Dimalam gelap, seorang gadis berlari ketakutan menerjang badai hujan di malam itu. Ia tidak peduli tubuhnya basah kuyub dan menggigil kedinginan. Gadis itu hanya ingin jiwanya selamat dari para preman yang mengejar dirinya.
"TANGKAP DIA!!"
Kembali Rara berlari sejauh mungkin agar tidak tertangkap oleh mereka ketika ia terlihat oleh salah satu anggota preman itu.
"Aaaggh....."
"Brukk...!"
Gadis itu berlari namun tersandung batu, hingga tubuhnya jatuh menghantam tanah yang basah.
"Mau kemana kamu cantik?!"
"LEPASKAN AKU!! TOLONG...?!!"
"Berteriaklah semau mu, tidak akan ada yang mendengar teriakan mu disini, hehehe..."
"Semakin dilihat ternyata gadis ini cantik luar biasa bos!"
"Bius dia!!"
"Aarrgh tidak, JANGAN!!"
Perlahan gerakan Rara melemah. Ia pun pingsan tak berdaya.
"Persiapkan dia, bawa ke gudang itu aku mau mencicipinya!"
"Baik bos!"
Tubuh Rara digotong bagai karung. Ia pun diletakkan dilantai dingin di dekat api yang menyala dalam drum besi.
"Hahaha...., cantik sangat cantik. Dengan tubuhmu aku akan menganggap semua hutang ayahmu menjadi lunas"
Namanya Rara, ia menjadi bulan bulanan para preman yang menagih utang ayahnya.
"Uugh...!"
Rara mencoba menyadarkan dirinya.
"Wah, hebat juga kau gadis cantik. Setelah dibius pun kau masih mampu untuk sadar"
Seseorang tolong aku! Tolong...! Hiks... (batin Rara).
Gadis itu hanya mampu berteriak dalam hatinya. Tubuhnya dingin dan mulai gemetar. Pengaruh obat bius masih begitu kuat hingga ia tak mampu mengerakkan seluruh anggota tubuhnya.
Bos preman itu mulai menikmati tubuh Rara dengan meninggalkan banyak jejak kissmark disana.
"Hahaha...!"
Tertawa puas, preman itu bersiap melepas pakaiannya.
Tidak!! Kumohon lepaskan aku?! Hiks... (batin Rara).
Air mata Rara menetes tanpa suara. Sekujur tubuhnya terus gemetar tiada henti.
"BUUGH!!"
Sebuah bogem mentah mendarat tepat di belakang kepalanya.
"AARGHH !!"
Preman itu pun terhuyung, namun teriakkannya mengudang anak buahnya untuk datang melihatnya.
"Berisik!! Tidur ku terganggu kan jadinya?!"
"BANG*AT!! SIAPA KAU?!"
Lelaki itu mengorek telinganya setelah dikatai oleh bos preman tadi.
"Aku? Anggap saja malaikat pencabut nyawa untuk mu!!"
"Cuih!! Baji**an keparat?! SERANG DIA!!"
"BUGH... BRAAK, PRANGG!!"
Perkelahianmu tak dapat dihindarkan. Satu banding 9 bukan lawan yang adil namun dapat dikalahkan oleh lelaki itu hanya dalam 10 menit.
"CRAAATT!!"
"AAARGGH, AMPUN... AMPUN!!"
Bos preman itu berteriak minta ampun setelah tangannya sebelah kanan ditebas sampai putus.
"Terlambat!!"
"CRAATT!! BUGH!!"
Seketika tubuh preman itu ambruk tanpa kepala.
Rara yang samar-samar menyaksikan pertumpahan darah itu merinding disekujur tubuhnya dan terus gemetar ketakutan. Ia semakin takut mana kala lelaki yang bertato naga di tangannya itu mulai berjalan perlahan mendekatinya.
Oh tidak!! Iblis ini kenapa dia mendekatiku? Jangan... jangan bunuh aku!! (batin Rara).
Rara hanya mampu sedikit mengerakkan kepalanya kesamping untuk mengatakan kepada lelaki itu untuk tidak mendekatinya.
