"Hmm.. Ibu, hari ini aku kerja lembur. Mall tempatku bekerja akan kedatangan anak Presdir kami.
Orang-orang mengatakan dia akan menjadi CEO selanjutnya di Mall tempatku bekerja.
Apa? Ibu bertanya apa dia tampan? Mana aku tahu, bu! Sudah dulu, daaaa~"
Sena menghela nafas pelan, ia segera mematikan telepon sebelum ibunya bertanya yang tidak-tidak. Ia heran, memang apa urusannya jika CEO baru di perusahannya tampan atau tidak. Toh dia tidak akan berhubungan lamgsung dengan eksekutif perusahannya. Ia hanya kasir biasa, mustahil juga CEO lewat dan menyapanya.
Sena memutuskan mampir ke sebuah kedai Burger, meski di tengah kesibukannya, ia tidak pernah sekalipun melewatkan makan makanan kesukannya. Kedai yang ia kunjungi berada dekat perusahaanya, tak jarang hampir setiap jam istirahat kerja ia selalu mampir ke sana.
Sena mulai memasuki Counter, ia tidak sengaja melihat pemuda yang hampir setiap hari ia temui duduk di meja yang sama. Yap! Meja didekat jendela, dan menghadap langsung ke jalan raya didepannya.
"Hah! Percuma dia tampan. Apa dia tidak bekerja?! Setiap hari aku lihat dia makan Burger di tempat dan jam yang sama!
Tapi, jika di lihat dari wajahnya yang imut, apa jangan-jangan dia masih SMA?! Aish! Kenapa aku mengurusi orang lain sih! "
Sena melirik pria itu tanpa berkedip. Aneh juga kalau ada pemandangan bagus tapi tidak dinikmati. Jujur bagi Sena pria itu cukup tampan tapi lebih terkesan imut. Terutama kaca mata bulat yang selalu membingkai matanya, serta bagaimmana cara ia melahap burger porsi besar.
" Aish! Sena sadarlah! "
Sena akhirnya mendapat pesanan miliknya. Ia hendak mencari tempat kosong, tapi semua meja penuh kecuali kursi di samping pria tadi.
" Hah! Apa boleh buat. " Sena memutuskan untuk duduk di samping pria tadi.
" Permisi Dek, boleh kaka ikut duduk disini? " ucap Sena sopan. Namun pria tadi hanya celingukan, sambil menatap kiri kanan.
" Dek? " ucapnya sambil menujuk dirinya sendiri. Sena mengangguk cepat. Pria itu pun menggeser duduknya, membiarkan Sena menempati kursi yang kosong disebelahnya.
" Makasih ya, dek! "
Sena dan pria itu saling menikmati burger satu sama lain. Suasana kembali hening, hal itu membuat Sena sedikit kikuk. Untuk mencairkan suasana, Sena berniat bertanya beberapa hal hanya sekedar basa basi, setidaknya suasana tidak akan menjadi sesunyi ini.
" Sekolah dimana? Apa kau murid SMA di ujung jalan sini? " ucap Sena sok tahu.
" Tidak, aku tidak sedang sekolah. " ucapnya singkat sambil terus memakan Burgernya
" Jadi kau pengangguran, oops! " Sena keceplosan. Laki-laki itu hanya bengong karena ucapan Sena. Namun, sedetik kemudian ia langsung mengangguk pelan.
" Mungkin. Bisa dibilang begitu. " ucapnya ambigu.
" Kau juga bekerja di Mall MJ?!" sambungnya lagi. Mendengar hal itu, Sena sedikit kesal. Ia tumbuh di lingkungan disiplin, dan sangat mentoleril tata krama dalam bermasyarakat. Bagaimana mungkin pria yang terlihat jauh lebih muda darinya memanggil 'kau' tanpa embel-embel nona atau apa?!
Brak!
Sena menggebrak meja. "Hya! Kau bocah, kalau berbicara dengan orang yang lebih tua. Kau seharunya melakukanya dengan hormat. 'Kau' katamu? Wuah! Sebagai orang yang lebih tua, aku harus memberimu pelajaran!"
Gebrakan meja Sena membuat pria itu terkejut. Hal hasil, sebuah tomat ceri kecil yang menjadi isian Burger tertelan begitu saja.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk! " pria itu mulai memukul-mukul dadanya. Sena yang melihatnya mulai memasang wajah terkejut
" Hya! Kau kenapa?! "
" Kak! T- tolong! Uhuk! Uhuk! "
Pria itu tersedak tomat ceri. Sena yang selama sekolah pernah menjadi anggota PMR, langsung melakulan pertolongan pertama.
" Bertahanlah! "
Sena mulai membuat meja di sekitarnya menjauh. Dengan cepat ia berdiri tepat di belakang pria itu. Sena memeluk tubuh pria itu dari belakang, melingkarkan lengannya dan membentuk posisi genggaman tepat di hulu hati.
Sena mulai mengangkat tubuh pria yang lebih tinggi darinya. Membuat tubuhnya tergoncang ke atas, sambil mencoba menekan di area sekitar dadanya.
"Satu! Dua! Tiga! Hyaaaa! " Sena melakukan beberapa kali gerakan serupa. Tomat Ceri yang tertelan akhirnya keluar. Pria itu pun selamat.
