Namaku Fanny umurku 20 tahun, kata orang-orang aku gadis yang humoris. Ya, mungkin karena namaku makanya aku jadi gadis yang hobinya melawak tapi gak jadi pelawak juga sih. Aku juga punya hobi mukulin orang, eitss tapi orang yang jahat yang suka menindas orang yang lemah. Sejak kecil aku sudah belajar ilmu bela diri untuk jaga-jaga saja, karena dunia ini semakin dipenuhi orang yang berbuat nekad.
Aku bekerja di sebuah restoran di ibu kota, aku datang sendiri mengadu nasib berharap agar kehidupanku lebih baik lagi. Ijazahku yang hanya sampai SMA membuatku hanya bisa menjadi pelayan restoran dan berharap bisa naik pangkat jadi aku selalu gigih dalam bekerja.
Waktu sudah menunjukan pukul 10 malam, saatnya untuk aku pulang dan beristirahat di kostan yang jaraknya cukup dekat dengan restoran. aku hanya butuh waktu 25 menit untuk sampai di kostan.
"wouy, gue balik duluan yaah.." teriak Erik teman kerjaku.
"iya, baek-baek lu di jalan jangan ketemu anjing tetangga lagi." sahutku yang tengah menutup pintu loker.
"ishhh ya jangan dong, cape gue lari-larian mulu balik kerja." semua teman kerjaku sudah ku anggap seperti keluarga sendiri karena kita sama-sama anak rantau, jadi kita sudah tidak merasa canggung lagi.
Setelah selesai akupun bergegas keluar restoran dan berjalan pulang sendirian. Ya sendirian, sepertinya sudah biasa aku berjalan di tengah malam sendirian lagipula kostan ku lumayan dekat agar menghemat biaya hidup di ibukota juga. haha
di tengah perjalanan, aku mendengar suara yang tidak asing lagi di telinga "apaan tuh, kayak orang lagi berantem" akupun segera mencari sumber suara dan ternyata benar, terlihat seorang Pria tengah di pukuli oleh tiga orang pria berbadan besar.
"waduh... badan gede tapi beraninya maen kroyokan"
"heh siapa lo jangan ikut campur urusan kita, mending lo cabut dari sini sebelum gue cabut nyawa lo."
"iihhh serem amat bang ngomong nya. maju sini kalo berani."
"anak kecil nantangin kita nih, ayo maju."
"hiyyaaaaa....."
dan terjadilah baku hantam, mereka semua menyerangku sedangkan pria yang tadi di keroyok rupanya sedang menghubungi bantuan dengan sisa tenaga yang dimilikinya.
"bentar bang bentar, gue mau napas dulu." seru ku mengangkat lima jari dan mengatur napas
"udah deh lo, balik ajah sono daripada lo mati muda disini." ledek pria berbadan besar itu.
"hidup mati seseorang udah di atur bang, dan gue gak mau mati di tangan penjahat kayak kalian. hiyyaaa..."
baku hantam kembali dimulai, aku tidak mau menyerah begitu saja melihat satu orang yang lemah di hakimi tiga orang sekaligus. ku keluarkan semua jurus-jurus yang sudah ku pelajari sejak kecil membuat mereka babak belur, ada yang kepalanya kepentok tembok, ada yang nyangkut di pohon dan sisa satu lagi yang masih berdiri dengan sedikit sempoyongan sedangkan aku sibuk dengan mengatur napas.
apa kabar pria yang tadi di keroyok, ku lirik dia ternyata tengah bersandar menahan sakitnya. aku berjalan hendak menolongnya tiba-tiba dia berteriak "awas di belakangmu" ternyata si abang yang sempoyongan tadi memukulkan balok kayu ke pundak ku "aduuh..." aku mencoba bertahan dan ku hajar si abang tadi tapi setelah dia tersungkur, akupun ikut terjatuh ke belakang dengan ribuan bintang di atas kepalaku.
Ketika aku tersadar, aku tengah berbaring di brankar rumah sakit tanpa ada siapapun yang bisa ku tanyai. Hingga akhirnya suster datang menghampiri "sus, kenapa saya bisa ada disini?" tanyaku bingung karena seingatku aku tengah melawan pria berbadan besar, apa aku cuma mimpi. Tapi melihat luka di sekujur tubuhku, sepertinya ini beneran.
"semalam kamu di bawa oleh pengawal tuan Fabian kesini" jelas suster sambil mengatur infusan.
"apa, Fabian? kayak pernah denger tuh nama"
Tak lama berselang Erik dan teman-teman yang lain datang menjenguk ku. "waduuuh... jagoan kita nihh babak belur begini, tapi untung yaa lu masih bisa napas pagi ini" ledek Erik
"sialan lu doain gue mati apa"
tiba-tiba datang seorang pria tampan dengan perban di dahi dan memar di wajahnya menghampiriku. "terimakasih sudah menolong saya tadi malam" serunya
"oh iya sama-sama, itu udah kewajiban kita sesama manusia harus tolong menolong." jawabku
"eh bos, bos udah mendingan bos?" tanya Erik
"apa? bos? jadi dia itu bos kita?" tanyaku terkejut
"iya, ini bos kita. yang selama ini lu liat itu asisten nya bos." jelas Erik
"ohh maaf bos, saya tidak tahu."
"ga apa-apa santai saja, saya suka sama perempuan pemberani seperti kamu. kamu cocoknya jadi bodyguard saya, apa kamu mau?"
"waduhh, di kira mau di jadiin istrinya." batinku..
-TAMAT-