"Bugh!"
Punggung Rara di pukul sedikit keras oleh lelaki itu, hingga gadis itu tidak sadarkan diri.
*****
Hangat dan terasa berat. Tubuh Rara sulit di gerakkan setelah ia membuka matanya lebar-lebar.
Deg, kembali jantung berdetak dengan cepat saat mengetahui ada seseorang dibelakangnya yang sedang memeluk tubuhnya di atas ranjang yang sama.
Sekujur tubuh Rara mulai gemetar dan mengeluarkan keringat dingin karena rasa takutnya.
Ia teringat dengan jelas tato di tangan lelaki brutal tadi malam yang kini sedang dijadikan alas kepalanya.
"Hmm... kau sudah bangun?"
Tubuh Rara yang gemetar ternyata membangunkan naga yang sedang tidur. Gadis itu tidak berani bicara sepatah katapun dan kaku ditempatnya.
Lelaki itu bangun lalu membalikan tubuh Rara hingga menghadap ke arahnya.
Mata Rara terbelalak melihat tato yang tidak hanya ditangan lelaki itu, tetapi juga hampir menutup punggung pemuda itu.
"Bangunlah... kau pasti kelaparan setelah kejadian tadi malam. Sepertinya anak buah ku sudah menyiapkan sarapan untuk kita"
Tadi malam?! (batin Rara).
Rara kembali mengingat apa yang terjadi tadi malam dengan kesadaran penuh. Perlahan ia melihat tanda di sekujur tubuhnya.
"Aaaaghh!!"
Dara setengah berteriak melihat sekujur tubuhnya penuh luka dan tanda kissmark disana. Apa yang ia lihat tadi malam bukanlah mimpi semata. Gadis itu tampak ketakutan dan menjadi linglung.
Nyaris tak percaya dengan apa yang sudah ia alami, Rara mencoba membersihkan dirinya di kamar mandi. Begitu lama ia terus berulang-ulang menggosok seluruh tubuhnya sambil menangis terisak. Rara merasa jijik tiap kali ia teringat preman itu menciumi seluruh tubuhnya.
"Tok... tok.. tok!!"
Ketukan di pintu menghentikan aksi Rara membersihkan dirinya.
"Segera keluar atau aku dobrak pintu ini?!"
Ucapan lelaki itu membuat Rara gemetar. Ia tahu lelaki itu tidak main-main dengan ucapannya. Gadis itu pun keluar dengan masih menggunakan handuk.
"Pakai itu?!"
Tunjuk lelaki itu pada sebuah dress dengan dagunya setelah melihat Rara berjalan pelan hendak meraih bajunya tadi malam.
Gugup dan gemetar gadis itu meraih baju yang ia maksud. Perlahan ia melirik ke arah lelaki yang sedang fokus memainkan ponsel miliknya.
"Tak perlu malu, ganti saja disitu. Aku sudah melihat seluruh tubuhmu ketika mengobati luka mu"
Hah? Seluruh tubuh ku?! (batin Rara)
Terkejut sekaligus malu Rara mendengar ucapan lelaki itu hingga wajahnya memerah. Mau tidak mau Rara pun mengenakan dress itu di balik punggung lelaki itu.
Siapa dia, dan dari mana dia datang malam itu masih menyisakan tanda tanya di pikiran Rara.
Gadis itu dengan susah payah mencoba menelan sarapan paginya dengan perasaan takut yang tiada kunjung hilang. Dari malam hingga ke pagi ia terus bersama pembunuh berdarah dingin yang ada di hadapannya itu.
Bagai cerita di film-film lelaki itu membunuh dengan keji tanpa ampun. Dan kejadian itu dilihat langsung oleh Rara dengan kedua matanya meski ia setengah sadar.
"Mulai sekarang kau kekasih ku. Jangan melawan dan turuti semua kata-kata ku!!"
