada di samping Naru dan tidak dibatasi oleh siapapun itu sudah cukup
"ahh kenyang" saut Shika memegang perutnya
"secepat itu? kau baru makan satu burger" ucapku heran
"ehem... tadi dikampus sempat makan dulu"
"ouuu"
Shikamaru izin ke kamar duluan. dia sering seperti itu, sangat ketagihan tidur. kamar tamu yang memang biasa dia pakai untuk tidur saat berada disini
"masih lapar?" tanya Naru padaku
"iya"
"mau es krim? kurasa masih ada beberapa bungkus di kulkas" tawarnya
"iya mau lah"
Naru berdiri, berjalan menuju lemari es dan mengambil beberapa bungkus es krim vanila
"Nih" meletakkan di meja
"banyak banget" ucapku senang
"kau memang makan sebanyak ini kan?" terbiasa
"hehe"
Aku makan satu, kemudian dua, kemudian bungkus ketiga. sangat bersemangat hingga tidak memperhatikan kalau di sudut bibirku belepotan dengan eskrim vanila ini
"kalau makan itu pelan pelan" Naru mengusap sudut bibirku dengan jempolnya
"eh?" aku tergagu, Naru memengang bibirku?
"Kenapa?" tanya Naru
"emm ngga, udah ah aku kenyang"
kurasa aku sudah bisa terbang setinggi 5 meter saking senangnya
"wajah kamu merah. kedinginan?" Dengan tanpa bersalah dia kembali menyentuh wajahku. apa dia kira aku sekuat itu menahan perasaan?
"aku nggapapa..." berdiri
Naruto hanya menatapku
"yasudah"
dua jam setelahnya. sudah pukul 9 malam
kurasa aku sedikit mengantuk
biasnga jam segini aku belum tidur, tapi mungkin karena kekenyangan, mataku terasa berat
"Naru, aku ngantuk" celetukku
"ya tidur lah"
"dimana?"
Naru tampak berfikir. ia pikir meminta sasuke tidur dengan Shika bukan ide bagus. Temannya yang satu itu tidak suka diganggu saat tidur
"di kamarku saja" Ucap Naru