Semua orang yang melihat adegan itu tampak tertegun cemas, setelah melihat Tomat keluar dari mulut pria itu. Semua orang langsung bertepuk tangan.
"Hah! Hah! Hah! Kau baik-baik saja?" Nafas Sena berburu, namun di tengah kondisi itu, ia masih sempat mengkhawatirkan pria didepannya.
"Uhuk! Uhuk! A- aku baik-baik saja. " jawabnya cepat meski masih terbatuk. Sena menghela nafas lega.
" Hah, syukurlah. Dan juga, maafkan kakak, karena ulahku kai sampai tersedak. " ucap Sena sambil menepuk bahu pria itu.
Pria itu tampak terkejut. Ia menggeleng pelan, sambil mulai mengemasi barang-barangnya. Semburat merah tampak jelas di kedua pipinya.
"T- tidak apa-apa. A- aku yang seharunya berterima kasih." ia pun segera beranjak pergi dari sana.
Namun, sebelum benar-benar pergi, ia menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Kakak! Kau wanita keren. Sampai jumpa besok ya! Pastikan jika bertemu denganku, kau harus menyapaku, okey! " ia pun bergegas pergi dari kedai.
" Hya! Kau! Sudah aku bilang sopanlah pada orang yang lebih tua! " Sena hanya menggelangkan kepalanya.
.......
Esok harinya. Semua pegawai Mall Mj mulai berkumpul untuk menyambut kedatangan CEO mereka yang baru. Mereka semua berbaris rapi di depan pintu Mall, termasuk Sena.
Sebuah mobil sport merah berhenti tepat didepan mereka. Semua orang membungkuk, memberi hormat.
"Selamat datang, Daepyo-nim! " ucap semua kompak.
Seorang pria tinggi, tampan dengan balutan setelan mewah berwarna putih keluar dari dalam mobil.
Sena melirik sekilas, tapi ia tidak berani terang-terangan menatap ke atas. Langkah CEO baru tedengar melewati Sena namun sekejap kemudian ia jutru berbalik dan memilih berdiri di depan Sena
"A-ada yang bisa saya bantu, Daepyo-nim (direktur)? "
Sena hanya bisa melirik sepatu sang bos tanpa berani mengangkat kepala.
" Bukankah sudah aku katakan, jika bertemu lagi denganku. Kau harus menyapaku. "
Sena menaikan alisnya heran. " Ya? Apa maksud- "
Sena memberanikan diri mengangkat kepalanya. Betapa terkejutnya ia, CEO yang tengah berdiri di hadapanya adalah pria yang kemarin ia selamatkan.
Tidak ada kesan imut, hanya dengan model rambut penampilan pria itu berubah. Kaca mata yang selalu membingkai matanya ia lepas. Rambut yang dulunya dibiarkan kedepan, tertata ke atas, memamerkan jidat paripurna. Saat ini, ia terlihat Sexy dengan dua kancing kemeja atasnya dibiarkan terbuka.
"Ah! Satu lagi, Nn. Sena. Di lihat dari umur kita, kau yang seharusnya memanggilku kakak. Asal kau tahu, aku dua tahun lebih tua darimu" ucapnya sambil tersenyum. Senyum yang sungguh menawan.
"Dan juga, aku belum memperkenalkan diriku dengan pantas. Namaku Suho, mulai saat ini aku adalah boss mu..... "
Jiwa Sena terangkat seketika. Kilasan kejadian kemarin berputar cepat di otaknya. Sena berteriak didepan Suho, dan mengatakan hal yang tidak-tidak. Bagaimana mungkin, CEO Mall tempatnya bekerja ia kira seorang pengangguran?! Di tambah kecerobohannya hingga membuat Tuan Suho tersedak!
" Aish! Mati aku. " gumam Sena pelan.
" Pak Kim! " ucap Suho memanggil sekretarisnya. Tatapan Suho tak lepas dari wajah Sena. Meskipun penampilan Sena tergolong biasa, tetap bisa menyihir Suho dengan pesonanya
" Mulai Besok, aku ingin Nn. Sena menjadi sekretaris pribadiku. Persiapkan semua apa yang ia butuhkan! "
" Baik pak! "
Sena hanya bisa memasang wajah cengo. Apa barusan Suho katakan, sekretaris? Dia?
" T- tapi Daepyo-nim... " Sena hendak menolak. Sena tahu, ia hanyalah karyawan biasa. Bagaimana bisa ia berada di sisi bosnya, tapi Suho segera memotong ucapannya
" Kenapa? Kau tidak mau dekat denganku? " Suho sedikit mempersempit jarak diantara mereka.
" Sena-ssi, alasan aku selalu berada di kedai burger setiap hari, di jam yang sama bukan karena aku pengangguran. Hanya saya aku perlu alasan untuk bertemu denganmu."
"Ya?!"
"Sena. Asal kau tahu, aku sudah suka kamu sejak pertama kali aku melihatmu, satu tahun lalu. Aku terlalu malu untuk memulai percakapan denganmu. Untuk itu, aku sealalu mengunjungi kedai Burger, untuk sekedar bertemu denganmu. " ucap Suho malu-malu.
Inilah awal hubungan romantis Sena dengan atasanya. Bos ganteng tapi pemalu. Cerita lucu yang berawal di kedai burger, membuat mereka tertarik satu sama lain dan berakhir menjadi pasangan sensasional. Sekretaris dan atasan.