Oh Tuhan, derita apa lagi ini? keluar dari kandang singa aku masuk ke lubang neraka dengan iblis didalamnya! Kapan aku setuju untuk jadi kekasihnya?! (batin Rara)
Gemetar kembali Rara ketakutan setelah ia cukup tenang saat lelaki itu hendak melangkahkan kakinya meninggalkan Rara yang masih sarapan.
"Gadis sebatang kara, dengan sejumlah utang yang di tinggalkan oleh ayah tiri. Kau mau kembali lagi menghadapi kehidupanmu yang memuakkan atau kau ingin tinggal bersamaku dan jadi kekasihku?! Hidup mu ku jamin aman dan kau bisa menikmati kemewahan apa pun yang kau mau"
"A..aaku ingin pu..pulang ke ru.. mah kontrakkan... ku"
Dengan mengumpulkan segenap keberanian, Rara mencoba mengatakan isi hatinya. Ia tidak mau berurusan apalagi terus bertemu pembunuh berdarah dingin itu.
"Baiklah..."
Rara terdiam dan terkejut mendengar ucapan lelaki itu.
Hah? Semudah itu?Tenyata aku cukup mengatakan isi hatiku dan dia mengiyakannya?! (batin Rara)
Nyaris tak percaya lelaki itu mengabulkan keinginan Rara semudah itu. Siang itu juga Rara di antar kembali ke kontrakannya.
*****
Rara memutuskan mencari pekerjaan baru. Tempat lamanya bekerja telah memecat dirinya karena bolos selama seminggu.
Ya, gadis itu mengurung diri didalam kontrakannya selama semiggu karena rasa takut yang masih menganhantui. Setelah dompetnya menipis, mau tidak mau gadis itu keluar rumah mencari pekerjaan untuk menyambung hidupnya.
Hingga larut malam Rara masih saja menapaki jalan menuju pulang kerumahnya.
Sukurlah aku dapat pekerjaan menjaga toko, paling tidak disitu ada cctv yang mengawasi, jadi tidak perlu takut seseorang mencoba berbuat jahat padaku. (batin Rara)
"Hai cantik? Wah, kenapa jalan sendirian? Perlu aku temani?"
"Ayolah... kita temani ya?!"
Dua lelaki datang mendekati Rara. Gadis itu ketakutan dan gemetar sambil melangkah perlahan menjauh dari mereka.
Oh Tuhan... cobaan apalagi ini?!(batin Rara)
Belum hilang ketakutan dan traumanya kemarin, kini ada lagi orang yang mencoba menggangunya.
"Jangan mendekat!!"
Pinta Rara sambil memeluk tubuhnya sendiri.
"Ayolah cantik?! Hehehe...."
Tiba-tiba tangan Rara di sambar dan tarik dengan paksa oleh salah seorangnya.
"Tidak!! Jangan!! Lepaskan!! Hiks..."
Lelaki itu tidak peduli dengan ucapan Rara yang meminta melepaskan tangannya sambil menangis.
"Bugh!! Krakk Ktekk!!!"
"AAARGGHH!!"
"Kau dengar tidak kekasihku meminta untuk di lepaskan?!"
Entah datang dari mana sang iblis tiba-tiba muncul menendang tubuh pemuda yang memegang tangan Rara, lalu mematahkan tangan lelaki itu.
Seketika Rara memucat demikian pula lelaki satunya yang tadi menggodanya.
Lelaki itu bergerak perlahan lalu kemudian lari tunggang langgang setelah melihat temannya tak lagi bergerak.
"Ka... kau mematahkan tangannya!"
Dengan gemetar Rara bersuara.
"Bukankah kau sudah pernah menyaksikan yang lebih dari ini sayang? Sudahlah..dan berhenti berpikir untuk tinggal jauh dariku. Ayo kita tinggal bersama"
Ajakkan lelaki itu tidak dapat Rara tolak. Menolak mungkin saja ia akan kehilangan nyawanya. Namun sampai kini gadis itu tidak tahu siapa nama lelaki yang mengaku sebagai kekasihnya. Ia hanya memberi gelar pangeran neraka kerana wajah tampannya dan kebrutalan perbuatannya.
End.